Faktor-faktor yang Mempengaruhi Preeklampsia pada Kehamilan Primigravida

Vol. 3 No. 1: April 2022 | Pages: 19-26

DOI: 10.47679/makein.202242   Reader: 4146 times PDF Download: 713 times

Abstract

PENDAHULUAN

Kehamilan adalah proses di mana sperma menembus ovum sehingga terjadinya konsepsi dan fertilisasi sampai lahirnya janin lamanya hamil normal adalah 280 hari. Proses kehamilan adalah bertemunya sel sperma pria dengan sel telur matang dari wanita sehingga terjadinya konsepsi dan fertilisasi yang membutuhkan energi yang banyak dan asupan gizi yang tepat akan membantu tumbuh kembang janin yang masih berada di dalam kandungan selama hamil normal 280 hari sampai janin lahir (Mandang, Dkk 2016).

Preeklampsia adalah kelainan multi sistematik yang terjadi pada kehamilan yang ditandai dengan adanya hipertensi dan edema serta dapat disertai protein urien biasanya terjadi pada umur kehamilan 20 minggu ke atas atau dalam triwulan ke-3 dari kehamilan tersering pada kehamilan 37 minggu. Ataupun dapat terjadi segera sesudah persalinan. Preeklampsia merupakan sindroma spesifik kehamilan yang terutama berkaitan dengan berkurangnya perfusi organ akibat vasospasme dan aktivasi endotel yang bermanifestasi dengan adanya peningkatan tekanan darah dan protein urine. Preeklampsia dapat berkembang dari ringan sedang sampai dengan berat yang dapat berlanjut menjadi eklampsia (Lalenoh, 2018).

Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) Kematian ibu sangat tinggi. Sekitar 295.000 wanita meninggal selama dan setelah kehamilan dan persalinan pada tahun 2017. Sebagian besar kematian ini (94%) terjadi di rangkaian sumber daya rendah, dan sebagian besar dapat dicegah. Afrika Sub-Sahara dan Asia Selatan menyumbang sekitar 86% (254.000) dari perkiraan kematian ibu global pada tahun 2017. Afrika Sub-Sahara saja menyumbang sekitar dua pertiga (196.000) kematian ibu, sementara Asia Selatan menyumbang hampir seperlima (58.000) (WHO, 2017).

Pada saat yang sama antara tahun 2000 dan 2017, Asia Selatan mencapai penurunan AKI terbesar secara keseluruhan: penurunan hampir 60% (dari AKI 384 menjadi 157). Meskipun AKI-nya sangat tinggi pada tahun 2017, Afrika sub-Sahara sebagai sub-wilayah juga mencapai penurunan AKI yang substansial hampir 40% sejak tahun 2000. Selain itu, empat sub-wilayah lain secara kasar mengurangi AKI mereka selama periode ini: Asia Tengah, Timur Asia, Eropa dan Afrika Utara. Secara keseluruhan, rasio kematian ibu (MMR) di negara kurang berkembang turun di bawah 50%. Tingginya angka kematian ibu di beberapa wilayah di dunia mencerminkan ketidaksetaraan dalam akses ke layanan kesehatan yang berkualitas dan menyoroti kesenjangan antara si kaya dan si miskin. AKI di negara berpenghasilan rendah pada tahun 2017 adalah 462 per 100.000 kelahiran hidup dibandingkan 11 per 100.000 kelahiran hidup di negara berpenghasilan tinggi (WHO, 2017).

Wanita meninggal akibat komplikasi kehamilan dan persalinan. Sebagian besar komplikasi ini berkembang selama kehamilan dan sebagian besar dapat dicegah atau diobati. Komplikasi lain mungkin ada sebelum kehamilan tetapi memburuk selama kehamilan, terutama jika tidak ditangani sebagai bagian dari perawatan wanita. Komplikasi utama yang menyebabkan hampir 75% dari semua kematian ibu adalah: perdarahan hebat (kebanyakan perdarahan setelah melahirkan), infeksi (biasanya setelah melahirkan), tekanan darah tinggi selama kehamilan (pre-eklampsia dan eklampsia), komplikasi dari persalinan, aborsi tidak aman. Sisanya disebabkan oleh atau terkait dengan infeksi seperti malaria atau terkait dengan kondisi kronis seperti penyakit jantung atau diabetes.

Preeklampsia harus dideteksi dan ditangani dengan tepat sebelum timbulnya kejang (eklampsia) dan komplikasi lain yang mengancam jiwa. Pemberian obat-obatan seperti magnesium sulfat untuk pre-eklampsia dapat menurunkan risiko wanita terkena eklampsia (WHO, 2017).

Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat keberhasilan upaya kesehatan ibu. AKI adalah rasio kematian ibu selama masa kehamilan, persalinan dan nifas yang disebabkan oleh kehamilan, persalinan, dan nifas atau pengelolaannya tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan atau terjatuh disetiap 100.000 kelahiran hidup. Hasil SUPAS Tahun 2015 memperlihatkan angka kematian ibu tiga kali lipat dibandingkan target MDGs (Kemenkes RI, 2019). Pada tahun 2015 AKI mencapai 305 per 100.000 kelahiran hidup yang disebabkan karena perdarahan mencapai 38,24% (111,2 per 100.000 kelahiran hidup), preeklampsia berat 26,47% (76,97) per 100.000 kelahiran hidup), akibat penyakit bawaan 19,41 (56,44 per 100.000 kelahiran hidup), dan infeksi 5,88% (17,09 per 100.000 kelahiran hidup) (Kemenkes RI, 2019).

Republic of rewanda ministry of health melaporkan bahwa terdapat lima penyebab utama morbiditas di bidang obstetri ginekologi di antaranya adalah eklampsia dan preeklampsia berat yang menempati nomor urut teratas. Komplikasi kehamilan akibat PEB dan eklampsia terjadi pada hampir sekitar 2 ribu kelahiran di United Kingdom dan merupakan satu dari beberapa penyebab utama kematian maternal, serta outcome yang buruk pada bayi. Dari total kehamilan dengan PEB dan eklampsia 23% di antaranya membutuhkan ventilasi mekanik, 35% mengalami resiko mayor seperti edema paru, gagal ginjal, DIC, HELLP sindrom, sindrom distres respirasi akut, stroke, bahkan henti jantung. Bayi yang dilahirkan dari pasien PEB dan eklampsia mengalami kematian sebanyak 1 diantara 14 kelahiran. Sekitar sepertiga dari kasus kejang eklentik terjadi sebelum pasien dibawa ke rumah sakit. Karena itu penatalaksanaan pasien PEB dengan ancaman eklampsia atau pasien eklampsia saat tiba di unit gawat darurat, proses transfer pasien, sampai dengan penatalaksanaan selanjutnya meliputi prosedur kelahiran pervaginam atau dengan bedah sesar dan pasca bedah (WHO, 2017).

Bila dilihat berdasarkan kasus kematian ibu yang dilaporkan dari sarana pelayanan kesehatan pemerintah dikabupaten/kota selama 2009-2013 cenderung berfluktuasi yaitu dari 125 kasus tahun 2009, meningkat menjadi 143 tahun 2010, meningkat kembali menjadi 152 kasus tahun 2011, meningkat kembali menjadi 178 kasus tahun 2012 dan kemudian sedikit menurun menjadi 158 tahun 2013. Kasus kematian ini masih belum menggambarkan kasus kematian yang sebenarnya ada di masyarakat, mengingat kasus kematian ini adalah kasus kematian yang ditangani oleh tenaga kesehatan. Berdasarkan penyebab kasus kematian ibu tahun 2013, maka penyebab terbesar adalah pendarahan sebesar 31%, eklampsia sebesar 29%, partus lama 0,63%, infeksi 6%, aborsi 1% dan lain-lain 33% (Dinkes Provinsi Lampung, 2015).

Data kematian ibu di Kabupaten Tanggamus tahun 2015 terjadi 16 kasus kematian ibu maternal dengan jumlah lahir hidup sebanyak 12.784 bayi, sehingga di dapat AKI sebesar 125,2 kasus per 100.000 KH. Rincian penyebab kematian ibu di Kabupaten Tanggamus yaitu 7 kasus (43.8%) karena perdarahan, 4 kasus (25%) karena hipertensi dan preeklampsia dan 5 kasus karena penyebab lainnya (Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus, 2016).

Ethiologinya terjadinya preeklampsia belum bisa diketahui secara pasti sampai saat ini, tetapi ada bebrapa faktor yang mempengaruhi terjadinya pre eklampsia yaitu primigravida/ nuliparitas, usia ibu yang ekstrim (<20 th dan >35 th), riwayat keluarga pernah mengalami preeklampsia/eklampsia, penyakit-penyakit ginjal dan hipertensi yang sudah ada sebelum hamil, obesitas, diabetes miletus, penyakit trofloblas (Purwoharjo, 2019).

Adapun Penelitian Terkait dengan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ibu hamil yang mengalami preeklampsia lebih banyak terjadi pada ibu hamil primigravida yaitu 22 (26, 2%). Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji statistik chi square didapatkan ?-value = 0,027 (?-value <0,05) yang artinya H1 diterima. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara primigravida dengan kejadian preeklampsia pada ibu hamil.

