Abstract
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang signifikan antara siswa yang diajar dengan menggunakan teknik Peer Editing dan Peer Feedback. Masalah dalam penelitian ini “Apakah ada perbedaan yang signifikan antara mereka yang diajar dengan PET dan PFT dan apakah efektif menggunakan PET dan PFT dalam menulis teks naratif?”. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode quasy-experimental. Sampel yang digunakan adalah total quota sampling. Sampel penelitian adalah dua kelas mahasiswa FKIP Universitas PGRI Palembang tahun akademik 2015/2016 dan 2016/2017 yang terdiri dari 100 mahasiswa. Untuk mengumpulkan data, penulis memberikan tes kepada kelompok eksperimen dan kontrol dan hasilnya diukur oleh para rater. Dalam menganalisis data, penulis menggunakan uji-t sampel berpasangan untuk membandingkan rata-rata kedua variabel dalam satu kelompok dan uji-t Independen digunakan untuk membandingkan post-test antara kedua kelompok. Hasil uji-t sampel berpasangan pada kelompok eksperimen dan kontrol menunjukkan bahwa nilai P-value adalah 0,000. Pada taraf signifikansi p > 0,05 untuk uji dua sisi. Artinya, penggunaan teknik Peer Editing dan Peer Feedback dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis teks naratif.
Introduction
Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang memiliki banyak keistimewaan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Inggris adalah bahasa utama di beberapa negara. Sedangkan di Indonesia, bahasa Inggris diajarkan sebagai bahasa asing. Bahasa Inggris memiliki empat keterampilan yang harus diajarkan oleh guru kepada siswanya. Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa selain menyimak, berbicara, dan membaca. Menulis memberikan kesempatan kepada pembelajar untuk mengungkapkan gagasan, pesan, dan pikirannya melalui huruf, kata, dan kalimat dalam bahasa Inggris. Menulis sepertinya sesuatu yang mudah, tetapi menulis yang baik membutuhkan pengetahuan, pemikiran yang logis, kemampuan berbahasa yang mumpuni, dan kemampuan komunikasi yang handal. Ini melibatkan banyak aspek bahasa seperti ide, kosa kata, tata bahasa, budaya, struktur kalimat, dan lain-lain. Menulis tidak hanya penting tetapi juga keterampilan paling sulit yang harus dikembangkan. Sulit bagi guru untuk mendorong kemampuan menulis dengan menilai upaya pertama siswa dalam menulis.
Mengungkapkan perasaan atau gagasan dalam bentuk tulisan bukanlah pekerjaan yang mudah karena siswa harus merangkai huruf menjadi kata, kalimat, paragraf, dan teks secara umum. Menulis adalah keterampilan yang dipelajari, bukan kemampuan alami. Hal itu membuat siswa takut untuk menulis. Setelah observasi siswa mengalami kelemahan dalam mengungkapkan ide dan membuat kalimat. Mereka menghadapi beberapa masalah dalam menulis, seperti kurangnya kosakata, struktur kalimat dan ide atau topik.
Permasalahan tersebut muncul pada mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Palembang. Penulis menemukan empat masalah yang dihadapi siswa dalam pembelajaran narasi, yaitu: 1) siswa memiliki masalah dalam istilah dalam pembelajaran penggunaan bahasa; 2) siswa memiliki kata kerja yang salah terutama dalam mengungkapkan tindakan lampau; 3) siswa juga memiliki kosa kata yang terbatas, mereka kurang menggunakan ide dalam mengungkapkan tulisan bahasa Inggris mereka; 4) teks tulisan naratif mereka memiliki organisasi yang buruk. Mereka menganggap menulis itu sulit; tentunya hal itu mempengaruhi situasi kelas dalam pembelajaran menulis bahasa Inggris.
