Penatalaksanaan Holistik Pasien Laki-laki Berusia 49 Tahun dengan Demam Berdarah Dengue Melalui Pendekatan Kedokteran Keluarga

Vol. 3 No. 1: April 2022 | Pages: 27-34

DOI: 10.47679/makein.202255   Reader: 3853 times PDF Download: 656 times

Abstract

PENDAHULUAN

Demam berdarahdengue (DBD) merupakan salah satu penyakit infeksi virus akut yang disebabkanoleh virus dengue yang secara umum dapat ditandai dengan gejala demam selama2-7 hari, disertai pula dengan adanya gejala lain dalam bentuk perdarahan,seperti mimisan, bintik-bintik merah pada tubuh, gusi berdarah; penurunantrombosit, adanya bentuk hemokonsentrasi berupa kebocoran plasma dengantanda-tanda seperti peningkatan hematokrit, asites, efusi pleura. Dapat puladisertai dengan gejala yang tidak khas seperti nyeri kepala, nyeri sendi, ototdan tulang, dan nyeri belakang bola mata (Kemenkes RI,2017).

Demam berdarah denguedisebabkan oleh salah satu dari empat serotipe virus dari genus Flavivirus,yang datang dari famili Flaviviridae. Masing-masing serotipe cukupberbeda, sehingga tidak terdapat proteksi-silang atau cross-protection,dan wabah yang disebabkan dari beberapa serotipe (hiperendemisitas) dapatterjadi. Virus ini dapat masuk ke dalam tubuh manusia dengan nyamuk Aedesaegypti dan/atau nyamuk Aedes albopictus sebagai perantara.Jenis-jenis nyamuk tersebut terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia,kecuali di tempat-tempat dengan ketinggian lebih dari 1000 meter di ataspermukaan laut (Sukohar, 2014).

Kejadian luarbiasa (KLB) berkaitan dengan DBD hampir terjadi setiap tahun. Kasus pertamaDBD di Indonesia awalnya dicurigai terjadi di Surabaya pada tahun 1968, dimanabaru diperoleh konfirmasi secara virologis pada tahun 1970. Pada saatkejadian luar biasa (KLB) berlangsung pada tahun 1988, 1039 pasien dirawat diRS. Cipto Mangunkusumo dengan case-fatality rate (CFR) mencapaiangka 13% (Sukohar, 2014). PadaKLB selanjutnya pada tahun 2004, dilaporkan 64.000 kasus terjadi di Indonesiadengan incidence rate 29,7 per 100.000 penduduk, dengan angka kematiansebanyak 724 kasus (case fatality rate/CFR mencapai 1,1%. Bandar Lampungsendiri merupakan salah satu daerah endemis DBD, dengan data yang menyatakanpada tahun 2010 terdapat 763 orang penderita DBD di Bandar Lampung dengan 16kasus meninggal. Pada tahun 2011, jumlah penderita DBD mencapai 413 orangdengan 7 orang meninggal dunia (WHO, 2012). Selanjutnya,pada tahun 2012, terjadi peningkatan jumlah penderita DBD, yaitu menjadi 1111penderita dengan 11 kasus meninggal, yang merupakan tertinggi dibandingkandengan daerah lainnya (IKA, 2012). Secaraglobal, World Health Organization (WHO) mengatakan bahwa padatahun 2020, morbiditas DBD harus diturunkan sebanyak 25% dan tingkat kematianharus diturunkan sebanyak 50%. Kemenkes RI (2018) mencatat di tahun 2018 pada bulan oktober ada 3.219 kasus DBD dengankematian mencapai 32 jiwa, sementaraNovember ada 2.921 kasus 37dengan angka kematian, dan Desember 1.104 kasus dengan 31 kematian. Dibandingkan dengan tahun 2014 padaOktober tercatat 8.149kasus dengan 81kematian, November 7.877kasus dengan 66 kematian, danDesember 7.856 kasus dengan 50 kematian (Depkes, 2018).

Data terakhir yang dibagikan oleh Kementrian Kesehatan RI melaluilaporan Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis(P2PTVZ) pada Juli 2021 menyatakan bahwa lonjakan angka penderita DBD padatahun 2021 berlangsung pada pekan ke-21 mencapai 3.468 kasus dan kemudianmelandai di pekan ke-23, dengan keseluruhan kasus hingga pekan ke-25 mencapai16.156 kasus yang dilaporkan 405 dari total 447 kabupaten/kota di Indonesia.Sebanyak 160 pasien diantaranya dilaporkan meninggal dunia (Kemenkes RI, 2021).

