Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Perkembangan Sosial Emosional pada Anak Prasekolah

Vol. 1 No. 2: 2021 | Pages: 63-68

DOI: 10.47679/jchs.202110   Reader: 4223 times PDF Download: 995 times

Abstract

PENDAHULUAN

Anak usia prasekolah adalah anak yang berusia antara 3 sampai 6 tahun. Pada periode ini anak akan mengalami perkembangan psikososial dan kognitif (Mansur 2019). Perkembangan (development) sendiri merupakan sebuah peningkatan kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks, teratur dan dapat dinilai sebagai hasil proses pematangan (Noorbaya et al. 2020). Salah satu bentuk perkembangan anak usia prasekolah yang perlu mendapatkan perhatian orang tua adalah perkembangan sosial emosional yaitu perkembangan dalam membentuk hubungan sosial dan emosional anak karena pada masa usia prasekolah, anak rentan mengalami berbagai gangguan perkembangan sosial emosional seperti gangguan depresi, hiperaktif, dan perilaku yang menentang (Brown et al. 2012).

Prevalensi gangguan perkembangan sosial emosional anak usia prasekolah sendiri berbeda-beda dari berbagai hasil studi yang telah dilakukan. Diperkirakan, gangguan perkembangan sosial-emosi anak seperti depresi, hiperaktif, dan perilaku menentang mencapai 1% hingga 13% anak, dan gangguan perkembangan sosial emosi secara umum terjadi pada 5% hingga 26% anak (Brown et al. 2012). Sebuah studi berbasis komunitas mengidentifikasi bahwa lebih dari 80% anak prasekolah terkadang mengalami masalah perkembangan berupa perilaku tantrum ringan dan kurang dari 10% akan mengalami tantrum setiap hari (Ogundele 2018). Studi cross-sectional di Kota Salvador Brazil yang melibatkan 20.000 keluarga menemukan bahwa prevalensi masalah gangguan perilaku pada anak usia prasekolah secara keseluruhan mencapai 23,5% (Santos et al., 2016). Sementara salah satu hasil studi di wilayah Malang Indonesia menemukan bahwa lebih dari 26% anak usia prasekolah mengalami gangguan perkembangan emosi negatif (Windarwati et al. 2014).

Gangguan perkembangan sosial emosional yang terjadi pada anak usia prasekolah dapat menimbulkan dampak jangka pendek dan jangka panjang. Adapun dampak jangka pendek bagi anak yang tidak mengalami perkembangan sosial-emosional yang sesuai maka anak cenderung mengalami keterbatasan kemampuan dalam belajar dan dapat menghadapi pengucilan di lingkungan belajar, sementara dampak jangka panjang yang harus dihadapi adalah meningkatnya resiko penyakit mental, kenakalan, prestasi yang buruk serta gangguan kesehatan fisik yang buruk di masa dewasa (Brown et al., 2012).

Penyebab munculnya masalah gangguan perkembangan pada anak usia prasekolah dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya: environ mental factors (rumah, pekerjaan, penghasilan); biological factors, (jenis kelamin, kesehatan); interpersonal relationships (kedekatan, pola asuh); dan early environments and experiences (pengalaman dan lingkungan sebelumnya) (Shanker et al., 2008 dalam Asri, 2018). Di antara berbagai faktor tersebut, pola asuh orang tua merupakan salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi perkembangan sosial emosional anak. Pola asuh sendiri dapat diartikan sebagai suatu bentuk perlakuan orang tua dalam hal mendidik anak melalui beragam perilaku guna mempengaruhi perilaku anak (Risnawaty dan Suyadi 2021). Menurut Hurlock (1990 dalam Asri, 2018) pola asuh orang tua dapat dibedakan menjadi tiga yaitu pola asuh otoriter, pola asuh permisif dan pola asuh demokratis. Pola asuh authoritarian atau otoriter merupakan pola asuh yang menekankan pada kontrol dan kepatuhan yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Pola asuh authoritative atau demokratis, merupakan pola asuh yang menekankan pada individualitas anak, tetapi juga menekankan pada batasan sosial.sedangkan pola asuh permissive (permisif) merupakan pola asuh yang menekankan pada ekspresi-diri dan regulasi-diri.