Teks naratif digunakan secara luas dalam berbagai bentuk cerita hiburan, seperti dongeng, fabel, cerita rakyat, dan legenda. Dalam penelitian ini, penulis mengajarkan teks naratif, hal ini dikarenakan narasi sebagai cerita pengalaman manusia, sehingga siswa mudah menyusunnya. Menurut Richard dan Schmdit (2002), “Narasi adalah kisah tertulis atau lisan dari kisah nyata atau fiksi”. Dengan kata lain, narasi adalah teks yang menggambarkan peristiwa atau tindakan secara berurutan, (p.239).
Dalam penelitian ini, penulis memfokuskan pada mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Palembang untuk menggunakan Peer Editing Technique (PET) dan Peer Fedback Technique (PFT) dalam pengajaran menulis teks naratif. Menurut Oshima dan Hogue (2007), “Teknik Peer Editing adalah menulis komentar pada lembar kerja di kertas teman sekelas siswa sesuai arahan instruktur.” (hal.194 ). Lebih lanjut Galvis (2010) menyatakan bahwa peer editing merupakan kunci dari proses penulisan. Dalam proses ini siswa saling membacakan makalah dan saling memberikan umpan balik (p. 87 ) . Artinya, siswa saling memeriksa dan memberikan komentar secara tertulis kepada temannya. Itu bisa membantu mereka untuk mengetahui kesalahan atau poin dari tulisan itu sendiri.
Dengan kata lain Teknik Peer Editing diharapkan dapat memotivasi antara satu siswa dengan siswa lainnya untuk dapat saling merevisi tugas yang diberikan oleh guru. Asih (2014) menyatakan ada tiga langkah untuk peer editing yang baik yaitu: pujian, saran, dan koreksi. Pujian adalah yang pertama karena itu yang paling penting. Kedua, saran memberi siswa ide atau detail yang lebih spesifik yang membuat tulisan mereka lebih baik. Terakhir, koreksinya adalah editing spelling, grammar, punctuation dan mechanics (hal.3). Ini bermanfaat bagi penulisan dengan memberikan umpan balik dan saran yang bijaksana untuk perbaikan dan bermanfaat bagi editor dengan memberinya kesempatan untuk berlatih mengedit – langkah kunci dalam proses revisi.
Sedangkan Teknik Umpan Balik Peer adalah teknik dimana siswa mendorong untuk mengkritik dan memeriksa pekerjaan siswa lain untuk meningkatkan keterampilan menulis dengan memberikan umpan balik dan pendapat atas pekerjaan temannya termasuk persentase dan memberikan saran . Sementara Moore dan Teather (2013) menguraikan proses umpan balik yang melibatkan beberapa kegiatan terkait yang memfasilitasi pemahaman siswa tentang kriteria penilaian pekerjaan mereka, mengembangkan kapasitas mereka untuk mengidentifikasi tingkat pencapaian saat ini dan yang diinginkan, menghasilkan informasi tentang cara menutup kesenjangan apa pun, dan memberi mereka kesempatan untuk menggunakan informasi itu untuk benar-benar menutup kesenjangan (p. 197). Pelajar adalah agen dalam umpan balik teman sebaya, yang menyediakan landasan bagi pelajar untuk saling membangun pembelajaran satu sama lain. Terkait dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Nahdi (2011) berjudul “Meningkatkan Kemampuan Menulis Siswa dengan Menggunakan Teknik Peer Editing”. Peneliti menemukan bahwa ada peningkatan dalam prestasi menulis siswa. Penelitian kedua dilakukan oleh Asih (2014) berjudul “Pengajaran Menulis Paragraf Deskriptif dengan Teknik Peer Editing pada Siswa Kelas VIII SMP Swa Dharma Tahun Pelajaran 2013/2014”. Peneliti mengklaim bahwa ada peningkatan dalam prestasi menulis siswa.
Sehubungan dengan penelitian di atas, penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan berikut. Apakah ada perbedaan yang efektif dalam teks naratif mahasiswa program penelitian Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Palembang antara sebelum dan sesudah mereka diajar dengan menggunakan Teknik Peer Editing dan Peer Feedback? Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Penggunaan Teknik Peer Editing dan Peer Feedback Dalam Menulis Narasi Teks Pada Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Palembang”.