Demam berdarah dengue dapat didiagnosis melalui anamnesis,pemeriksaan fisik, dan juga pemeriksaan penunjang. DBD harus dicurigai apabilaada keluhan demam tinggi (40C) yang timbul mendadak selama 2-7 hari, tinggi danterus menerus disertai dengan 2 dari gejala berikut: sakit kepala, nyeri dibelakang mata, nyeri otot dan sendi, mual yang disertai/tidak disertai denganmuntah, pembengkakan kelenjar, dan/atau disertai pula dengan manifestasiperdarahan seperti ptekiae atau purpura, epistaksis, perdarahangusi, maupun uji torniquet yang positif. Pada DBD, selain gejala danmanifestasi klinis yang didapat dari pemeriksaan fisik, DBD juga disertaidengan adanya gmanifestasi kebocoran plasma akibat peningkatan permeabilitasvascular yang ditandai oleh: peningkatan hematokrit, atau adanya gambaran efusipleura atau asites (Kemenkes RI, 2017).

Pemeriksaan diagnostic dilakukan untuk menunjang diagnosis demamberdarah dengue. Pemeriksaan yang dapat dilakukan ialah pemeriksaandarah, dimana akan didapatkan gambaran perdarahan berupa penurunan jumlahtrombosit (trombositopenia) dan gambaran kebocoran plasma yang dapat dilihatdari peningkatan kadar hematokrit (Kemenkes RI, 2017). Pemeriksaan lain yang dapat mengonfirmasi kasus DBD salah satulainnya adalah pemeriksaan antibodi dengue spesifik, yaitu antibodi IgM denguedan/atau pemeriksaan NS-1 yang dapat dideteksi melalui pemeriksaan darahdengan ELISA maupun PCR (Sukohar, 2014). Dapat pula dilakukan pemeriksaan radiologi foto toraks dengan posisi rightlateral decubitus untuk mendeteksi keberadaan efusi pleura ataupun USGuntuk mendeteksi asites (CDC, 2009).

Penatalaksanaan sebagai pertolongan pertama penderita DBD berupa tirahbaring selama demam, pemberian antipiretik, kompres hangat, dan memperbanyak intakecairan. Penatalaksanaan farmakologi pada penderita DBD adalah pemberianobat-obatan simtomatik, seperti antipiretik untuk demam, antiemetic untuk mualdan muntah, juga dapat diberikan anti nyeri untuk membantu meredakan nyerikepala juga nyeri sendi otot (Kemenkes RI, 2017). Dapat pula diberikan cairan pengganti volume plasmamengingat terdapat manifestasi kebocoran plasma pada DBD. Cairan yang umumnyadiberikan pada pasien DBD adalah kristaloid, seringnya adalah cairan ringerlaktat atau RL (CDC, 2009).

Peranpetugas kesehatan khususnya dokter adalah mengidentifikasi dan mengobatimasalah yang dapat diobati serta memfasilitasi perubahan lingkungan untukmemaksimalkan fungsi dalam menghadapi masalah yang menetap. Dilakukanpendekatan secara holistic pada pasien dengan tujuan untuk mencegah kejadianulangan kasus demam berdarah dengue dengan menilai keadaan dankebersihan lingkungan sebagai salah satu faktor resiko kejadian DBD, untukmencegah kejadian serupa terjadi pada keluarga dan lingkungan sekitar, jugauntuk mengedukasi pasien dan keluarga mengenai penyakit pasien, berikut dengantatalaksana dan pencegahannya.

METODE

Analisis studi ini merupakan suatu laporan kasus. Data primer diperolehmelalui anamnesis (autoanamnesis), pemeriksaan fisik dan kunjungan rumah untukmelengkapi data keluarga, data psikososial dan lingkungan. Penilaian dilakukanberdasarkan diagnosis holistik dari awal, proses dan akhir studi secarakuantitatif dan kualitatif.

HASIL DAN DISKUSI

Data Klinis

Pasien datang dengan keluhan demam yang telah dirasakan 3 hari sebelumdatang ke Puskesmas Rawat Inap Tanjung Sari, Natar. Pasien mengatakan keluhandemam dirasakan tiba-tiba, dengan suhu yang meninggi saat malam hari,terus-menerus tinggi hingga pagi yang akan kembali naik saat malam hari.Keluhan lain yang pasien rasakan adalah lemas, nyeri otot dan sendi yangdirasakan di seluruh tubuh pasien, diikuti dengan keluhan sakit kepala jugamual, yang disertai dengan satu kali muntah berisikan makanan. Keluhan lainyang menyertai antara lain nyeri di belakang bola mata dan penurunan nafsumakan. Pasien juga mengatakan terdapat keluhan perdarahan gusi yang dirasakandua kali dalam waktu dua hari.