Penelitian yang dilakukan oleh Asri, (2018) menggunakan tipe penelitian ex post facto menemukan bahwa pada hasil pengujian secara kelompok membuktikan adanya hubungan antara pola asuh otoriter, demokratis, dan permisif terhadap perkembangan nilai moral, sosial emosional, bahasa, kognitif, dan fisik motorik anak. Berdasarkan tiga metode pola asuh, ditemukan adanya pola asuh yang memiliki hubungan sangat tinggi yaitu pola asuh demokratis. Penelitian Windarwati et al., (2018) yang dilakukan di TK Rohmatul Magfiroh Malang juga menemukan bahwa terdapat hubungan antara pola asuh orang tua dengan perkembangan emosi anak usia prasekolah. Penelitian Muamanah, (2018) juga menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pola asuh orang tua dengan perkembangan sosial emosional anak usia 4-5 tahun.

Berdasarkan hasil presurvey di Paud/TK Wilayah Tiyuh Kibang Yekti Kecamatan Lambu Kibang Kabupaten Tulang Bawang Barat, didapatkan ada 1 PAUD dengan jumlah anak sebanyak 21 anak dan terdapat 2 TK, yaitu TK Bunda Asuh dengan jumlah anak sebanyak 44 anak, TK Harapan Jaya dengan jumlah anak sebanyak 21 anak. Hasil wawancara terhadap 2 orang tua dan 1 guru di TK Bunda Asuh, didapatkan bahwa orang tua yang pertama memiliki pola asuh dekomkratis, yaitu orang tua ikut terlibat dalam proses belajar dan bermain anak, menegur dan menanyakan sebab apabila anak tidak belajar, tidak memaksakan anak untuk belajar sesuai kehendak nya, tidak terlalu membiarkan anak memutar televisi pada waktu belajar.

Pada Orang tua yang kedua, menyatakan bahwa orang tau membagi waktu bermain dan belajar secara ketat, memarahi jika anak tidak belajar, mengawasi anak saat belajar, hal tersebut merupakan pola asuh oteriter.Hasil wawancara terhadap guru menyatakan bahwa anak dari orang tua yang pertama, anak tersebut memiliki kemurahan hati dengan sering membagi makan yang dibawanya, bermain dengan sekelompok teman-teman, bersikap ramah kepada teman dan guru. Sedangkan anak dari orang tua yang kedua, beberapa kali anak tersebut bertengkar dengan temannya, rebutan mainan terhadap teman lainnya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan pola asuh orang tua dengan perkembangan sosial emosional anak prasekolah di Paud/TK Wilayah Tiyuh Kibang Yekti Jaya Kecamatan Lambu Kibang Kabupaten Tulang Bawang Barat tahun 2021.

METODE PENELITIAN

Desain Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Rancangan penelitian yang digunakan adalah menggunakan pendekatan cross sectional.

Populasi dalam penelitian ini adalah orang tua anak usia pra sekolah di PAUD, TK di Paud/TK Wilayah Tiyuh Kibang Yekti Jaya Kecamatan Lambu Kibang Kabupaten Tulang Bawang Barat tahun 2021 yang berjumlah 86 orang.Pada penelitian ini, teknik pengambilan sampel dilakukan menggunakan total sampling.

Analisis data menggunakan uji Chi-Square untuk mengetahui hubungan antara dua variabel apakah signifikan atau tidak signifikan.