Masalah penelitian dirumuskan dalam pertanyaan berikut:
- “Apakah efektif menggunakan Teknik Peer Editing dalam Menulis Teks Narasi pada Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Palembang?”.
- “Efektifkah Penggunaan Teknik Umpan Balik dalam Menulis Teks Narasi pada Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Palembang?”.
- Apakah ada perbedaan yang signifikan antara mereka yang diajarkan Teknik Penyuntingan Teman dan mereka yang diajarkan Teknik Umpan Balik Teman?
Methods
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode quasy -experimental, non-equivalent (pre-test and post-test) control group design. Dalam desain ini, kelompok eksperimen A dan kelompok kontrol B dipilih tanpa pengacakan (Cresswel , 2014:172). Kedua kelompok diberikan pre-test dan post-test. Kelompok kontrol adalah kelompok Peer Editing dan kelompok eksperimen adalah kelompok Feedback.
Pre-test dan post test diberikan kepada siswa untuk kelompok Peer Editing dan kelompok Peer Feedback. Siswa diberikan tes yang berkaitan dengan materi. Pada langkah ini, siswa telah menulis paragraf narasi dengan kata-kata mereka sendiri khususnya yang bertemakan legenda. Post-test dilakukan untuk mengetahui kemajuan siswa yang menginformasikan tentang revisi dan penilaian tes.
Fraenk e l dan wallen (1993:36) menjelaskan, variabel adalah konsep kata benda yang merupakan singkatan dari variabel dalam kelas objek. Ada dua macam variabel dalam penelitian ini. Mereka adalah variabel independen dan variabel dependen. Variabel bebas adalah dugaan penyebab dalam penelitian eksperimen. Semua variabel lain yang mungkin berdampak pada variabel dependen dikendalikan. Nilai-nilai variabel independen berada di bawah kendali eksperimen. Ketika variabel dependen adalah efek yang diduga dalam penelitian eksperimental. Nilai variabel dependen tergantung pada variabel lain, variabel independen. Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah Peer Editing dan Peer Feedback Teknik untuk mempengaruhi variabel dependen. Sedangkan variabel terikatnya adalah nilai siswa dalam menulis yang diukur melalui tes menulis.
Polit dan Hungler (1999 , p . 37) mengacu pada populasi sebagai agregat atau totalitas semua objek, subjek atau anggota yang sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan . Populasi penelitian adalah mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Palembang tahun ajaran 2016/2017 yang berjumlah 34 mahasiswa. Kelompok kontrol penelitian ini adalah semester IV yang terdiri dari 17 mahasiswa. Ketika, kelompok eksperimen penelitian ini adalah semester enam, terdiri dari 17 mahasiswa.
Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan cara total quota sampling. Sampel yang dipilih dan dipilih adalah dua kelas siswa fakultas keguruan dan ilmu pendidikan PGRI Akademi Universitas Palembang tahun ajaran 2017/2018 yang terdiri dari 34 mahasiswa yaitu 17 untuk kelompok eksperimen dan 17 untuk kelompok kontrol.
Menurut Brown (2007), “Tes adalah metode sederhana untuk mengukur kemampuan, pengetahuan, atau kinerja seseorang dalam domain tertentu” (hal. 3). Dalam penelitian ini penulis memberikan tes kepada kelompok eksperimen dan kontrol. Selanjutnya, penulis menggunakan tes tertulis untuk mengukur kemampuan siswa dalam membuat paragraf naratif dan hasilnya diukur oleh rater.
Untuk menganalisis data, skor siswa yang diperoleh pada pre test dan post test, tes dapat diterapkan untuk mengetahui apakah penerapan Peer Editing and Feedback Technique dalam menulis khususnya teks naratif efektif atau tidak.