Pasien belum pernah merasakan keluhan seperti ini sebelumnya, dan pasienmengatakan merasa khawatir jika keadaannya memburuk sehingga pasien tidak dapatberaktivitas sebagai kepala desa ataupun meladang seperti biasa, sehinggapasien memutuskan untuk dirawat di Puskesmas Rawat Inap Tanjung Sari hinggakeluhan membaik. Pasien juga mengatakan bahwa di keluarga maupun tetangga rumahpasien tidak ada yang memiliki keluhan yang sama.

Pada pemeriksaan fisik keadaan umum tampak sakitringan, tingkat kesadaran compos mentis, tekanan darah: 128/77 mmHg, frekuensinadi: 101x/menit, frekuensi nafas: 20x/menit, suhu: 37,6oC, beratbadan: 65 kg, tinggi badan: 165 cm, IMT: 23,87 kg/m2 (Normal).Rambut,telinga, hidung dan tenggorokan kesan dalam batas normal. Faring dan tonsiltidak ada kelainan. Tidak ada pembesaran KGB leher. Pada thoraks, gerakandinding dada dan fremitus taktil simetris, tidak didapatkan rhonki atau wheezing,kesan dalam batas normal. Jantung, ictus cordis tidak terlihat, padapalpasi teraba ictus cordis pada linea midclavicularis sinistra ICS V.Pada perkusi, batas jantung normal. Abdomen sedikit cembung, tidak tampak lesi,tidak didapatkan organomegali ataupun asites, kesan dalam batas normal.Ekstremitas superior dan inferior, teraba hangat, tidak tampak defomitas, dantidak didapatkan edema. Hasilpemeriksaan laboratorium yang didapatkan adalah Hb 15gr/dL, leukosit 6.700/uL,trombosit 115.000/uL dan hematokrit 42%.

Data Keluarga

Pasien memiliki 1orang istri dan 3 orang anak, namun yang saat ini tinggal 1 rumah dengan pasienadalah istri yaitu Ny. N (47 tahun), beserta satu anak nya yangmerupakan anak ketiga yaitu Tn. A. Istri pasien tidak bekerja, begitu juga anakketiga dari pasien. Sementara anak pertama pasien tinggal diluar kota dikarenakan ditugaskan sebagai Anggota TNI, sementara anak keduapasien juga tinggal di luar kota dikarenakan ditugaskan sebagai AnggotaKepolisian. Bentuk keluarga pasien adalah keluarga extended yaituterdiri dari ayah, ibu, dan tiga orang anak yang masing-masing belumberkeluarga.

Hubungan antaranggota keluarga terjalin cukup erat. Keluarga yang tinggal di dalam satu rumahmasih menyempatkan diri untuk kumpul bersama dalam sehari, yakni biasanya untukmengobrol saat sore atau malam hari setelah pasien, istri, dan anak sudah dirumah setelah melakukan aktivitas masing-masing. Dengan anak-anak yang bertugas di luar kota pun, pasien sering bertukarsapa menggunakan pesan singkat ataupun telfon.Keluarga pasien juga biasanya beribadah bersama di rumah. Perilakuberobat keluarga masih mengutamakan kuratif, yakni memeriksakan diri ke layanankesehatan bila ada keluhan mengganggu kegiatan sehari-hari.

Figure 1. Genogram keluarga Tn .A

Pasien sehari-hari bekerja sebagai kepala desa Krawang Sari, yang merupakan salah satu desa cakupan wilayah kerja Puskesmas Tanjung Sari. Selainitu, pasien juga sering pergi ke ladang, untuk menanam atau panen hasil ladang,atau hanya sekadar memantau ladang dan rekan pekerjanya. Sementara itu, istri pasienbekerja sebagai ibu rumah tangga yang hanya berada di rumah sehari-harinya.Anak pertama dan anak kedua pasien bekerja sebagai anggota TNI dan anggotaPolisi, kecuali anak terakhir pasien yang tinggal di rumah. Genogram keluargaTn. A yang dibuat pada tanggal 11 November 2021 oleh penulis dapat dilihat pada Figure 1.

Family mappingkeluarga Tn. A dapat dilihat pada Figure 2.

