Cerpen

Takut Mati Karena Aku

Selera akademisku sangat rendah, sepanjang hidupku dipenuhi pikiran umum yang selalu kuragu-ragukan kebenarannya, tapi mau buat apa lagi semua orang menyetujui dan aku harus berjalan sama dengan yang lainnya, tujuannya juga sama agar tidak terjadi apa-apa.
Selera humorku juga sangat rendah, sebagian orang menginginkanku jadi pelawak dan semua orang begitu menanti-natikan datangnya pelawak dan mengharapkan aku mampu jadi pelawak, tapi mau buat apa lagi aku juga bukan pelawak, lalu menurut kamu apa nggak lebih lucu lagi apabila aku mencoba melucu dan dipastikan nggak lucu, sampai-sampai asistant microsoft word tertawa memperhatikanku bukan karena lucu tapi malu-maluin.
Selera bermain musikku sangat tinggi dan kemudian membuatku ingin jadi penyanyi, aku menyanyikan lagu yang kuciptakan sendiri dan membuat band yang kubayangkan dapat sementereng kurt cobain, tapi setiap aku berjalan 5 langkah kutemui banyak sekali band yang nggak mau kalah dan lucunya lagi dapat kutemui disemua sudut jalan dengan mudah, lalu buat apa lagi aku membuat band semua bisa main band.
Selera menulisku juga sangat tinggi, aku membuat tulisan ini karena hasrat menulisku sangat tinggi sampai-sampai apapun yang kualami kujadikan puisi dan sampai detik ini aku masih berpuisi, tapi mau buat apa lagi semua orang juga tau kalo kehidupan ini adalah sebuah puisi dan semua orang dapat dengan mudah membuat puisi karena harus melawati kehidupan ini.
Selera makanku nggak jelas, badanku kurus kering dan pendek, aku makan bukan 3 kali sehari tapi sesuka perutku, kalo sehari lapar 7 kali mungkin aku bisa makan 7 kali sehari dan lucunya lagi makanku belum lengkap kalo nggak ada tuhan sembilan senti, aku memujanya melebihi masakan terlezat di seluruh dunia, banyak tulisan yang melarang dan mencoba menghentikan kebiasanku karena lebih banyak ruginya dari pada manfaatnya, tapi mau buat apa lagi syaraf otakku menyukainya.
Selera bekerjaku juga nggak jelas, aku kuliah 9 tahun dan masih menanti ijazah, semua orang dapat berpikir sederhana dan sama seperti orangtua mereka ”selesai kuliah menikah kemudian bangun rumah dan punya anak yang menanti dirumah setelah lelah seharian bekerja mencari nafkah” ah… begitu membosankan, lalu mau buat apa lagi aku tidak bisa berpikir sesederhana itu dan membuat orang disekitarku ingin mati karena aku tidak berbuat sesuatu dan sesuatu itu sesederhana itu.
Aku punya tahi lalat dipantat, menurut ramalan jawa hidupku selalu melarat dan ibuku juga punya keyakinan yang kuat, kalo hidupku akan selalu sehat tapi rejeki sulit didapat, lalu mau buat apa lagi dengan tahi lalat dipantat apakah pantat harus kutaruh di jidat.

Leave a Comment