Penulis menggunakan uji-t sampel berpasangan untuk membandingkan rata-rata dua variabel dalam satu kelompok dan Uji-T Independen digunakan untuk membandingkan uji akhir antara kedua kelompok. sampel, untuk mengetahui: 1) apakah ada perbedaan yang signifikan antara pretest dan posttest, 2) apakah siswa telah membuat kemajuan sebagai hasil dari menggunakan Peer Editing dan Umpan Balik Teknik, dalam kelompok sampel t-test berpasangan menghitung menggunakan pre dan skor rata-rata posttest kemudian dilanjutkan dengan membandingkan kedua kelompok dengan menggunakan Independent t-test.
Setelah mengumpulkan hasil pre test dan post test yang diperoleh siswa , penulis mulai menganalisis nilai siswa dengan menggunakan matched t-test kemudian dilanjutkan dengan Independent t-test untuk membandingkan post test dalam eksperimen dan kelompok kontrol.
Results and Discussion
Analisis Deskriptif Kelompok Eksperimen
Hasil pretest kelompok eksperimen menunjukkan skor minimal 40, skor maksimal 79, skor rata-rata 58,94 dan skor standar deviasi 7,192. Sementara itu, hasil posttest menunjukkan bahwa skor minimal adalah 46, skor maksimal adalah 76, skor rata-rata adalah 59,46 dan skor standar deviasi adalah 6,393. Analisis deskriptif kelompok eksperimen ditunjukkan pada Table 1.
Sementara itu, hasil pretest kelompok eksperimen menunjukkan tidak ada siswa yang mencapai tingkat sangat baik dan baik sebanyak 14 siswa (77,7%), pada tingkat cukup sebanyak 4 siswa (22,3%), pada tingkat kurang tidak ada siswa (0%). .
Selanjutnya hasil posttest kelompok eksperimen menunjukkan bahwa 18 siswa (100%) berada pada tingkat sangat baik, tidak ada siswa pada tingkat baik (0%), cukup baik dan kurang baik. Distribusi skor kelompok eksperimen ditunjukkan pada Table 2 dan histogram 1 (Figure 1.Figure 2)
Figure 1.
Figure 2.
| N | Jangkauan | Minimum | Maksimum | Jumlah | Berarti | St. Deviasi | ||
| Statistik | Statistik | Statistik | Statistik | Statistik | Statistik | St. Kesalahan | Statistic | |
| Pretespft | 50 | 22 | 40 | 79 | 1331 | 58.94 | 1.310 | 5.557 |
| Postespft | 50 | 14 | 46 | 76 | 1684 | 59.46 | .991 | 4.204 |
| N yang valid (menurut daftar) | 50 | |||||||
| Interval Skor | Kategori | Pretes | Posttest | ||
| Frekuensi | Persentase | Frekuensi | Persentase | ||
| 85-100 | Bagus sekali | 0 | 0 | 18 | 100 |
| 70-84 | Bagus | 14 | 77,7 | 0 | 0 |
| 55-69 | Adil | 4 | 22,3 | 0 | 0 |
| 41-54 | Miskin | 0 | 0 | 0 | 0 |
| TOTAL | 18 | 100 | 18 | 100 | |
| N | Minimum | Maksimum | Berarti | St. Deviasi | |
| Pretespet | 50 | 45 | 71 | 58.64 | 4.314 |
| Postespet | 50 | 60 | 72 | 66.08 | 2.407 |
| N yang valid (menurut daftar) | 18 |
| Interval Skor | Kategori | Pretes | Posttest | ||
| Frekuensi | Persentase | Frekuensi | Persentase | ||
| 85-100 | Bagus sekali | 0 | 0 | 0 | 0 |
| 70-84 | Bagus | 0 | 0 | 18 | 100 |
| 55-69 | Adil | 8 | 54 | 0 | 0 |
| 41-54 | Miskin | 10 | 56 | 0 | 0 |
| TOTAL | 18 | 100 | 18 | 100 | |
Analisis Deskriptif
Hasil pretest kelompok kontrol menunjukkan skor minimal 45, skor maksimal 71, skor rata-rata 58,64 dan standar deviasi 5,649. Dan hasil posttest menunjukkan bahwa skor minimum 60, skor maksimum 72, skor rata-rata 66,08, dan standar deviasi 3,096. Analisis deskriptif kelompok kontrol ditunjukkan pada Table 3.