Figure 2. Family Mapping Tn. A

Dari hasil skoring SCREEM mendapatkan hasil 20 (Lihat Figure 3), dapat disimpulkan fungsi keluarga Tn. A memiliki sumber daya keluarga yang cukup memadai.

Figure 3. Family SCREEM Score

Untuk menilaifungsi keluarga dapat dilakukan dengan menghitung APGAR Score. BerikutAPGAR keluarga Tn.A (Table 1):

1.Adaptation

2.Partnership

3.Growth

4.Affection

5. Resolve

Total Family Apgar Score keluarga Tn. A adalah 8 (delapan) yangberarti fungsi keluarga pasien termasuk dalam jenis fungsi keluarga baik (nilai8-10 fungsi keluarga baik).

APGAR Score
A Saya merasa puas karena saya dapat meminta pertolongan kepada keluarga saya ketika saya menghadapi permasalahan 2
P Saya merasa puas dengan cara keluarga saya membahas berbagai hal dengan saya dan berbagi masalah dengan saya 1
G Saya merasa puas karena keluarga saya menerima dan mendukung keinginan-keinginan saya untuk memulai kegiatan atau tujuan baru dalam hidup saya 2
A Saya merasa puas dengan cara keluarga saya mengungkapkan kasih sayang dan menanggapi perasaan-perasaan saya, seperti kemarahan, kesedihan dan cinta 2
R Saya merasa puas dengan cara keluarga saya dan saya berbagi waktu bersama 1
Total 8
Table 1. APGAR score

Pasien tinggal dengan istri, satu anak laki-laki yang belum menikah, dikarenakan anak pertama dan anak keduanya tinggal di kota yang berbeda. Tinggal di dalam satu rumah berukuran 12 meter x7 meter, yang memiliki tiga kamar tidur, seluruh anggota keluarga tidur dalam kamar masing-masing. Kamar tidur tidak dilengkapi dengan kelambu. Lantai keramik pada bagian ruang tamu, ruang kamar dan ruang keluarga dan semen pada bagian yang lainnya yang dialasi dengan alas lantai terbuat dariplastik, dinding tembok, dengan atap genteng pada seluruh bagian rumah. Penerangan dan ventilasi cukup. Terdapat halaman depan juga halaman belakang, di mana di halaman belakang terdapat kolam kecil berukuran 3 x 1 meter berisi ikan lele.

Kebersihan di dalam rumah cukup bersih dan terawat di bagian ruang tamudan ruang makan, namun perabotan rumahtangga terlihat kurang tertata rapi. Rumah sudah menggunakanlistrik. Jarak antara rumah pasien denganrumah lainnya saling berdekatan. Sumber air minum terkadang dari air mineral ataupun air yang dimasak sendiri, memiliki 1 kamarmandi dengan jamban. Bentuk jamban jongkok. Tempat sampahberada di luar rumah maupun dapur. Lingkungantempat tinggal pasien cukup padat. Denah Rumah Tn. A dapat dilihat pada Figure 4.

Figure 4. Denah Rumah Tn. A

DiagnostikHolistik Awal

Aspek 1. Aspekpersonal :

-Alasan kunjungan: Keluhan demam,lemas, dan nyeri pada seluruh tubuh.

-Kekhawatiran: Keluhan berlanjut, pasien tidakbisa bekerja untuk waktu yang cukup lama.

-Harapan: Keluhan berkurang dan dapatbekerja seperti biasanya.

-Persepsi: Pasien tidak mengetahui informasimengenai penyakit yang diderita, juga sebab dan akibat penyakitnya.

Aspek 2. Diagnosis klinis awal:

-Demam Berdarah Dengue (ICD X: A91)

Aspek 3.Risiko Internal

-Pengetahuan yang kurang tentang penyakit demamberdarah dengue.

-Pola makan yang tidak teratur, pasien makan 3-4xsehari tergantung rasa lapar. Mayoritas lauk makanan digoreng dan jarang sekalimakan sayur-sayuran dan buah-buahan.

-Sehari-hari beraktifitas dari pagi ke siang harisebagai kepala desa maupun sebagai petani ladang.

Aspek 4. Risiko Eksternal

-Pasien yang sering berkunjung ke rumah-rumahsesama petinggi desa, dan pasien yang sering bolak-balik ladang.

-Lingkungan mukim dan lingkungan kerja yangmemungkinkan terjadinya penularan.

-Dukungan keluarga terhadap pengobatan yang harusdijalani pasien masih kurang, dikarenakan pasien selalu berobat sendirianapabila memiliki keluhan berkait dengan suatu penyakit.

