Pengaruh Pendidikan Kesehatan Kanker Serviks Terhadap Sikap dalam Melakukan Pemeriksaan IVA

Vol. 1 No. 2: 2021 | Pages: 35-40

DOI: 10.47679/jchs.202114   Reader: 1562 times PDF Download: 436 times

Abstract

PENDAHULUAN

Kanker serviks salah satu jenis kanker yang berkembang secara pesat dan mengkhawatirkan. Kanker serviks merupakan salah satu kanker penyebab utama kematian wanita di seluruh dunia. Kanker serviks menduduki urutan tertinggi di negara berkembang dan berada pada urutan ke 10 di negara maju atau urutan ke 5 secara global (Kemenkes, 2015).

Jumlah kasus baru kejadian kanker serviks (WHO) pada tahun 2018 sebesar 530.000. Kasus kanker serviks ini juga semakin meningkat di seluruh dunia, dimana diperkirakan 10 juta kasus baru per tahun dan akan meningkat menjadi 15 juta kasus pada tahun 2020. Globocon (2016) mencatat insiden kanker serviks di dunia sebesar 19,3% dengan kematian sebesar 17% dan insiden kanker serviks di Indonesia mencapai 13% dengan kematian 10,3% (WHO, 2018)

Berdasarkan data WHO Indonesia berada di urutan kedua kanker serviks dengan angka kejadian 23,4 per 100.000 penduduk. Provinsi dengan kejadian prevalensi tertinggi adalah Kepulauan Riau, Maluku Utara, dan D.I Yogyakarta yaitu sebesar 1,5% sedangkan berdasarkan estimasi jumlah penderita kanker serviks terbanyak terdapat di Provinsi Jawa Timur dan Provinsi Jawa Tengah (Kemenkes, 2015).

Tes IVA adalah suatu metode skrining kanker serviks dengan menggunakan larutan asam asetat 3-5% pada serviks dan melihat perubahan warna yang terjadi setelah melakukan olesan yang bertujuan untuk melihat adanya sel kanker yang mengalami dysplasia. Metode inspeksi visual ini lebih mudah dan sederhana. Metode ini dapat dilakukan disemua tingkat pelayanan kesehatan oleh petugas terlatih termasuk bidan.

Kejadian kanker serviks dapat dicegah, pencegahan dapat dilakukan dengan dua cara yakni dapat dilakukan dengan dua cara yakni pencegahan primer dengan melakukan vaksin Human Papilloma Virus (HPV) dan pencegahan sekunder dengan melakukan skrining (deteksi dini). Kegiatan deteksi dini kanker leher rahim dapat dilakukan dengan metode inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA), pemeriksaan IVA bertujuan untuk menemukan lesi pra kanker rahim sebelum menjadi kanker (Wahidin, 2015).

Banyak faktor yang berhubungan dengan keikutsertaan ibu untuk ikut serta pada test IVA diantaranya adalah faktor perilaku yang dipengaruhi oleh sikap ibu. Wanita yang bersikap baik berpotensi lebih besar menjalani pemeriksaan IVA, jika dibandingkan dengan wanita yang bersikap kurang baik. Kendala program IVA diantaranya adalah sikap ibu yang tidak mau untuk memeriksakan diri karena merasa malu, merasa tidak ada gejala kanker leher rahim, dan merasa tidak perlu untuk memeriksakan diri (Sri Mulyati, 2015).

Pendidikan kesehatan juga merupakan upaya untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat yang berfokus pada aspek pencegahan. Peningkatan pengetahuan WUS tentang kanker serviks, etiologi, tanda dan gejala, penatalaksanaan, faktor resiko dan pencegahan diharapkan dapat mempengaruhi cara berpikir WUS terhadap kanker serviks agar menjadi waspada (Notoatmodjo, 2010).

Salah satu media yang dapat digunakan untuk memberikan pendidikan kesehatan yaitu leaflet. Leaflet adalah suatu bentuk media publikasi yang berupa kertas selebaran dengan ukuran tertentu, disajikan dalam bentuk lembaran kertas berlipat (pada umumnya 2-3 lipatan). Ukuran leaflet biasanya 20 x 30 cm, berisi tulisan 200-400 kata. Isi harus ditangkap sekali baca (Kholid, 2014).