Sementara itu, hasil pretest juga menunjukkan tidak ada siswa (0%) yang berada pada level sangat baik, tidak ada siswa yang berada pada level baik, 8 siswa (54%) berada pada level cukup, 10 siswa (56%) berada pada level kurang baik.
Selanjutnya, hasil posttest menunjukkan tidak ada siswa (0%) yang berada pada level sangat baik, 18 siswa (100%) berada pada level baik, tidak ada siswa yang berada pada level cukup dan kurang (0%). Distribusi skor kelompok kontrol ditunjukkan pada Table 4 dan histogram 2 (Figure 3.Figure 4)
Figure 3. Distribusi Skor pada Kelompok Kontrol
Figure 4. Distribusi Skor pada Kelompok Kontrol
Analisis statistik
Normalitas Pretest dan Posttest pada Kelompok Eksperimen
Dalam menganalisis normalitas pretest dan posttest pada kelompok eksperimen, penulis menggunakan Shapiro-Wilk. Signifikansi (2-tailed) pretest adalah 0,282 dan posttest adalah 0,740. Hasil penelitian menunjukkan bahwa signifikansi (2-tailed) lebih besar dari 0,05. Singkatnya, data yang diperoleh normal. Normalitas pretest dan posttest kelompok eksperimen ditunjukkan pada Table 5.
| Shapiro-Wilk | |||
| Statistik | df | Sig. | |
| pretespft | .972 | 50 | .282 |
| Postespft | .984 | 50 | .740 |
| Shapiro-Wilk | |||
| Statistik | df | Sig. | |
| pretespet | .969 | 50 | .219 |
| postespet | .970 | 50 | .222 |
Normalitas Pretest dan Posttest pada Kelompok Kontrol
Dalam menganalisis normalitas pretest dan posttest pada kelompok kontrol, penulis menggunakan Shapiro-Wilk. Signifikansi (2-tailed) pretest adalah 0,219 dan posttest adalah 0,222. Hasil penelitian menunjukkan bahwa signifikansi (2-tailed) lebih besar dari 0,05. Singkatnya, data yang diperoleh normal. Normalitas pretest dan posttest kelompok kontrol ditunjukkan pada Table 6.
Homogenitas Posttest pada Kelompok Eksperimen dan Kontrol
Dalam menganalisis homogenitas posttest kelompok eksperimen dan kontrol, penulis menggunakan uji levene. Uji homogenitas menunjukkan bahwa signifikansi (2-tailed) posttest pada kelompok eksperimen dan kontrol adalah 0,277. Hal ini berarti data homogen karena lebih besar dari 0,05. Homogenitas posttest kelompok eksperimen dan kontrol ditunjukkan pada Table 7.
| Statistik Levene | df1 | df2 | Sig. |
| 17.390 | 1 | 98 | .000 |
Hasil Paired Sample T-test
Hasil uji-t sampel berpasangan pada kelompok eksperimen dan kontrol menunjukkan nilai t yang diperoleh sebesar -17,233. Pada taraf signifikansi p > 0,05 untuk uji dua sisi dan derajat kebebasan 17, t-tabel 2,0281. Karena nilai t yang diperoleh lebih tinggi dari t tabel, sehingga hipotesis alternatif (Ha2) diterima dan hipotesis nol (Ho2) ditolak. Artinya, penggunaan Teknik Umpan Balik Sebaya dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa.