Aspek 5. Skalafungsional

Derajat 2 (dua)yaitu masih mampu melakukan aktivitas ringan sehari-hari.

Rencana Intervensi

Intervensi yangdilakukan pada pasien dan anggota keluarga berupa edukasi dan konselingmengenai demam berdarah dengue, dimulai dari penyebab penyakit, terapidan pencegahan penyakit yang serupa kembali terjadi. Intervensi bertujuan untukmemberi informasi mengenai penyakit terkait dengan pasien, juga bertujuan untukmemberikan cara mencegah penyakit serupa terjadi pada pasien, keluarga pasienmaupun warga sekitar, juga dengan pemberian bubuk Abate untuk mencegah vektorpenyakit kembali. Pertemuan akan dilakukan sebanyak tiga kali. Pertemuanpertama dilakukan untuk kelengkapan data pasien dan kunjungan kerumah pasien.Pertemuan kedua dilakukan untuk intervensi secara langsung yang dibagi atas patientcenter dan family focused. Pertemuanketiga dilakukan untuk mengevaluasi hasil intervensi secara langsung.

Patient centered

Nonfarmakologi :

1. Edukasi kepadapasien mengenai penyebab, faktor risiko yang dapat memperberat penyakit pasienserta komplikasi yang dapat terjadi.

2. Edukasi mengenaipola aktfitas dan olahraga yang dapat dilakukan atau harus dihindari olehpasien.

3. Edukasi kepadapasien mengenai pola hidup yang tepat agar tidak memperparah kondisi pasien.

4. Edukasi kepadapasien mengenai pola hidup sehat dan menunjang lingkungan yang bersih untukmenghambat penyakit serupa terjadi kembali.

Farmakologi (WHO, 2020):

1.IVFD Ringer Laktat 30 tpm

2.Paracetamol 3x500mg

3.Domperidone 3x10mg

Family Focused

a. Edukasi kepadakeluarga pasien mengenai penyebab, faktor risiko yang dapat memperberat penyakit pasien serta komplikasi yang dapatterjadi.

b. Edukasi kepadakeluarga pasien tentang faktor risiko eksternal terutama lingkungan dan kondisirumah.

c. Edukasi kepadakeluarga mengenai pentingnya menjaga kesehatan dan lingkungan sekitar rumahuntuk mencegah terjadinya penyakit ini terulang atau pada anggota keluargalain.

d. Edukasi kepadakeluarga pasien tentang pentingnya peran keluarga dalam mendorong pasien untukkembali sehat dan dapat beraktivitas seperti biasanya.

Community Oriented

Memotivasi pasienuntuk menginisiasi gotong royong untuk membersihkan lingkungan rumah, terutamagenangan air, tumpukan rongsok sampah.

Diagnostik Holistik Akhir

1.Aspek Personal

-Kekhawatiran: Rasa cemas dankekhawatiran pasien berkurang dengan meningkatnya pengetahuan pasien mengenaipenyakit yang dideritanya.

-Persepsi: Pasien telah mengetahui informasimengenai penyakit yang diderita pasien, pencegahan dan penatalaksanaan yang baikdan benar, sehingga dapat mencegah kejadian ulangan yang dapat terjadi dilingkungan sekitar maupun keluarga.

-Harapan: Keluhan yang dialamiberkurang dan dapat semakin leluasa dalam beraktifitas.

2. Aspek Diagnosis klinis

-Demam Berdarah Dengue (ICD X: A91)

3.Aspek Risiko Internal

-Meningkatnya pengetahuan pasien mengenai resikoapa saja yang dapat menyebabkan keluhan pasien dan faktor yang dapatmemperberat keluhan pasien.

-Pola makan yang membaik, mengonsumsi makananbergizi juga buah-buahan dan vitamin, dibarengi asupan cairan yang cukup.

-Mengetahui faktor resiko penularan akibataktivitas pasien bepergian ke daerah beresiko tinggi.

4.Aspek Risiko Eksternal

-Meningkatnya pemahaman pasien akan pengetahuanmengenai penyakitnya sehingga dapat mengurangi resiko terinfeksi denganmenggunakan lotion anti nyamuk Ketika bepergian.

-Berkurangnya faktor resiko dengan penutupankolam ikan lele yang pasien miliki.

-Dukungan keluarga terhadap pasien membaik, saatpasien kembali ke Puskesmas untuk menjalani evaluasi pengobatan, istri pasienikut dan telah memahami hal-hal mengenai penyakit pasien.