Cakupan deteksi dini kanker serviks dengan metode IVA di Kabupaten Pringsewu pada tahun 2017 berjumlah 987 pemeriksa atau 15,4%. Dengan 1cakupan target 26,8% dari jumlah wanita usia subur 57.934. berdasarkan presurvey yang dilakukan di Puskesmas Pringsewu, program skrining kanker serviks dengan metode IVA memiliki cakupan target 50%, cakupan pemeriksa 15%, cakupan kesenjangan 35% dengan pekon pemeriksa paling rendah adalah margakaya 7% dari 8 wilayah kerja puskesmas Pringsewu.

Berdasarkan permasalahan tersebut dan pentingnya pelaksanaan skrining kanker serviks metode IVA maka peneliti tertarik untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan kanker serviks terhadap sikap daam melakukan pemeriksaan IVA pada ibu usia subur di Desa Margakaya Kabupaten Pringsewu.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Dengan pendekatan yang digunakan adalah Quasi Eksperiment. Dengan menggunakan desain penelitian Non-Randomized Control group Pretest-Posttest (Notoatmodjo, 2012).

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang akan diteliti oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu usia subur yang terdapat di Desa Margakaya Kabupaten Pringsewu tahun 2018 sebanyak 982 orang. (Notoatmodjo, 2012). Besar sampel yang didapat dari jumlah populasi 982 orang yaitu 43 responden. Teknik pengambilan sample dengan menggunakan purposive sampling.

HASIL PENELITIAN

Variabel Frekuensi Presentase (%)
Usia
15-30 10 23,3
31-40 15 34,9
41-50 18 41,9
Pendidikan
SD 14 32,6
SMP 19 44,2
SMA 10 23,3
Pekerjaan
Bekerja 21 48,8
Tidak bekerja 22 51,2
Table 1. Distribusi frekuensi responden menurut usia ibu usia, Pendidikan dan pekerjaan (N=43)

Berdasarkan tabel 1 menunjukan bahwa pendidikan ibu usia subur di Desa Margakaya paling tinggi adalah SMP dengan jumlah 19 orang (44,2%). Pendidikan ibu usia subur di Desa Margakaya paling tinggi adalah SMP dengan jumlah 19 orang (44,2%). Pekerjaan ibu usia subur di Desa Margakaya rata-rata tidak bekerja atau bersatatus ibu rumah tangga dengan jumlah 22 orang (51,2%).

Karakteristik Jumlah (n) Presentase (%)
Sebelum
Sikap Baik 11 25,6
Sikap Kurang 32 74,4
Sesudah
Sikap Baik 26 60,5
Sikap Kurang 17 39,5
Table 2. Skor sikap ibu sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan pemeriksaan IVA (N=43).

Berdasarkan tabel 2 distribusi frekuensi sikap sebelum diberikan pendidikan kesehatan pemeriksaan IVA didominasi oleh sikap yang kurang yaitu sebesar 32 orang (74,4%). Distribusi frekuensi sikap setelah diberikan pendidikan kesehatan pemeriksaan IVA didominasi oleh sikap yang baik yaitu sebesar 26 orang (60,5%).

Sikap Ibu Usia Subur Sikap sesudah Total P value
Sikap sebelum Baik Kurang
Sikap baik 6 (14,0%) 5 (11,6%) 11 (25,6%) 0,004
Sikap kurang 20 (46,5%) 12 (27,9%) 32 (74,4%)
Total 26 (60,5%) 17 (39,5%) 43 (100,0%)
Table 3. perbedaan Pendidikan Kesehatan Kanker serviks terhadap Sikap Pemeriksaan IVA pada Ibu Usia Subur

Berdasarkan diatas terlihat bahwa nilai significancy p=0,004 (p <0,05) yang menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara sikap sebelum diberikan intervensi dan sesudah diberikan intervensi pendidikan kesehatan pemeriksaan IVA.

PEMBAHASAN

Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

Berdasarkan tabel 4.1 hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata ibu usia subur di Desa Margakaya didominasi oleh usia dengan rentang 41-50 tahun sebanyak 18 orang (41,9%). Hal ini menunjukan bahwa usia ibu dapat mempengaruhi dalam melakukan pemeriksaan IVA.