Hasil uji-t sampel berpasangan pada kelompok eksperimen menunjukkan bahwa nilai Pvalue adalah 0,000. Pada taraf signifikan p>0,05 untuk uji dua sisi dan derajat kebebasan adalah 17 dan nilai P adalah 0,000. Karena Pvalue 0.000 lebih rendah dari signifikan alpha ? (0.000 < 0.05). Sehingga hipotesis alternatif pertama (Ha2) diterima dan hipotesis nol (H02) ditolak. Artinya, penggunaan Teknik Umpan Balik Sebaya dapat meningkatkan kemampuan menulis narasi siswa. Hasil uji-t sampel berpasangan pada kelompok eksperimen ditunjukkan pada Table 8.
Hasil uji-t sampel berpasangan pada kelompok kontrol menunjukkan bahwa nilai Pvalue adalah 0,000. Pada taraf signifikan p>0,05 untuk uji dua sisi dan derajat kebebasan adalah 17 dan nilai P adalah 0,000. Karena Pvalue 0.000 lebih rendah dari signifikan ? (0.000 < 0.05). Sehingga hipotesis alternatif t kedua (Ha1) diterima dan hipotesis nol (Ho1) ditolak. Artinya, penggunaan Teknik Peer Editing dapat meningkatkan kemampuan menulis narasi siswa. Hasil uji-t sampel berpasangan pada kelompok eksperimen dan kontrol ditunjukkan pada Table 9.
Hasil Independent Sample T-test
Hasil posttest kelompok eksperimen dan kontrol dianalisis dengan menggunakan SPSS untuk melihat signifikansi peningkatan masing-masing kelompok. Independent sample t-test menunjukkan bahwa signifikansi two tailed adalah 0,000 lebih rendah dari 0,05 untuk uji two tailed dengan df 34, , hipotesis nol (HO3) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha3) dikonfirmasi. Hasil independent sample t-test ditunjukkan pada Table 10.
| Perbedaan Berpasangan | df | Sig. (2-ekor) | |||||||
| Berarti | St. Deviasi | St. Maksud Kesalahan | Interval Keyakinan 95% dari Perbedaan | ||||||
| Lebih rendah | Atas | T | |||||||
| Pasangan 1 | pretest - postest | -19.611 | 4.828 | 1.138 | -22.012 | -17.210 | -17.233 | 17 | .000 |
| Perbedaan Berpasangan | df | Sig. (2-ekor) | ||||||
| Berarti | St. Deviasi | St. Kesalahan Berarti | 95% Keyakinan Interval dari Perbedaan | |||||
| Lebih rendah | Atas | |||||||
| Pasangan 1 | pretest - postest | -22.056 | 3.903 | .920 | -23.996 | -20.115 | 17 | .000 |
| Kelompok | Berarti | Deviasi Standar | Df | Sig (2-ekor) |
| Eksperimental | -19.611 | 4.828 | 3 4 | .000 |
| Kontrol | -22.056 | 3.903 | 3 4 | .000 |
Interpretasi
Berdasarkan temuan di atas, beberapa interpretasi dibuat. Pertama, Teknik Umpan Balik Peer memberikan peningkatan yang signifikan terhadap keterampilan menulis teks naratif siswa. Selain itu, penggunaan Teknik Umpan Balik Teman memungkinkan siswa untuk memahami keseluruhan teks. Selama proses membaca, mereka membaca teks dan terhubung dengan latar belakang pengetahuan mereka. Demikian juga, Teknik Umpan Balik Teman dapat membangun interaksi yang baik antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru dan siswa dengan teks. Ketika interaksi yang baik dibangun, siswa akan memiliki hubungan yang baik antara mereka dan guru, sehingga kegiatan belajar mereka akan menyenangkan dan memudahkan mereka untuk berbagi informasi dan pengetahuan. Hal ini sejalan dengan Dib MN (2018) yang menyatakan bahwa guru dapat menggunakan PET dengan memberikan PET dalam penulisan narasi, dan pengembangan pengetahuan latar belakang dengan mensyaratkan pemahaman siswa terhadap teks dan penerapan strategi aktivasi skema akan efektif.