Prasurvei yang dilakuka di RSUD Batin Mangunang dengan menggunakan data skunder yang diperoleh dari Rekam Medik (RM) pada tahun 2019 jumlah ibu bersalin 557 yang mngalami preeklampsia sebanyak 64 dari jumlah berikut terdapat 32 ibu bersalin primigravida yang mengalami preeklampsia dan pada tahun 2020 terhitung dari bulan Januari-Desember 2020 dari 121 ibu bersalin primigravida dan terdapat 30 ibu bersalin yang mengalami pre-eklampsia dan 70 ibu yang mengalami preeklampsia dari 419 persalinan. Menurut profil data dari Dinas Kesehatan provinsi Lampung tahun 2017 di provinsi Lampung terdapat sebanyak 45 kasus nya kematian ibu yang di sebabkan oleh Hipertensi Dalam Kehamilan. Dimana HDK merupakan penyebab terbesar kedua dalam kematian ibu setelah perdarahan dalam kehamilan. Sedangkan AKI di kabupaten Tanggamus termasuk dalam lima besar teratas di provinsi Lampung. Dilaporkan bahwa ada sebanyak 99 kematian ibu per 11.084 kelahiran yang disebabkan perdarahan, infeksi, dan eklampsia/preeklampsia. Di Rumah sakit Umum Daerah Batin Mangunang Kota agung sendiri didapatkan data mulai 1 januari 2017 sampai dengan 30 april 2019 terdapat 84 pasien dengan kasus preeklampsia dari 677 pasien yang masuk ke Ruang Kebidanan RSUD Batin Mangunang Kota Agung.

Berdasarkan hasil analisis diatas, dan banyaaknya ibu bersalin yang mengalami preeklampsia di RSUD Batin Mangunang maka penulis tertarik untuk meneliti Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Pre-eklampsia pada kehamilan primigravida Di RSUD Batin Mangunang tahun 2020. Tujuan dari penelitian ini diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian preeklampsia pada kehamilan primigravida di RSUD Batin Mangunang kabupaten Tanggamus 2020 untuk pengembangan ilmu pengetahuan tentang terjadinya preeklampsia pada pelayanan kehamilan dan Diketahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian preeklampsia.

METODE

Penelitian ini adalah jenis penelitian analitik dengan menggunakan desain Cross Sectional, subjek penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin dengan preeklampsiadi Rumah Sakit Umum Batin Mangunang Kabupaten Tanggamus tahun 2020. Obyek penelitian adalah Preeklampsia dan ibu Primigravida. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin dengan preeklampsia di Rumah Sakit Umum daerah Batin Mangunang kabupaten Tanggamus tahun 2020. Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang akan diteliti Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik pengambilan sampel dengan menggunakan total sampling. Total sampling adalah pengambilan sampel yang sama dengan jumlah populasi yang ada. Variabel adalah ukuran ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok lainnya. Variable yang digunakan variabel dependen dan independent. Analisa data mengunakan Analisa univariat dan Analisa bivariat.

HASIL DAN DISKUSI

Tabel 1

Distribusi Frekuensi Usia, riwayat ANC, genetik, penyakit penyerta lain, kehamilan ganda dan paritas pada Ibu bersalin (n=70)

Usia Frekuensi Presentase (%)
Beresiko 28 40,0
Tidak beresiko 42 60,0
Riwayat ANC
< 4 Kali 17 24,3
> 4 kali 53 75,7
Faktor Keturunan
Ada Riwayat 29 41,4
Tidak ada Riwayat 41 58,6
Penyakit penyerta lain
Ada 21 30,0
Tidak ada 49 70,0
Kehamilan ganda
Hamil Ganda 6 8,6
Tidak Hamil Ganda 64 91,4
Paritas
Primigravida 30 42,9
Multigravida 40 57,1
Table.

Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa dari 70 ibu bersalin dengan preeklampsia di RSUD Batin Mangunang Tahun 2020, sebanyak 40% ibu berada pada rentang usia beresiko dan 60% ibu yang lain berada pada rentang usia tidak beresiko. ibu bersalin dengan preeklampsia di RSUD Batin Mangunang kabupaten Tanggamus tahun 2020, 24,3% diantaranya melakukan ANC <4 kali dan 75,7% yang lain melakukan ANC >4 kalselama kehamilan. Dari 70 ibu bersalin dengan preeklampsia di RSUD Batin Mangunang kabupaten Tanggamus tahun 2020, sebanyak 41,4% ibu memiliki riwayat penyakit keturunan dan 58,6% ibu tidak memiliki riwayat penyakit keturunan. Ibu bersalin dengan preeklampsia di RSUD Batin Mangunang Kabupaten Tanggamus tahun 2020, sebanyak 30% diantaranya memliki riwayat penyakit lain dan 70% ibu yang lain tidak memiliki riwayat penyakit lain. Terdapat 8,6% ibu dengan kehamilan ganda dan 91,4% ibu dengan kehamilan tunggal. Dari 70 orang ibu bersalin dengan preeklampsia di RSUD Batin Mangunang Kabupaten Tanggamus tahun 2020, 42,9% diantaranya adalah ibu preeklampsia dengan primigravida dan 57,1% yang lain adalah ibu preeklampsia dengan multigravida.