Penjelasan diatas juga diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Anin dan Etik (2015) yang menyatakan bahwa pada rentang usia 46-50 tahun memliki sikap yang baik hal ini dikarenakan salah satu faktor pembentuk sikap adalah usia, yakni usia individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja.

Penelitian ini juga sejalan dengan teori bahwa usia merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi seseorang. Selain itu semakin cukup usia maka seseorang akan lebih dewasa dan mudah percaya sehingga apabila mendapat informasi akan mudah diterima Semakin bertambahnya usia akan bertambah pula pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki (Notoatmodjo, 2010).

Hasil penelitian dari rata-rata usia yang di dapat 41-50 tahun. Menurut peneliti bahwa pada rentang usia tersebut mempunyai pola pikir yang semakin berkembang, sehingga rentang usia tersebut lebih banyak dalam melakukan pemeriksaan IVA. Pada usia>41 dimana ibu mengalami kematangan dalam berpikir, sehingga dapat memilih sesuatu yang benar salah satunya adalah dalam melakukan pemeriksaan IVA dalam bentuk pencegahan penyakit kanker serviks dan pentingnya mengetahui bagaimana pencegahan dan penanggulangan IVA tersebut.

Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan

Berdasarkan tabel 4.2 menunjukan bahwa mayoritas responden berpendidikan SMP dengan jumlah 19 (44,2%). Penelitian ini memiliki kesesuaian dengan penelitian Latifa (2015) yang menyatakan bahwa pengetahuan sangat erat kaitannya dengan pendidikan. Namun perlu ditekankan bahwa seseorang yang berpendidikan rendah tidak berarti mutlak berpengetahuan rendah pula. Dalam hal ini, tidak menutup kemungkinan seseorang tersebut memperoleh pengetahuan dari pendidikan non formal atau berbagai informasi yang diperoleh dari berbagai media.

Dengan demikian pendidikan dapat mempengaruhi cara pandang seseorang terhadap informasi baru yang diterimanya. Maka dapat dikatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikannya, semakin mudah seseorang menerima informasi yang didapatnya. Dalam pendidikan terdapat proses bimbingan yang diberikan seseorang kepada orang lain terhadap sesuatu hal agar mereka dapat memahami. Tidak dapat dipungkiri bahwa makin tinggi pendidikan seseorang semakin mudah pula mereka menerima informasi dan makin banyak pengetahuan (Mubarak 2008 dalam Fitria 2018).

Berdasarkan hasil tersebut pendidikan SMP sudah dikatakan cukup. Peneliti berpendapat pendidikan SMP merupakan responden yang sudah termasuk dalam jenjang pendidikan level menengah, sehingga lebih mudah mencerna suatu pengalaman dan pengetahuan baru. Pendidikan formal berfungsi sebagai sarana pemberdayaan individu dalam meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan potensi diri. Oleh karena itu, jenjang pendidikan SMP sudah dikatakan cukup untuk mengembangkan wawasan dan mengikuti perkembangan baru terutama dalam pencegahan suatu penyakit.

Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan

Berdasarkan tabel 4.3 menunjukan bahwa mayoritas responden didominasi dengan tidak bekerja dengan jumlah 22 orang (51,2%). Hasil penelitian ini memiliki kesesuaian dengan penelitian Finaninda (2016) yang juga menjelaskan bahwa mayoritas ibu tidak bekerja atau berstatus ibu rumah tangga yang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang kurang berkembang. Hal ini disebabkan pekerjaan memiliki lingkungan kerja yang dapat memberikan pengalaman dan pengetahuan secara langsung maupun tidak langsung, sehingga ibu rumah tangga yang hanya berhubungan dengan orang-orang di sekitar rumah saja banyak tidak mengetahui dan melakukan pemeriksaan IVA.

Penelitian ini memiliki kesesuaian dengan penelitian yang dilakukan oleh Ni Nyoman dan Faridah (2018) yang menyatakan pekerjaan berkaitan dengan minat seseorang untuk melakukan sesuatu dalam hal ini memiliki kemauan untuk melakuan pemerkisaan IVA.