Pada akhir penelitian, siswa eksperimen cenderung aktif karena beberapa tahapan yang diterapkan di dalam kelas. Siswa memiliki respon dan motivasi yang baik. Siswa dapat membaca teks dengan lancar dan menemukan ide pokok dengan benar. Oleh karena itu, strategi aktivasi skema memberikan efek positif pada siswa yang menulis teks naratif dan memfasilitasi mereka untuk membaca teks dengan lebih baik.
Sementara itu, kelompok kontrol penelitian ini juga mengalami peningkatan dalam pemahaman membaca. Namun, hasil kelompok kontrol tidak lebih tinggi dari kelompok eksperimen. Artinya peningkatan pemahaman bacaan yang dicapai oleh siswa menunjukkan teknik peer feedback lebih efektif daripada metode ceramah. Mathew (2018) yang menemukan bahwa Teknik Umpan Balik Sebaya dapat meningkatkan pemahaman membaca dan memberikan peningkatan yang signifikan pada teks naratif.
Hasil Independent Sample T-test
Hasil posttest kelompok eksperimen dan kontrol dianalisis dengan menggunakan SPSS untuk melihat signifikansi peningkatan masing-masing kelompok. Independent sample t-test menunjukkan bahwa signifikansi two tailed adalah 0,000 lebih rendah dari 0,05 untuk uji two tailed dengan df 34, , hipotesis nol (HO3) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha3) dikonfirmasi. Hasil independent sample t-test.
Conclusion and Recommendation
Penelitian ini membahas tentang Teknik Penyuntingan Teman dan Teknik Umpan Balik Teman. Setelah melakukan penelitian, penelitian ini menemukan bahwa Teknik Peer Editing efektif untuk mengajarkan kemampuan menulis mahasiswa di FKIP Universitas PGRI Palembang. Selain itu, kemampuan siswa memberikan kontribusi untuk prestasi mereka dalam semua jenis tulisan. Berdasarkan hasil penelitian, terungkap bahwa terdapat peningkatan yang signifikan dari siswa dalam menulis teks narrative text. Dapat dikatakan bahwa hipotesis alternatif (Ha1) diterima sedangkan hipotesis nol (Ho1) ditolak. Artinya, PET dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis teks naratif. Sedangkan hipotesis alternatif (Ha2 ) diterima sedangkan hipotesis nol (H02) ditolak. Artinya, PFT dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis teks naratif. Selain itu, terdapat perbedaan yang signifikan antara siswa yang diajar dengan menggunakan PFT dan siswa yang diajar dengan menggunakan PET. Oleh karena itu, hipotesis alternatif (Ha2) diterima dan hipotesis nol (Ho2) ditolak.
Saran
Setelah melakukan penelitian, ada beberapa saran untuk guru dan siswa. Guru bahasa Inggris disarankan untuk lebih memperhatikan siswa dalam proses belajar mengajar. Penting bagi guru untuk memberikan lebih banyak latihan kepada siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran mereka. Para guru dapat menerapkan skema Teknik Penyuntingan Teman dan atau Teknik Umpan Balik Teman sebagai cara alternatif dalam pengajaran menulis. Sementara itu, guru diharapkan kreatif dalam mengajar dan memotivasi siswa untuk menulis. Selanjutnya, siswa disarankan untuk meningkatkan kemampuan menulis mereka dengan menggunakan PET dan PFT. Kedua siswa harus menerapkan strategi PET dan PFT dalam proses pembelajaran. Selain itu, siswa dapat memperkaya penguasaan menulis mereka untuk memudahkan siswa mendapatkan peningkatan dan keberhasilan dalam menulis teks naratif.
References
Publisher’s Note
Utan Kayu Publishing maintains a neutral stance regarding territorial claims depicted in published maps and does not endorse or reject the institutional affiliations stated by the authors.