5. Derajat Fungsional: 1 (satu) yaitu mampu melakukan pekerjaan sehari-hari seperti halnyasebelum sakit.

Pada pasien Tn. A,ditetapkan diagnosis setelah dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, danpemeriksaan penunjang. Pada anamnesis didapatkan pasien datang ke PuskesmasTanjung Sari dengan keluhan demam yang sudah dirasakan sejak 3 hari yang lalu.Pasien mengatakan keluhan demam dirasakan tiba-tiba, dengan suhu yang meninggisaat malam hari, terus-menerus tinggi hingga pagi yang akan kembali naik saatmalam hari. Keluhan lain yang pasien rasakan adalah lemas, nyeri otot dan sendiyang dirasakan di seluruh tubuh pasien, diikuti dengan keluhan sakit kepala jugamual, yang disertai dengan satu kali muntah berisikan makanan. Keluhan lainyang menyertai antara lain nyeri di belakang bola mata dan penurunan nafsumakan. Pasien juga mengatakan terdapat keluhan perdarahan gusi yang dirasakandua kali dalam waktu dua hari. Pasien mengatakan tidak mengonsumsi obat-obatanapapun untuk meredakan keluhan, dan pasien baru berkunjung ke Puskesmas setelah3 hari gejala. Pemeriksaan fisik didapatkan TD 128/77 mmHg, frekuensi nadi:101x/menit, frekuensi nafas: 18x/menit, suhu: 37,6oC, berat badan:65 kg, tinggi badan: 165 cm, IMT: 23,87 kg/m2 (Normal).

Diagnosis demamberdarah dengue ditegakkan melalui keluhan pasien berupa demam, nyerisendi dan otot pada seluruh tubuh, rasa lemas, nyeri kepala juga adanya keluhanmual muntah. Diagnosis juga ditunjang dengan keluhan rasa lemas, penurunannafsu makan dan riwayat adanya 2 kali timbul gusi berdarah selama keluhanlainnya berlangsung. Berdasarkan studipasien dengan kecurigaan DBD akan menunjukkan beberapa tanda dan gejala,seperti demam yang berlangsung terus menerus selama 2-7 hari, dan adanya tanda-tandaperdarahan seperti gusi bintik-biktik merah, hingga perdarahan gusi. Disertaijuga dengan tanda-tanda nonspesifik, seperti rasa nyeri kepala, terutama padadaerah belakang mata, nyeri sendi dan otot, rasa lemas dan penurunan nafsumakan (Sagala, 2021).

Pada kasus ini,diperhatikan pula beberapa faktor yang mencetus terjadinya kejadian DBD,seperti faktor lingkungan dan faktor perilaku pasien. Faktor lingkungan yangberkontribusi antara lain, curah hujan yang sedang dalam waktu panjang, danrumah pasien berada berdekatan dengan sepetak sawah padi, juga pasien memilikikolam ikan yang terbuka di halaman belakang rumah. Selain itu, terdapat pulabeberapa faktor lingkungan lain yang bisa mempengaruhi kejadian DBD, antaralain tempat gelap, tempat kotor dan beberapa tempat dengan barang yang menumpukdan dibiarkan begitu saja. Namun, pada lingkungan pemukiman pasien tidakdidapatkan tempat-tempat tersebut (Sagala, 2021).

Pemeriksaanpenunjang yang dilakukan pada pasien ini adalah pemeriksaan hematologi, dimanadidapatkan Hb 15gr/dL, leukosit 6.700/uL, trombosit 115.000/uL dan hematokrit42%. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis DBD adalahhematologi rutin, melihat jumlah leukosit, trombosit, dan hematokrit untukmelihat adanya peningkatan permeabilitas kapiler dan perembesan plasma.1 Dapatjuga dilakukan pemeriksaan radiologi untuk melihat komplikasi perembesan plasmaberupa efusi pleura, dan bisa pula dilakukan pemeriksaan serologi IgM, IgG danNS-1 (Sagala, 2021).

Tatalaksana yangdapat diberikan ialah non-medikamentosa dan medikamentosa. Tatalaksananon-medikamentosa yang dapat dilakukan adalah meningkatkan konsumsi cairandengan menggunakan cairan oral, asupan makanan dengan gizi cukup, danistirahat/tirah baring, seperti halnya tatalaksana non-medikamentosa padapenyakit-penyakit self-limiting.Apabila cairan tidak dapat diberikan secara oral karena pasien tidak mauminum, muntah-muntah atau nyeri perut yang berlebihan, maka dapat diberikancairan melalui intravena. Pilihan pertama pemberian cairan pada pasien DBDadalah cairan kristaloid, seperti larutan ringer laktat (RL), apabila tidakdidapatkan larutan RL, dapat diberikan cairan koloid, seperti larutan Dextrose40 (Kemenkes RI,2017).