Hasil ini sesuai dengan teori Notoatmodjo (2010), yang mengatakan bahwa seseorang yang bekerja akan memiliki pengetahuan yang lebih luas daripada yang tidak bekerja karena dengan bekerja seseorang akan banyakmendapatkan informasi dan pengalaman. Perbedaan antara hasil penelitian dengan teori kemungkinan disebabkan karena ibu rumah tangga memiliki waktu yang lebih banyak di rumah dan memiliki aktivitas sosial yang lebih tinggi serta lebih cenderung mengikuti penyuluhan atau promosi kesehatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan.

Berdasarkan hasil tersebut menurut peneliti responden yang bekerja akan lebih besar kemungkinan untuk mendapatkan informasi mengenai pemeriksaan IVA karena banyaknya arus informasi yang ia terima namun mereka cenderung lebih banyak menghabiskan waktu ditempat mereka bekerja sehingga berkemungkinan besar tidak sempat dalam melakukan pemeriksaan IVA. Sedangkan bagi responden yang tidak bekerja, waktu luang yang mereka miliki lebih banyak untuk melakukan pemeriksaan IVA namun arus informasi mengenai pemeriksaan IVA cenderung lebih sedikit.

Sikap ibu sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang kanker serviks di Desa Margakaya

Berdasarkan distribusi frekuensi sikap responden menunjukan 11 orang (25,6%) responden mempunyai sikap yang kurang baik. Terjadi perubahan sikap responden setelah menerima penyuluhan yaitu meningkat menjadi 26 orang (60,5%) yang memiliki peningkatan yang signifikan.

Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Martiningsih (2013) yang menunjukan bahwa sikap yang cukup baik termasuk responden yang memiliki sikap terbuka atau ekstrofet pada orang lain, termasuk menerima pendapat orang lain mengenai kesehatan. Sikap yang baik ini juga tidak terlepas keinginan responden untuk melakukan pencegahan terjadinya kanker serviks. Responden tentunya berharap tidak terjadi kanker serviks pada dirinya. Sikap ini di tunjukan dari nilai kuisioner sikap yang diberikan.

Secara teori sikap menurut Gerungan (1966, dalam Wawan 2010) menyatakan bahwa sikap merupakan pandangan atau sikap perasaan yang bertindak sesuai dengan sikap terhadap objek. Perasaan merupakan manifestasi dari sikap terhadap suatu objek pada umumnya reaksi emosional dalam komponen afektif dipengaruhi oleh kepercayaan atau keyakinan seseorang terhadap objek tersebut.

Penelitian ini didukung oleh teori menurut Notoatmodjo (2010) sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek tertentu yang melibatkan faktor pendapat dan emosi.

Hasil penelitian yang didapat menurut peneliti kemungkinan besar sikap baik yang dimiliki Ibu usia subur yang timbul adalah aktualisasi dalam tindakan upaya pencegahan, pembentukan sikap dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pengalaman pribadi, kebudayaan, lingkungan, media social, agama dan emosi dalam diri. Dengan kata lain bahwa ibu yang memiliki sikap yang baik atau rendah dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, karena sikap bukan merupakan suatu tindakan suatu aktivitas akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku.

Pengaruh pendidikan kesehatan kanker serviks pada ibu usia subur terhadap sikap pemeriksaan IVA sebelum dan sesudah diberikan intervensi

Berdasarkan tabel 4.6 hasil uji statistic dengan menggunakan uji Mc nemar dengan p=0,004 didapatkan perbedaan pada analisa sikap sebelum dan sesudah diberikan intervensi pendidikan kesehatan kanker serviks, karena nilai significancy p<0,05 maka terdapat pengaruh sikap sebelum dan sesudah intervensi.

Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Triani (2018) dengan hasil uji statistic nilai p value (0,030) p<α 0,05, menyatakan bahwa faktor yang dapat mempengaruhi sikap adalah lingkungan sosial misalnya saja banyaknya teman, keluarga bahkan lingkungan sekitar yang mendukung dan memiliki sikap positif terhadap kanker serviks dan minat melakukan IVA akan mempengaruhi pembentukan sikap positif juga pada diri orang tersebut untuk memiliki minat dalam melakukan pemeriksaan IVA.