Berdasarkan tabel 2 diketahui bahwa ibu primigravida dengan preeklampsia yang termasuk dalam rentang usia beresiko sebanyak 56,7% dan pada ibu primigravida dengan preeklampsia yang tidak termasuk pada rentang usia beresiko sebanyak 43,3%. Hasil Uji Statistik di dapatkan Pvalue = 0,026 maka dapat disimpulkan ada hubungan usia ibu terhadap kejadian preeklampsia pada ibu primigravida. Nilai OR 3,444 dapat diartikan bahwa ibu primigravida dengan preeklampsia dan rentang usia beresiko memiliki resiko 3,444 kali lebih besar daripada ibu primigravida dengan preeklampsia dengan rentang usia tidak beresiko. Dan nilai Confidence interval 1.266-9.386.

Hasil studi menunjukkan bahwa ibu primigravida dengan preeklampsia yang mempunyai Riwayat ANC <4 kali sebanyak 26,7% dan ibu primigravida dengan preeklampsia yang mempunyai Riwayat ANC >4 kali adalah 73,3%. Hasil Uji Statistik di dapatkan Pvalue = 0,781 maka dapat disimpulkan tidak ada hubungan riwayat ANC dengan kejadian preeklampsia pada ibu primigravida. Nilai OR 1,253 dapat diartikan bahwa ibu primigravida dengan Riwayat ANC >4 kali memiliki resiko 1,253 kali lebih rendah daripada ibu primigravida dengan kunjungan ANC <4 kali, dengan nilai Confidance interval .418-3.755.

ibu primigravida dengan preeklampsia yang mempunyai faktor keturunan beresiko sebesar 56,7% dan ibu primigravida dengan preeklampsia yang tidak mempunyai faktor keturunan beresiko sebesar 43,3%. Hasil uji statistik di dapatkan Pvalue = 0,030 maka dapat disimpulkan ada hubungan riwayat preeklampsia keluarga dengan kejadian preeklampsia pada primigravida dengan nilai OR 3,051 dapat diartikan bahwa ibu primigravida dengan preeklampsia dan faktor keturunan beresiko memiliki resiko 3,051 kali lebih besar daripada ibu primigravida dengan preeklampsia dengan tidak ada keturunan dengan nilai Confidance interval 1.135-8.206.

ibu primigravida dengan preeklampsia yang mempunyai penyakit penyerta sebanyak 46,7% dan ibu preklampsia primigravida yang tidak mempunyai penyakit penyerta yaitu sebesar 53,3%. Hasil Uji Statistik di dapatkan Pvalue = 0,017 maka dapat disimpulkan ada hubungan penyakit penyerta terhadap kejadian preeklampsia pada primigravida. Nilai OR 4,125 dapat diartikan bahwa ibu primigravida dengan preeklampsia dan Faktor ada penyakit penyerta memiliki resiko 4,125 kali lebih besar daripada ibu primigravida dengan preeklampsia dengan tidak ada riwayat penyakit penyerta, dengan nilai Confidance interval 1.392-12.221.

ibu primigravida yang mengalami preeklampsia dengan kehamilan gemeli sebanyak 10% dan ibu preklampsia primigravida dengan tidak gemeli sebanyak 90,0%. Hasil uji statistik di dapatkan Pvalue = 1, 00 maka dapat disimpulkan tidak ada hubungan kehamilan ganda terhadap kejadian preeklampsia pada primigravida, dengan nilai Confidance interval .257-7.319.

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Analisa Univariat

Usia 20-30 tahun adalah periode paling aman untuk hamil/ melahirkan, akan tetapi di negara berkembang sekitar 10%-20% bayi dilahirkan dari ibu remaja yang sedikit lebih besar dari anak- anak.

Dari hasil penelitian diketahui dari 70 ibu bersalin dengan preeklampsia di RSUD Batin Mangunang Tahun 2020, sebanyak 40% ibu berada pada rentang usia beresiko dan 60% ibu yang lain berada pada rentang usia tidak beresiko. Penelitian ini sejalan dengan teori Yuliawati 2017 yang berjudul Analisis faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya preeklampsia di RS Boyolali ditemukan 34,4% kejadian Preklampsia dialami oleh ibu yang beusia <20 tahun dan >30 tahun.

Pelayanan antenatal (Antenatal Care) adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu selama hamil yang sesuai dengan pedoman pelayanan antenatal yang ditentukan. Diketahui bahwa dari 70 ibu bersalin dengan preeklampsia di RSUD Batin Mangunang kabupaten Tanggamus tahun 2020, 24,3% diantaranya melakukan ANC <4 kali dan 75,7% yang lain melakukan ANC >4 kali selama kehamilan. Penelitian ini sejalan dengan teori olviary 2017 yang berjudul Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Preeklampsia Berat Di RSUD Abdoel Moloek Bandar Lampung di dapatkan hasil didapatkan hasil 70% ibu primigravida dengan preeklampsia sebesar 90% dari mereka tidak melakukan antenatal care.