HASIL PENELITIAN

No Karakteristik F %
1 Usia
< 20 tahun 1 1,2
20-35 tahun 52 60,5
>35 tahun 33 38,4
Jumlah 86 100
2 Pendidikan
Tinggi 1 1,2
Menengah 40 46,5
Dasar 45 52,3
Jumlah 86 100
3 Pekerjaan
IRT 78 90,7
Tani 7 8,1
Wiraswasta 1 1,2
Jumlah 86 100
Table 1. Karakteristik Ibu Anak Usia Prasekolah Berdasarkan Usia, Pendidikan dan Status Pekerjaan

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar usia responden berada pada usia reproduksi sehat (20-35 tahun) yaitu sebanyak 52 (60,5%) orang, usia <20 tahun ditemukan sebanyak 1 (1,2%) orang dan yang berada pada usia >35 tahun sebanyak 33 (38,4%) orang. Dilihat dari tingkat pendidikan formal yang ditempuh, sebagian besar responden masuk dalam jenjang pendidikan dasar yaitu sebanyak 45 (52,3%) orang, tertinggi kedua adalah jenjang pendidikan menengah yaitu 40 (46,5%) orang, sementara yang berpendidikan tinggi ditemukan sebanyak 1 (1,2%) orang. Dilihat dari status pekerjaan, sebagian besar hanya sebagai ibu rumah tanggal yaitu sebanyak 78 (90,7%) orang, bekerja sebagai petani sebanyak 7 (8,1%) orang dan 1 (1,2%) wiraswasta.

No Pola Asuh f %
1 Demokratis 46 53,5
2 Otoriter 19 22,1
3 Permisif 21 24,4
Jumlah 86 100
Table 2. Tipe Pola Asuh Orangtua Anak Usia Prasekolah

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa sebagian besar orangtua anak usia prasekolah menggunakan pola asuh demokratis yaitu sebanyak 46 (53,5%) orang, 21 (24,4%) orangtua menggunakan pola asuh permisif dan sebanyak 19 (22,1%) orangtua menggunakan pola asuh otoriter.

No Perkembangan Anak Usia Prasekolah f %
1 Normal 32 37,2
2 Sedang 31 36,0
3 Abnormal 23 26,7
Jumlah 86 100
Table 3. Distribusi frekuensi perkembangan sosial emosional anak usia prasekolah

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa sebagian besar perkembangan sosial emosional anak usia prasekolah masuk dalam kategori normal yaitu sebanyak 32 (37,2%) anak, 31 (36,0%) anak memiliki perkembangan sosial emosional kategori sedang dan 23 (26,7%) masuk dalam kategori abnormal.

Pola Asuh Orangtua Perkembangan Sosial Emosional Anak Prasekolah å p-value
Normal Sedang Abnormal
n % n % N %
Demokratis 24 52,2 18 39,1 4 8,7 46 0,001
Otoriter 3 15,8 6 31,6 10 52,6 19
Permisif 5 23,8 7 33,3 9 42,9 21
å 32 37,2 31 36,0 23 26,7 86
Table 4. Hubungan Pola Asuh Orangtua Dengan Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Prasekolah

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa perkembangan sosial emosional anak prasekolah yang diasuh orangtua menggunakan pola asuh demokratis sebagian besar memiliki perkembangan kategori normal yaitu sebanyak 24 orang (52,2), sedang 18 orang (39,1%) dan 4 orang (8,7%) termasuk dalam kategori abnormal. Sedangkan yang diasuh oleh orangtua menggunakan pola asuh otoriter maupun permisif sebagian besar memiliki perkembangan abnormal, dimana pada pola asuh otoriter ditemukan sebanyak 10 orang (52,6%) dan pola asuh permisif 9 orang (42,9%). Hasil uji statistik menggunakan Person chi square didapatkan p-value= 0,001(p<a 0,05).

PEMBAHASAN

Tipe Pola Asuh Orangtua Anak Prasekolah

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar orangtua anak prasekolah menggunakan pola asuh demokratis yaitu sebanyak 46 (53,5%) orang, 21 (24,4%) orangtua menggunakan pola asuh permisif dan sebanyak 19 (22,1%) orangtua menggunakan pola asuh otoriter.