Hasil penelitian ini diperkuat oleh Nurhayati (2019) dengan hasil uji statistic dengan menggunakn uji Chi-Square diperoleh nilai p value = 0,018 (p value< 0,05) yang menyatakan bahwa adanya responden yang memiliki sikap negative tetapi mau melakukan pemeriksaan IVA disebabkan oleh rasa ingin menghargai informasi dan ajaran yang diterimanya dari lingkungan. Sedangkan responden yang bersikap positif tapi mau melakukan pemeriksaan IVA disebabkan oleh keinginan responden untuk melakukan sesuatau yang dianggap baik serta dorongan dari teman yang sudah melakukan pemeriksaan IVA.

Sikap adalah perasaan, pikiran dan cenderung seseorang yang kurang lebih bersifat permanen mengenai aspek-aspek tertentu dalam lingkungannya. Sikap menunjukan kesetujuan dan ketidaksetujuan, suka atau tidak suka seseorang terhadap sesuatu, sehingga ada beberapa faktor yang mempengaruhi sikap yaitu pengalaman pribadi, pengaruh orang lain yang dianggap penting, pengaruh kebudayaan, media massa atau sumber informasi, faktor emosional, lembaga pendidikan dan lembaga agama Azwar (2013)

Teori lain yang juga dijelaskan oleh Notoatmodjo (2010) adalah sikap merupakan reaksi yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu objek tertentu yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan selain itu dalam komponen pokok sikap terdapat kehidupan emosional orang terhadap suatu objek.

Berdasarkan hasil tersebut menurut peneliti responden yang memiliki sikap yang mendukung terhadap pemeriksaan lebih besar kemungkinan untuk melakukan pemeriksaan IVA. Sikap yang muncul dari dalam diri responden harus dibarengi dengan faktor lain seperti ketersediaan fasilitas, sikap tenaga kesehatan juga perilaku tenaga kesehatan itu sendiri. Sedangkan responden yang memiliki sikap yang tidak mendukung terhadap pemeriksaan IVA cenderung akan menolak untuk melakukan pemeriksaan IVA jika tidak ada faktor eksternal yang memaksa responden tersebut untuk melakukan pemeriksaan IVA.

KESIMPULAN

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Margakaya pada bulan Mei-Juni 2019 dengan jumlah responden sebanyak 43 ibu usia subur. Berdasarkan analisis dan pembahasan sebelumnya tentang pendidikan kanker serviks terhadap sikap pemeriksaan IVA, maka disimpulkan bahwa:

  1. Karakteristik responden dalam penelitian berdasarkan usia, usia yang paling dominan adalah usia dengan rentang 41-50 tahun sebanyak 18 orang (41,0%). Sedangkan karakteristik responden berdasarkan pendidikan didominasikan oleh ibu yang mempunyai pendidikan SMP yaitu 19 orang (44,2%) dan karakteristik responden berdasarkan pekerjaan didominasikan oleh ibu yang tidak bekerja yaitu 22 orang (51,2%).
  2. Distribusi frekuensi sikap ibu sebelum diberikan pendidikan kesehatan tentang kanker serviks sebanyak 11 orang (25,6%) memiliki sikap yang baik, 32 orang (74,4%) memiliki sikap yang kurang.
  3. Distribusi frekuensi sikap ibu sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang kanker serviks sebanyak 26 orang (60,5%) memiliki sikap baik dan sebanyak 17 orang (39,5%) memiliki sikap yang kurang.
  4. Ada pengaruh antara pendidikan kesehatan kanker serviks terhadap sikap dalam pemeriksaan IVA pada ibu usia subur dengan nilai (p-value=0,004).

SARAN

Berdasarkan kesimpulan di atas maka peneliti memberikan saran sebagai berikut kepada berbagai pihak:

1. Bagi objek penelitian

Untuk ibu usia subur sebaiknya mencari informasi yang banyak mengenai kanker serviks dan dampak dari kanker serviks melalui berbagai media informasi seperti media social, dan informasi melalui orang lain.