Faktor Keturunan dengan riwayat preeklampsia dalam keluarga akan menyebabkan terjadinya peningkatan resiko terjadinya preeklampsia pada anggota keluarga yang lain ataupun terjadi berulang pada penderita yang sama pada kehamilan berikutnya.Diketahui bahwa dari 70 ibu bersalin dengan preeklampsia di RSUD Batin Mangunang kabupaten Tanggamus tahun 2020, sebanyak 41,4% ibu memiliki riwayat penyakit keturunan hipertensi dan 58,6% ibu tidak memiliki riwayat penyakit keturunan.Penelitian ini sejalan dengan Yuliawati 2017 yang berjudul Analisis faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya preeklampsia di RS Boyolali didapatkan 8,1% ibu hamil mengalami preeklampsia pada riwayat keturunan keluarga.

Riwayat penyakit penyerta, wanita yang mempunyai riwayat penyakit tertentu sebelumnya, memiliki resiko terjadinya preeklampsia. Penyakit tersebut meliputi hipertensi kronik, diabetes, penyakit ginjal atau penyakit degeneratif seperti rematik artritis atau lupus.Hasil frekuensi diketahui dari 70 ibu bersalin dengan preeklampsia di RSUD Batin Mangunang kabupaten Tanggamus tahun 2020, sebanyak 30% diantaranya memliki riwayat penyakit lain dan 70% ibu yang lain tidak memiliki riwayat penyakit lain. Penelitian ini sejalan dengan teori Olviary (2017) yang berjudul Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Preeklampsia Berat Di RSUD Abdoel Moloek Bandar Lampung didapatkan 41,4% dengan penyakit penyerta.

Preeklampsia dan eklampsia sering terjadi di kehanilan ganda pada kehamilan ganda daripada kehamilan tunggal.Diketahui hasil frekuensi dari 7 di bahwa dari 70 ibu bersalin dengan preeklampsia RSUD Batin Mangunang kabupaten Tanggamus tahun 2020, terdapat 8,6% ibu dengan kehamilan ganda dan 91,4% ibu dengan kehamilan tunggal. Penelitian ini sejalan dengan teori Rhaudatun dkk 2015 yang berjudul Pengaruh Usia, Kehamialn Ganda dan Gravida pada kejadian preeklampsia di Rumah Sakit Umum Meuraxa Banda Aceh tahun 2015 dengan hasil 40 % ibu yang tidak preeklampsia dengan kehamilan ganda.

Usia 20 – 30 tahun adalah periode paling aman untuk hamil/ melahirkan, akan tetapi di negara berkembang sekitar 10%-20% bayi dilahirkan dari ibu remaja yang sedikit lebih besar dari anak- anak. Padahal daru suatu penelitian ditemukan bahwa dua tahun setelah menstruasi yang pertama, seorang wanita masih mungkin mencapai pertumbuhan panggul antara 2–7% dan tinggi badan 1%. Wanita berusia >35 tahun beresiko lebih tinggi mengalami penyulit obstetri serta morbiditas dan mortalitas perinatal. Wanita berusia >35 memperlihatkan peningkatan dalam masalah hipertensi diabetes solusio plasenta, persalinan prematur dan plasenta previa. Dampak usia kurang dari hasil penelitian di negeri Awan Ita usia 15 tahun mempunyai angka kematian 7 kali lebih besar dari wanita usia reproduksi. Faktor usia berhubungan terhadap preeklampsia pada kehamilan wanita remaja pertama atau primigravida.Hasil Analisis diketahui bahwa ibu primigravida dengan preeklampsia yang termasuk dalam rentang usia beresiko sebanyak 56,7% dan ibu primigravida dengan preeklampsia yang tidak termasuk pada rentang usia beresiko sebanyak 43,3%.

Hasil Uji Statistik di dapatkan Pvalue = 0,026 maka dapat disimpulkan ada hubungan usia ibu terhadap kejadian preeklampsia pada ibu primigravida. Nilai OR 3,448 dapat diartikan bahwa ibu primigravida dengan rentang usia beresiko memiliki resiko 3,448 kali lebih besar daripada ibu primigravida dengan rentang usia tidak beresiko. Hal ini sejalan dengan penelitian Sukaisih (2019) dimana hasil penelitian ini menunjukan bahwa usia ibu mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian preeklampsia (p-value = 0,002; OR = 3,202). Artinya ada hubungan usia ibu dengan kejadian preeklampsia pada ibu bersalin primigravida, ibu bersalin dengan usia berisiko (<20 tahun atau >35 tahun) mempunyai risiko 3,202 kali untuk mengalami preeklampsia dibandingkan dengan ibu yang berusia 20-35 tahun. Asumsi peneliti berpendapat bahwa usia merupakan salah satu faktor terjadinya preeklampsia, pada ibu preeklampsia primigravida.