Pada pasien dikasus ini, tatalaksana medikamentosa yang diberikan adalah antipiretik danantiemetik. Berdasarkan teori, pasien dengan diagnosis DBD hanya disarankanuntuk mengganti cairan, tirah baring, dan memberikan antipiretik berupaparasetamol 3 kali 1 tablet untuk dewasa, 10-15mg/kgBB/kali untuk anak-anak (Vasikasin et al.,2019). Tidak diperlukanuntuk penggunaan obat-obatan antibiotic dikarenakan DBD merupakan salah satupenyakit self-limiting. Tidak dianjurkan untuk menggunakan obat-obatanNSAID seperti ibuprofen, karena akan menyebabkan rasa nyeri ulu hati akibatgastritis (Kemenkes RI,2017).

Tatalaksana utamapada pasien DBD adalah terapi pengganti cairan. Menurut WHO (2020), terapipengganti cairan pada pasien dengan DBD dapat menggunakan cairan kristaloidisotonik berupa cairan ringer laktat ataupun dextrose 5% dalam larutan normalsaline, dengan dibantu menggunakan cairan oral. Terapi obat-obatan dapatdiberikan secara simptomatik, apabila terdapat keluhan demam dapat diberikanparasetamol, dan obat-obatan yang sesuai dengan keluhan pasien lainnya (WHO, 2020).

Selain itu, pasiendan keluarganya juga di edukasi mengenai pemeliharaan lingkungan untuk mencegahDBD. Dapat dilakukan 3MPlus, yaitu menguras dan menyikat tempat penampungan airsecara rutin, menutup rapat semua tempat penyimpanan air, memanfaatkan limbahbarang bekas yang bernilai ekonomis (daur ulang), plus mencegah gigitan danperkembangbiakan nyamuk dengan memelihara ikan pemakan jentik nyamuk,menggunakan obat anti nyamuk, memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi,gotong royong membersihkan lingkungan, periksa tempat-tempat penampungan air,meletakkan pakaian bekas pakai dalam wadah tertutup, memberikan larvasida padapenampungan air yang susah dikuras, menanam tanaman pengusir nyamuk, danmemperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar (Depkes, 2018).

Pasien dankeluarganya juga diberikan edukasi mengenai penggunaan kelambu, dan jugapengecekan pada FKTP untuk dilakukan fogging. Berdasarkan keterangan pemegangprogram penyakit menular di Puskesmas Tanjung Sari, setiap tercatat adanya 1kasus DBD di lingkungan wilayah kerja Puskesmas Tanjung Sari, akan dilakukankegiatan fogging untuk mencegah adanya kejadian ulangan pada lingkungan pasien.

Kunjunganpertama dilakukan pada tanggal 14 November 2021, dan kemudian dilakukanintervensi pada tanggal 13 Desember 2021. Kemudian dilakukan evaluasi padatanggal 20 Desember 2021. Hal pertama yang dievaluasi berupa keluhan yangsebelumnya pasien rasakan, dan kemudian pasien menjelaskan bahwa tidak ada lagikeluhan yang dirasakan dan pasien sudah mulai beraktivitas seperti biasa.Tekanan darah pasien juga diperiksa kembali dan menunjukkan hasil 110/70 mmHg.Evaluasi mengenai pengetahuan, sikap dan tindakan terhadap penyakit pada pasiendan keluarga dilakukan dengan meminta untuk menjawab 5 pertanyaan yang samadengan kunjungan kedua. Hasil menjawab pertanyaan yang kedua kali, terlihatpengetahuan pasien serta keluarganya mengenai penyakit tersebut meningkat,pasien dapat menjawab 5 pertanyaan dengan benar.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Kesimpulan penelitian ini adalah :

1.Pasien laki-laki berusia 49 tahun, dengankeluhan demam. Diagnosis demam berdarah dengue pada kasus ini sudahsesuai dengan beberapa teori dan telaah kritis dari penelitian terkini.