2. Bagi petugas kesehatan

Bagi petugas kesehatan untuk lebih memperhatikan untuk memberikan pendidikan kesehatan mengenai kanker serviks dan pencegahannya. Supaya para masyarakat dapat merubah pola pikir mereka tentang penyakit yang berbahaya.

3. Bagi peneliti selanjutnya

Diharapkan untuk peneliti selanjutnya dapat mengembangkan penelitian ini terkait dalam upaya pencegahan kanker serviks.

DECLARATIONS

Funding Statement

The authors did not receive support from any organization for the submitted work and No funding was received to assist with the preparation of this manuscript.

Conflict of Interest Statement

This research has no significant conflict. All the authors listed in this article have no involvement with outside parties. All authors approve the research results for publication, and all sources of writing have been included in the references.

Authors Contributions

The first author is responsible for making research proposals, identifying the questionnaires used, making research explanations and approval sheets, analyzing data, making final research reports, searching for journals for publication, and making publication manuscripts. The second and third authors are tasked with collecting data and coding in excel from the data collection results.

Availability of data and materials

Data and materials from the research will be accessible to readers after contacting the author.

Copyright and Licenses

Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under an Attribution-ShareAlike 4.0 International (CC BY-SA 4.0) that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.

References

  • Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

    Andri, Y. T. 2017. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sikap Pasangan Usia Subur (PUS) Melakukan Skrining Kanker Serviks Metode IVA di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Wilayah Utara Kota Kediri. Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No. 2 Mei 2017. ISSN: 2579-7301.

    Anin, NR dan Etik, S. 2015. Hubungan Antara Sikap Pencegahan Kanker Serviks Dengan Minat Deteksi Dini Menggunakan Inspeksi Visual Asam Asetat Pada Wanita Usia Subur Di RW IV Desa Cangkol Mojolaban Sukoharjo.

    Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. 2015. Profil Kesehatan Provinsi Lampung. Artikel 2 November 2018.

    Elisa, F. 2016. Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Sikap Deteksi Dini Kanker Leher Rahim deangan Test IVA pada Wanita Usia Subur (WUS) di Wilayah Kerja Puskesmas Helvetia Kota Medan. Kuesioner Penelitian.

    Endah, S. R. 2016. Efektifitas Pendidikan Kesehatan Dengan Media Audio Visual Deteksi Dini Kanker Serviks Melalui Metode IVA Terhadap Sikap Pencegahan Kanker Serviks di Desa Wanopolo Kecamatan Mijen Semarang.

    Fitria, D. A. 2015. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Implementasi Program Deteksi Dini Kanker Serviks Melalui Pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam asetat). Puskesmas Wilayah Kota Surabaya.

    Fitria, I. W.2018. Efektifitas Penyuluhan Kesehatan Tentang IVA Test Dalam Peningkatan Sikap Wanita Untuk Deteksi Dini Kanker Serviks.

    Kholid, Ahmad. 2014. Promosi Kesehatan: Dengan Pendekatan Teori Perilaku, Media dan Aplikasinya untuk Mahasiswa dan Praktisi Kesehatan. Jakarta: Rajawali Pers.

    Kemenkes RI. 2015. Panduan Program Nasional Gerakan Pencegahan dan Deteksi Dini Kanker Leher Rahim dan Kanker Payudara, 21 April 2015. Jakarta: Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular. Artikel 2 November 2018.

    Marmi dalam Istiqomah dan Suparmi. 2018. Deteksi Dini Kanker Leher Rahim Melalui Pemeriksaan IVA Test di Puskesmas Plupuh 1 Sragen. Jurnal kesehatan Vol 5 No. 2 mei 2017.

    Mulyati, Sri, et, Al. 2015. Pengaruh Media Film Terhadap Sikap Ibu Pada Deteksi Dini Kanker Serviks. Jurnal Kesehatan Masyarakat. http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/kemas.

    Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasinya Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta.

    Notoatmodjo, Soekidjo. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta.

    Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. 2015. Stop Kanker: Jakarta Selatan.