Antenatal care adalah pengawasan sebelum persalinan terutama ditujukan pada pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Pemeriksaan antenatal adalah pemeriksaan kehamilan untuk mengoptimalisasikan kesehatan mental dan fisik ibu hamil, sehingga mampu menghadapi persalinan, kala nifas, persiapan memberikan ASI dan kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar. Seorang ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal dengan minimal 4 kali selama kehamilannya, yaitu 1 kali pada trimester pertama, 1 kali pada trimester ke dua, dan 2 kali pada trimester ke tiga untuk memantau keadaan ibu dan janin secara seksama sehingga dapat mendeteksi preeklampsia secara dini dan dapat memberikan intervensi secara tepat.Hasil Analisis diketahui bahwa ibu primigravida dengan preeklampsia yang mempunyai Riwayat ANC <4 kali 26,7% dan ibu primigravida dengan preeklampsia yang mempunyai riwayat ANC >4 kali adalah 73,3%.

Hasil Uji Statistik di dapatkan Pvalue = 0,781 maka dapat disimpulkan tidak ada hubungan riwayat ANC terhadap kejadian preeklampsia pada ibu primigravida. Adapun penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian (Olviary 2017) yang berjudul faktor-faktor yang berhubungan dengan preeklampsia Berat di RSUD Abdoel Moloek bandar lampung dengan Hasil Penelitain diperoleh Nilai P Value 0.001, OR= 15,731. Asumsi peneliti berpendapat bahwa kita sebagai bidan lebih memotivasi tentang konseling pada kehamilan, terutama tanda bahaya kehamilan, untuk mencegah terjadinya preeklampsia, kunjungan ANC lebih dari 4 kali belum termasuk dapat mencegah preeklampsia pada primigravida sehingga perlu sosialisasi yang lebih baik lagi.

Ada faktor keturunan dan familiar dengan model gen tunggal. Genotype Ibu lebih menentukan terjadinya hipertensi dalam kehamilan secara familiar jika dibandingkan dengan genotipe janin. Telah terbukti bahwa ibu yang mengalami preeklampsia 26% anak perempuan akan mengalami preeklampsia pula. Sedangkan hanya 8% anak menantu yang mengalami preeklampsia. Terdapat bukti bahwa preeklampsia merupakan penyakit yang diturunkan, penyakit ini lebih sering ditemukan pada anak wanita dari ibu penderita preeklampsia atau mempunyai riwayat preeklampsia dalam keluarga. Hasil analisi diketahui bahwa ibu primigravida dengan preeklampsia yang mempunyai faktor keturunan beresiko sebanyak 56,7% dan ibu primigravida dengan preeklampsia yang tidak mempunyai faktor keturunan beresiko sebesar 43,3%. Hasil Uji Statistik di dapatkan Pvalue=0,030 maka dapat disimpulkan ada hubungan penyakit penyerta dengan kejadiaan preeklampsia pada primigravida dengan Nilai OR 3,051 dapat diartikan bahwa ibu primigravida dengan preeklampsia dan Faktor keturunan Beresiko memiliki resiko 3,051 kali lebih besar daripada ibu primigravida dengan preeklampsia dengan tidak ada katurunan.

Preeklampsia adalah penyulit kehamilan yang akut dan dapat terjadi pada post partum dan gejala gejala klinik preklampsia dapat dibagi menjadi preklampsia berat dan ringan pembagian preklampsia menjadi berat dan ringan tidak berarti adanya penyakit yang jelas berbeda sebab seringkali ditemukan penderita dengan preeklampsia ringan dapat mendadak mengalami kejang dan jatuh karena ada penyakit penyerta. Hasil analisis diketahui bahwa ibu primigravida dengan preeklampsia yang mempunyai penyakit penyetra adalah 46,7% dan ibu Preklampsia Primigravida yang tidak mempunyai penyakit penyerta yaitu sebesar 53,3% Hasil Uji Statistik di dapatkan Pvalue = 0,017 maka dapat disimpulkan ada hubungan penyakit penyerta terhadap kejadian preeklampsia pada primigravida. Nilai OR 4,125 dapat diartikan bahwa ibu primigravida dengan preeklampsia dan faktor ada penyakit penyerta memiliki resiko 4,125 kali lebih besar daripada ibu primigravida dengan preeklampsia dengan tidak ada Riwayat penyakit penyerta. Adapun hasil penelitian ini sejalan dengan Yanuarini (2020) menunjukkan bahwa hipertensi kronik (penyakit penyerta) mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian preeklampsia. Ibu dengan hipertensi kronik berpeluang mengalami preeklampsia 3,910 kali 74 lebih besar dibandingkan dengan ibu yang tidak memiliki penyakit penyerta/bawaan, Bahkan pada penelitian ini hipertensi kronik merupakan faktor paling dominan yang menyebabkan terjadinya preeklampsia, dibuktikan dengan analisis multivariat yang menunjukkan p-value 0,000 (OR 5,416).