Pola asuh merupakan komunikasi antara anak dan orang tua serta lingkungan sekita, yang dapat mengembangkan tentang bagaimana cara mendidik dengan memberi aturan serta batasan yang akan diterapkan untuk anak, seperti cara anak dalam berperilaku sosial dengan teman seusianya atau di atas usianya, baik mengajarkan mengenai perilaku yang positif atau negative (Mustabsyiah dan Formen 2020). Pola asuh orangtua sendiri terbagi dalam 3 tipe, yaitu: authoritarian, authoritative, dan permisif (Papalia & Martorell, 2012 dalamRisnawaty & Suyadi, 2021).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Windarwati et al., (2014) sebagian besar orangtua menggunakan pola asuh demokratis, dimana temuan hasil penelitian menginformasikan sebanyak 8 (16.3%) orangtua yang menerapkan pola asuh otoriter (authorotarian), 6 (12.2%) menerapkan pola asuh permisif (permissive) dan 35 (71.4%) orangtua menerapkan pola asuh demokratis (authoritative).

Berdasarkan uraian hasil penelitian di atas dapat dijelaskan bahwa sebagian besar orangtua menggunakan tipe pola asuh demokratis dimana tipe pola asuh ini bukan hanya menekankan pada individualitas anak, tetapi juga menekankan pada batasan sosial. Orang tua tipe ini menyayangi dan menerima tetapi juga menuntut perilaku yang baik dan tegas dalam mempertahankan standar.Mereka memberikan batasan, hukuman yang bijaksana ketika dibutuhkan, dalam konteks kehangatan, dan hubungan yang mendukung. Anak-anak merasa aman karena mengetahui bahwa orang tuanya menyayangi mereka dan apa yang diharapkan dari mereka.

Perkembangan Sosial Emosional Anak Prasekolah

Hasil penelitian didapatkan bahwa dilihat dari perkembangan sosial emosional anak usia prasekolah sebagian besar masuk dalam kategori normal yaitu sebanyak 32 (37,2%) anak, 31 (36,0%) anak memiliki perkembangan sosial emosional kategori sedang dan 23 (26,7%) masuk dalam kategori abnormal.

Perkembangan sosial secara umum, yaitu sosialisasi yang merupakan suatu proses mental dan tingkah laku yang mendorong seseorang untuk menyesuaikan diri sesuai dengan keinginan yang berasal dari dalam diri. Perkembangan sosial adalah suatu proses kemampuan belajar dari tingkah laku yang ditiru dari dalam keluarganya serta mengikuti contoh-contoh serupa yang ada di seluruh dunia. Perkembangan emosional merupakan kemampuan mengekspresikan perasaannya, setiap saat anak mencoba mencari perhatian dalam bentuk reaksi emosional seperti marah, senang ataupun sedih (Gunarti et al. 2018).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Windarwati et al., (2014) yang menginformasikan dalam temuan penelitiannya bahwa anak yang memiliki karakter emosi negatif berjumlah 13 (26.5%) anak dan anak yang memiliki emosi positif 36 (73.5%) anak. Penelitian Lestari & Rahmawati, (2017) menunjukkan bahwa 81,0% anak memiliki kemampuan sosialisai yang baik, sedangkan 19,0% lainnya memiliki kemampuan sosialisai tergolong buruk.

Berdasarkan uraian hasil penelitian di atas dapat dijelaskan bahwa usia prasekolah merupakan tahapan penyempurnaan penciptaan watak dan karakter manusia dengan interaksi antara bawaan dan pengaruh lingkungan, baik lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan formal, maupun lingkungan masyarakat. Anak usia prasekolah membutuhkan pola asuh yang baik agar kemampuan sosial emosionalnya dapat berkembang dengan baik. Temuan pada penelitian ini menunjukkan bahwa perkembangan sosial emosional anak prasekolah sebagian besar termasuk dalam kategori normal, tentunya hal ini dapat dikaitkan dengan banyaknya orangtua yang menggunakan pola asuh demokratis yang merupakan bentuk pola asuh yang telah banyak diyakini dapat meningkatkan perkembangan sosial emosional anak prasekolah.