    Retno, PYS dan Teni, T. 2017. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) Dalam Deteksi Dini Kanker Serviks Pada Pasangan Usia Subur di Desa Karanganom Kecamatan Kauman Kabupaten Tulungagung. Global Health Science, Volume 2 Issue 3, September 2017. Http://jurnal.csdforum.com/index.php/ghs

    Sastrosudarmo, Wh. 2016. Kanker the Silent Killer. Jakarta: Garda Media

    Sawitri dan Sunarsih. 2018. Pengaruh Penyuluhan Kanker Serviks terhadap Motivasi Keikutsertaan Wanita Melakukan Pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) di Puskesmas Adi Luhur, Kabupaten Mesuji, Indonesia. Jurnal Kesehatan Volume 9, Nomor 1, April 2018. ISSN 2086-7751 (Print), ISSN 2548-5695 (Online).Http://ejurnal.poltekkes-tkj.ac.id/index.php/JK.

    Sri, W. 2013. Pengaruh Penyuluhan Kanker Serviks Terhadap Keikutsertaan Pemeriksaan IVA Pada Ibu Usia 30-50. Puskesmas Kasihan 1 Bantul.GLOBAL HEALTH SCIENCE, Volume 2 Issue 3, September 2017. Http://jurnal.csdforum.com/index.php/ghs.

    Sri, M. 2015. Pengaruh Media Film Terhadap Sikap Ibu Pada Deteksi Dini Kanker Serviks. Jurnal Kesehatan Masyarakat. http://journal.unnes.ac.id/nj/index.php/kemas.

    Triana, I, dkk. 2018. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Wanita Usia Subur Terhadap Minat Melakukan IVA test di Puskesmas Kecamatan Jatinegara. JAKHKJ Vol. 4, No. 2, 2018. P-ISSN, 2442-501x, e-ISSN, 2541-2892.

    Wahidin.2015. Deteksi Dini Kanker Leher Rahim dan Kanker Payudara di Indonesia 2007-2014.Buletin Jendela Data & Informasi Kesehatan.

    Wiwit, DI. 2017. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Tingkat Pengetahuan Wanita Pasangan Usia Subur Tentang Deteksi Dini Kanker Serviks Pada Wali Murid TK Islam Al Mujahidin Cilacap.Jurnal Ilmiah Kebidanan, Vol. 8 No. 2 Edisi Desember 2017, hlm 13-21

    Wawan, A dan Dewi, M. 2010. Teori & Pengukuran Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Manusia. Yogyakarta: Nuha Medika

    World Health Organization. 2016. Estimated Cancer Incidence, Mortality and Prevalence Worldwide in 2012. http://globocan .iarc.fr/default.aspx. Artikel 27 Maret 2018.

Rights and permissions

© The Author(s) 2021
Open Access This article is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License (CC BY-SA 4.0), which permits others to share, adapt, and redistribute the material in any medium or format, even for commercial purposes, provided appropriate credit is given to the original author(s) and the source, a link to the license is provided, and any changes made are indicated. If you remix, transform, or build upon the material, you must distribute your contributions under the same license as the original. To view a copy of this license, visit https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/.

Fulltext

Keywords

  • Health Education
  • Attitude
  • IVA Screening
  • Pendidikan Kesehatan
  • Sikap
  • Pemeriksaan IVA

Author Information

Purwaningsih Purwaningsih

Program Studi Sarjana Keperawatan Fakultas Kesehatan Universitas Aisyah Pringsewu, Indonesia.

Eva Yunitasari

Program Studi Sarjana Keperawatan Fakultas Kesehatan Universitas Aisyah Pringsewu, Indonesia.

Article History

Submitted: 16 May 2021
Accepted: 30 October 2021
Published: 17 November 2021

How to Cite This

Purwaningsih, P., & Yunitasari, E. (2021). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Kanker Serviks Terhadap Sikap dalam Melakukan Pemeriksaan IVA. Journal of Current Health Sciences, 1(2), 35–40. https://doi.org/10.47679/jchs.202114

Crossmark and Dimension

Verify authenticity via CrossMark

sinta-3

sinta-3

template

Before Submission

Keywords

visitors

Journal Visitors

Flag Counter

View MyStat

View MyStat

custom_header

P-ISSN: 2809-3275
E-ISSN: 2809-2236