Kehamilan ganda atau gemelli meningkatkan resiko bagi ibu meliputi kemungkinan hiperemesis gravidarum bertambah, hipertensi akibat kehamilan dan perdarahan post partum, anemia defisiensi besi juga lebih mudah terjadi pada ibu dengan bayi kembar. Hasil analisa diketahui bahwa ibu primigravida yang mengalami preeklampsia dengan kehamilam gemeli sebanyak 10% dan ibu preklampsia primigravida tidak dengan kehamilan gemeli sebanyak 90%. Hasil Uji Statistik di dapatkan Pvalue = 1,00 maka dapat disimpulkan tidak ada hubungan kehamilan ganda dengan kejadian preeklampsia pada primigravida. Penelitian ini tidak sejalan dengan Penelitian yang dilakukan oleh Atikasari (2019) yang berjudul faktor-faktor yang berhubungan dengan preeklampsia pada ibu hamil di rumah sakit Islam Sultan Agung Semarang. Hasil penelitiannya didapatkan nilai p-value= 0,086 sehingga tidak ada hubungan kehamilan ganda dengan kejadian preeklampsia. Dari hasil penelitian ini masih rendahnya kehamilan ganda pada ibu hamil di rumah sakit Islam Sultan Agung. Dengan nilai OR=2.66 yaitu ibu yang memiliki kehamilan ganda mempunyai peluang 2.66 kali yang mengalami kehamilan ganda di bandingkan yang tidak mengalami kehamilan ganda.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan diatas maka dapat disimpulkan bahwa Ada hubungan faktor usia terhadap kejadian preeklampsia pada primigravida di RSUD Batin Mangunang kabupaten Tanggamus tahun 2020. Dengan nilai OR 3.448 yang berarti ibu primigravida dengan usia beresiko memiliki resiko 3,448 kali lebih besar untuk mengalami kejadian preeklampsia dibanding dengan ibu primigravida dengan rentang usia yang tidak beresiko.Tidak ada hubunga nantara riwayat ANC dengan Preeklampsia primigravida dengan di RSUD Batin Mangunang kabupaten Tanggamus tahun 2020. Ada hubungan antara faktor keturunan dengan Preeklampsia primigravida di RSUD Batin Mangunang kabupaten Tanggamus tahun 2020. Dengan nilai OR 3,051 dengan artian bahwa ibu bersalin yang memiliki faktor katurunan dapat beresiko mengalami preeklampsia sebesar 3,051 kali. Ada hubungan antara faktor penyakit penyerta lain dengan Preeklampsia primigravida di RSUD Batin Mangunang kabupaten Tanggamus tahun 2020. Dengan nilai OR 4,125 dengan artian responden yang memiliki penyakit penyerta beresiko 4,125 kali lebih besar untuk mengalami kejadian preeklampsia dibanding dengan responden yang tidak memiliki riwayat penyakit penyerta.Tidak ada hubungan antara Gameli dengan Preeklampsia primigravida dengan di RSUD Batin Mangunang kabupaten Tanggamus tahun 2020. Agar penelitian ini dapat memberikan informasi tentang pentingnya melakukan pemeriksakan kehamilan secara rutin dan selalumelakukan penyuluhan pada masyarakat tentang bahaya preeklampsia sehingga dapat lebih meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat yang pada akhirnya masyarakat tersebut mau mengikuti dan berpartisipasi dalam kegiatan kelas ibu hamil.

Funding Statement

The authors did not receive support from any organization for the submitted work and No funding was received to assist with the preparation of this manuscript

Conflict of Interest statement

Penulis yang namanya tercantum tepat di bawah ini menyatakan bahwa tidak memiliki afiliasi atau keterlibatan dengan pihak luar manapun dan tulisan ini murni dari sumber yang dicantumkan di daftar pustaka serta tidak mengandung plagarisme dari jurnal artikel manapun. Sumber tulisan telah dicantumkan seluruhnya di daftar pustaka.