Hubungan Pola Asuh Orangtua dengan Perkembangan Sosial Emosional Anak Prasekolah

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan sosial emosional anak prasekolah yang diasuh orangtua menggunakan pola asuh demokratis sebagian besar memiliki perkembangan kategori normal yaitu sebanyak 24 orang (52,2), sedangkan yang diasuh oleh orangtua menggunakan pola asuh otoriter maupun permisif sebagian besar memiliki perkembangan abnormal, dimana pada pola asuh otoriter ditemukan sebanyak 10 orang (52,6%) dan pola asuh permisif 9 orang (42,9%). Hasil uji statistik menggunakan Person chi square didapatkan p-value= 0,001(p<a 0,05) maka secara statistik diyakini terdapat hubungan antara pola asuh orangtua dengan perkembangan sosial emosional anak prasekolah, dimana proporsi perkembangan sosial emosional anak prasekolah kategori normal sebagian besar ditemukan pada orangtua yang menggunakan pola asuh demokratis.

Perkembangan merupakan suatu pola yang teratur terkait perubahan struktur, pikiran, perasaan atau perilaku yang dihasilkan dari proses pematangan, pengalaman dan pembelajaran. Anak-anak usia dini akan mulai melakukan pembelajaran perilaku sosialnya seperti berbagi, menerima, konsep-konsep orang lain atau berlarian dengan anak yang lain. Mereka bersedia berbagi mainannya dengan teman yang lain. Pada umumnya, anak-anak pada usia dini ini mulai memahami penjelasan dan ikut berpartisipasi di dalam beberapa argumentasi tentang persoalan-persoalan yang dihadapinya (Syafaruddin et al. 2011). Kualitas perkembangan anak diantaranya dapat dipengaruhi oleh interaksi faktor lingkungan keluarga atau pola asuh orangtua (Mansur 2019). Pola interaksi antara anak dengan orang tua meliputi pemenuhan kebutuhan fisik seperti makan, minum dan kebutuhan psikologis seperti rasa aman, kasih sayang dan lain-lain, serta sosialisasi norma-norma yang berlaku dimasyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungannya (Ayun 2017).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Suryani, Yuniarni, & Miranda, (2020) bahwa pola asuh orang tua berpengaruh terhadap perkembangan sosial emosional anak usia 5-6 (p value 0,000). Penelitian Windarwati et al., (2014) juga menunjukkan bahwa ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan perkembangan emosi anak usia pra sekolah p-value 0,008 (p<0,05).

Berdasarkan uraian hasil penelitian di atas dapat dijelaskan bahwa pada hasil analisis pola asuh orangtua terbukti berhubungan dengan perkembangan sosial emosional anak prasekolah. Pada penelitian ini, orangtua yang menggunakan pola asuh demokratis cenderung memiliki anak prasekolah dengan perkembangan sosial emosional kategori normal (52,2%) dan sedang (39,1%). Hal ini dapat terjadi karena orangtua yang menggunakan pola asuh ini cenderung menekankan pada individualitas anak dan di sisi lain juga cenderung menekankan pada batasan sosial sehingga orangtua yang menggunakan pola asuh ini memiliki kasih sayang yang tinggi, dapat menerima, tegas dalam keputusan yang benar dan memberi batasan hukuman saat dibutuhkan guna menjaga kehangatan dan hubungan yang baik sehingga anak merasa mendapatkan kasih sayang yang cukup dan merasa aman. Pada penelitian ini juga ditemukan sebesar 8,7% orangtua yang menggunakan pola asuh demokratis namun memiliki anak dengan perkembangan sosial emosional dalam kategori abnormal, hal ini dapat terjadi karena perkembangan sosial emosional anak prasekolah bukan hanya dipengaruhi oleh faktor pola asuh orangtua, namun dapat juga dipengaruhi oleh faktor lainnya seperti lingkungan masyarakat, inteksi teman sebaya serta faktor genetik.

Orangtua yang menggunakan pola asuh otoriter maupun permisif pada penelitian ini cenderung memiliki anak dengan perkembangan sosial emosional yang kurang baik atau masuk dalam kategori abnormal.Hal ini dapat terjadi karena orangtua yang menggunakan pola asuh otoriter cenderung memaksa anak untuk melakukan sesuai kehendak orangtua dan memberikan hukuman saat anak tidak mengikuti kehendaknya sehingga anak merasa tertekanan dan kurang merasakan kasih sayang. Sementara orangtua yang menggunakan pola asuh permisif cenderung mengabaikan atau membiarkan anak sekalipun ia melakukan kesalahan dan bahkan tidak meluangkan waktu untuk berbicara serta tidak melatih anak untuk bertanggung jawab. Dengan demikian jelaslah bahwa pola asuh otoriter dan permisif merupakan pola asuh yang semestinya dihindari.Sementara pola asuh yang sebaiknya diterapkan adalah pola asuh demokratis.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan uraian hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa distribusi frekuensi usia ibu sebagian besar berada pada usia 20-35 tahun (60,5%), pendidikan dasar (52,3%), status pekerjaan ibu rumah tanggal (90,7%). Distribusi frekuensi pola asuh orangtua anak prasekolah sebagian besar menggunakan pola asuh demokratis (53,5%). Distribusi frekuensi perkembangan anak prasekolah sebagian besar masuk dalam kategori normal (37,2%). Terdapat hubungan antara pola asuh orangtua dengan perkembangan sosial emosional anak prasekolah (p-value= 0,001).

Bagi orangtua hendaknya dapat menerapkan pola asuh demokratis dan menghindari pola asuh otoriter maupun permisif agar anak prasekolah memiliki perkembangan sosial emosional yang baik.

Bagi tenaga kesehatan hendaknya terus berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan penyuluhan-penyuluhan kesehatan tentang upaya yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan perkembangan sosial emosional anak.

UCAPAN TERIMAKASIH

Peneliti mengucapkan terima kasih kepada kepala sekolah, guru dan orang tua anak yang telah berpartisipasi aktif membantu dalam terselesaikannya skripsi ini.

DECLARATIONS

Funding Statement

The authors did not receive support from any organization for the submitted work and No funding was received to assist with the preparation of this manuscript.

Conflict of Interest Statement

This research has no significant conflict. All the authors listed in this article have no involvement with outside parties. All authors approve the research results for publication, and all sources of writing have been included in the references.

Authors Contributions

The first author is responsible for making research proposals, identifying the questionnaires used, making research explanations and approval sheets, analyzing data, making final research reports, searching for journals for publication, and making publication manuscripts. The second and third authors are tasked with collecting data and coding in excel from the data collection results.

Availability of data and materials

Data and materials from the research will be accessible to readers after contacting the author.

Copyright and Licenses

Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under an Attribution-ShareAlike 4.0 International (CC BY-SA 4.0) that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.

References

  • Asri S. 2018. Hubungan Pola Asuh Terhadap Perkembangan Anak Usia Dini. J Ilm Sekol Dasar. 2(1):1. doi:10.23887/jisd.v2i1.13793.

    Ayun Q. 2017. Pola Asuh Orang Tua dan Metode Pengasuhan dalam Membentuk Kepribadian Anak. ThufuLA J Inov Pendidik Guru Raudhatul Athfal. 5(1):102. doi:10.21043/thufula.v5i1.2421.

    Brown CM., Copeland KA, Sucharew H, Kahn RS. 2012. Social-emotional problems in preschool-aged children: Opportunities for prevention and early intervention. Arch Pediatr Adolesc Med. 166(10):926–932. doi:10.1001/archpediatrics.2012.793.

    Gunarti W, Suryani L, Muis A, Pratiwi N. 2018. Metode Pengembangan Perilaku dan Kemampuan Dasar Anak Usia Dini. Edisi 2. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.

    Lestari SP, Rahmawati DP. 2017. Pola Asuh Orangtua Versus Kemampuan Sosialisasi Anak. J Keperawatan. 9(2):65–69. doi:https://doi.org/10.32583/keperawatan.9.2.2017.65-69.

    Mansur AR. 2019. Tumbuh Kembang Anak Usia Prasekolah. Volume ke-1. http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/33035/1/Istiqomah Aprilaz-FKIK.pdf.

    Muamanah S. 2018. Pengaruh Pola Asuh Tua Terhadap Perkembangan Sosial Anak Usia 4-5 Tahun Di Desa Bandarabung Kecamatan Abung Surakarta Kabupaten Lampung Utara. Universitas Islam Negeri Raden Intan.