References

  • American Collagge of Obstetricians and Gynecologis – Task force on Hypertension in Pregnancy. 2013. Hypertension in Pregnancy. Washington DC: ACOG diakses 9 September 2020.
  • Ayu Niwang 2019.Patologi dan Patofisiologi Kebidanan. Nuha Medika
  • Bobak L. Keperawatan Maternitas. Setia R, editor. Jakarta: EGC; 2007
  • Dainty, 2014 asuhan Kebidanan patologi. Bandar lampug
  • Departemen Kesehatan RI 2015. Profil Kesehatan Provinsi Kota. Provinsi Lampung tahun 2015
  • Dines Kesehatan Tanggamus (2016) laporan Tahunan tahun 2016. Lampung. Dinas kesehatan Provinsi Lampung
  • Dinkes Provinsi Lampung (2015). Profil Kesehatan Provinsi Lampung tahun 2015. Bandar Lampung. Dinkes Privinsi Lampung
  • Hastono. 2016. Analisis Data Pada Bidang Kesehatan. Jakarta: Rajawali Pers
  • Jeni Mandang dkk. 2016. Asuhan Kebidanan Kehamilan. Bogor
  • Kemenkes RI (2019). Pusat data dan informasi. Kementrian Kesehatan RI. Jakarta. http://www.depkes.co.id
  • Kurniasari, D & Apriandi. F. 2014. Hubungan Usia Paritas dan Diabetus Militus pada kehamilan dengan kejadian preeklampsia pada ibu hamil di kab. Lampung tengah
  • Lalenoh, Diana C. 2018 Preeklampsia Berat dan Eklampsia: Tatalaksana Anastesia Perioperatif Edisi 1. Yogyakarta: Deppublish
  • Manuaba, IAC Bagus, dan IB Gde.2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB Untuk Pendidikan bidan. Edisi Kedua.Jakarta: EGC
  • Notoadmojo. 2018. Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta
  • Olviary.2017 Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian preeklampsia di Rumah sakit Abdoel Moloek Bandar Lampung tahun 2017.
  • Prawiroharjo,Sarwono.2019 Ilmu Kebidanan Jakarta.PT Bina Pustaka.
  • Profil RSUD Batin Mangunang.2020.Kota Agung Tanggamus
  • Raudhatunuzul dkk 2015. Pengaruh Usia,Kehamilan Ganda dan Gravida pada Kejadian Preeklampsia di Rumah sakit Umum Meuraxa banda aceh tahun 2015 diakses pada tanggal 23 maret 2021
  • Roberts JM, Druzin M, August PA, Gaiser RR, Bakris G, Granger JP, et al. ACOG Guidelines: Hypertension in pregnancy. American College of Obstetricians and Gynecologists. 2012. 1-100 p diakses tanggal 1 januari 2021.
  • Sarwono. 2014. Ilmu kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka
  • Sugiyono. 2016. Metode Penelitian. Bandung: Alfabeta
  • Saifuddin A. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo; 2009.
  • Septiasih 2017 Faktor Resiko Kejadian Preeklmpsia pada ibu bersalindi RSUD Wonosari Kabupaten Gunung Kidul Tahun
  • Wiknjisastro, Hanifa. 2019 Ilmu Kebidanan. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka.Sarwono Prawiroharjo
  • World Health Organization (WHO). 2019. World Health Statistic.Monitoring Health for the SDGS
  • Yuliawati,S.2017 Analisis faktor risiko yang mempengauhi terjadinya preeklampsia di rumah sakit Boyolali. Tesis.Yogyakarta.Program Pasca sarjana UGM.

Rights and permissions

© The Author(s) 2022
Open Access This article is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License (CC BY-SA 4.0), which permits others to share, adapt, and redistribute the material in any medium or format, even for commercial purposes, provided appropriate credit is given to the original author(s) and the source, a link to the license is provided, and any changes made are indicated. If you remix, transform, or build upon the material, you must distribute your contributions under the same license as the original. To view a copy of this license, visit https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/.

Fulltext

Keywords

  • Preeklampsia
  • usia
  • Riwayat ANC

Author Information

Inggit Primadevi

Program studi pendidikan profesi bidan Fakultas Kesehatan Universitas Aisyah Pringsewu, Indonesia.

ORCID : https://orcid.org/0000-0001-6353-901X

Rike Indriani

Program Studi D4 Kebidanan Fakultas Kesehatan Universitas Aisyah Pringsewu, Indonesia.

ORCID : https://orcid.org/0000-0001-6353-901X

Article History

Submitted: 21 June 2021
Accepted: 23 February 2022
Published: 25 April 2022

How to Cite This

Primadevi, I., & Indriani, R. (2022). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Preeklampsia pada Kehamilan Primigravida. Majalah Kesehatan Indonesia, 3(1), 19–26. https://doi.org/10.47679/makein.202242

Crossmark and Dimension

Verify authenticity via CrossMark

sinta3-image

sinta3

template

Before Submission

custom_header

P-ISSN: 2745-6498
E-ISSN: 2745-8008

Keywords

Visitors Statistics

Journal Visitors

Free counters!

Web Analytics