    Mustabsyiah L, Formen A. 2020. Hubungan pola asuh orangtua terhadap perkembangan sosial emosi anak pada sikap tanggung jawab. Pros Semin Nas Pascasarj UNNES. 3(1):537–542. https://proceeding.unnes.ac.id/index.php/snpasca/article/download/585/503.

    Noorbaya S, Johan H, Wati WKW. 2020. Panduan Belajar Asuhan Neonatus Bayi, Balita dan Anak Prasekolah. Yogyakarta: Gosyen Publishing.

    Ogundele MO. 2018. Behavioural and emotional disorders in childhood: A brief overview for paediatricians. World J Clin Pediatr. 7(1):9–26. doi:10.5409/wjcp.v7.i1.9.

    Risnawaty W, Suyadi D. 2021. Pengujian Reliabilitas Alat Ukur The Parenting Styles and Dimension Questionnaire (PSDQ). J Muara Ilmu Sos Humaniora, dan Seni. 5(1):233–240. doi:http://dx.doi.org/10.24912/jmishumsen.v5i1.10019.2021.

    Santos LM dos, Queirós FC, Barreto ML, dos Santos DN. 2016. Prevalence of behavior problems and associated factors in preschool children from the city of Salvador, state of Bahia, Brazil. Rev Bras Psiquiatr. 38(1):46–52. doi:10.1590/1516-4446-2014-1596.

    Suryani D, Yuniarni D, Miranda D. 2020. Pengaruh Pola Asuh orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia 5-6 tahun. J Pendidik dan Pembelajaran Khatulistiwa. 9(1):1–8. doi:https://jurnal.untan.ac.id/index.php/jpdpb/article/view/38528/0.

    Syafaruddin, Herdianto, Ernawati. 2011. Buku Pendidikan Prasekolah. Persepsi Pendidik Islam Dan Umum., siap terbit.

    Windarwati HD, Melani A, Yustita R. 2014. Hubungan Pola Asuh Orangtua Dengan Perkembangan Emosi Anak Usia PRA Sekolah Di Tk Rohmatul Magfiroh Desa Pakisaji Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang. J Holist Nurs Sci. 1(1):1–5. https://media.neliti.com/media/publications/70693-ID-hubungan-pola-asuh-orangtua-dengan-perke.pdf.

Rights and permissions

© The Author(s) 2021
Open Access This article is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License (CC BY-SA 4.0), which permits others to share, adapt, and redistribute the material in any medium or format, even for commercial purposes, provided appropriate credit is given to the original author(s) and the source, a link to the license is provided, and any changes made are indicated. If you remix, transform, or build upon the material, you must distribute your contributions under the same license as the original. To view a copy of this license, visit https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/.

Fulltext

Keywords

  • Parenting Patterns
  • Social Development
  • Preschool Children
  • Pola Asuh Orangtua
  • Pekembangan Sosial
  • usia Prasekolah

Author Information

Ade Tyas Mayasari

Universitas Aisyah Pringsewu, Indonesia.

ORCID : http://orcid.org/0000-0003-4015-9449

Siti Wasirah

Universitas Aisyah Pringsewu, Indonesia.

Purwana Damai Ati

Universitas Aisyah Pringsewu, Indonesia.

Hera Malinda

Universitas Aisyah Pringsewu, Indonesia.

Siti Khotipah

Universitas Aisyah Pringsewu, Indonesia.

Soresmi Soresmi

Universitas Aisyah Pringsewu, Indonesia.

Article History

Submitted: 11 August 2021
Accepted: 13 November 2021
Published: 27 November 2021

How to Cite This

Mayasari, A. T., Wasirah, S., Ati, P. D., Malinda, H., Khotipah, S., & Soresmi, S. (2021). Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Perkembangan Sosial Emosional pada Anak Prasekolah. Journal of Current Health Sciences, 1(2), 63–68. https://doi.org/10.47679/jchs.202110

Crossmark and Dimension

Verify authenticity via CrossMark

sinta-3

sinta-3

template

Before Submission

Keywords

visitors

Journal Visitors

Flag Counter

View MyStat

View MyStat

custom_header

P-ISSN: 2809-3275
E-ISSN: 2809-2236