2.Faktor risiko internal pada pasien adalahpengetahuan tentang penyakitnya kurang, aktivitas sehari-hari, pola makan tidakdiatur, lebih dominan melakukan pengobatan kuratif. Faktor risiko eksternalberupa lingkungan yang masih menunjang perkembangbiakan nyamuk, juga kurangnyaperan keluarga dalam mendukung pengobatan penyakit.

3.Telah dilakukan intervensi berupa edukasimenggunakan media poster dengan materi berupa pengetahuan mengenai penyakit,pencegahan dan tatalaksananya. Diberikan pula bubuk abate dan edukasi mengenaipencegahan yang bisa dilakukan di lingkungan rumah.

4.Setelah dilakukan penatalaksanaan holistik dankomprehensif pada pasien dan keluarga pasien, terdapat peningkatan pengetahuanmengenai penyakit yang diderita pasien dan terdapat perbaikan dalam lingkungan.

Saran yangdapat diberikan berupa:

Bagi Pasien dan Keluarga

1.Perlu melakukan evaluasidan kontrol pengobatan secara rutin ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

2.Keluarga perlu mengoptimalkankerjasama antar anggota keluarga untuk meningkatkan kualitas kesehatankeluarga.

3.Menerapkan pencegahanpenyakit untuk mencegah kasus ulangan terjadi pada pasien, keluarga ataupunlingkungan dengan melakukan pencegahan 3M+, yaitu dengan menguras dan menutuppenampungan air, mendaur ulang barang bekas dan mencegah perkembangan nyamuk.

4.Melakukan perilaku kesehatan baik kuratif danpreventif ke fasilitas kesehatan.

Bagi Pelaksana Pelayanan Kesehatan

1.Perlu ditingkatkan usaha promosi kesehatan kepadamasyarakat mengenai DBD dengan melakukan penyuluhan dan sosialisasi.

2.Melakukan manajemen risiko dengan melakukanpenyelidikan epidemiologi selain mengatasi keluhan klinis pasien, keluarga danlingkungan pasien.

3.Adanya sistem pemantauan dan pembahasan difasilitas kesehatan secara periodik mengenai kasus yang dibina, bagi kesinambunganpelayanan dan pemantauan.

Melanjutkankasus pembinaan keluarga ini.

Funding Statement

Theauthors did not receive support from any organization for the submitted workand No funding was received to assist with the preparation of this manuscript

Conflict of Interest statement

Penulisyang namanya tercantum tepat di bawah ini menyatakan bahwa tidak memilikiafiliasi atau keterlibatan dengan pihak luar manapun dan tulisan ini murni darisumber yang dicantumkan di daftar pustaka serta tidak mengandung plagarismedari jurnal artikel manapun. Sumber tulisan telah dicantumkan seluruhnya didaftar pustaka.

Copyright

Hak cipta artikel ini dipegang oleh penulis

References

  • CDC. (2009). Dengue and Dengue Hemorrhagic Fever. CDC. http://www.cdc.gov/Dengue/resources/Dengue&DHF Information for Health Care Practitioners_2009.pdf
  • Depkes. (2018). Pencegahan dan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue. Depkes RI.
  • IKA. (2012). Update Management of Infectious Diseases and Gastrointestinal Disorders. FK UI.
  • Kemenkes RI. (2017). Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Demam Berdarah Dengue di Indonesia. In Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
  • Kemenkes RI. (2021). Laporan Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis (P2PTVZ). In Kemenkes RI.
  • Sagala, M. (2021). Hubungan Sanitasi Lingkungan dan Perilaku Masyarakat dengan Kejadian DBD Di Wilayah Kerja Puskesmas Padang Bulan Selayang II Kecamatan Medan Selayang Tahun 2021.
  • Sukohar, A. (2014). Demam Berdarah Dengue (DBD). Medula, 2(2), 1–15.
  • Vasikasin, V., Rojdumrongrattana, T., Chuerboonchai, W., Siriwiwattana, T., Thongtaeparak, W., & Niyasom, S. (2019). Effect of standard dose paracetamol versus placebo as antipyretic therapy on liver injury in adult dengua infection: a multicentre randomised controlled trial. Lancet Global Health, 7, 3664–3670.
  • WHO. (2012). Global Strategy for Dengue Prevention and Control 2012-2020. http://reliefweb.int/sites/reliefweb.int/files/resources/9789241504034_eng.pdf.
  • WHO. (2020). Comprehensive Guidelines for Prevention and Control of Dengue and Dengue Haemorrhagic Fever. Revised and expanded edition. World Health Organization, Regional Office for South-East Asia.

Rights and permissions

© The Author(s) 2022
Open Access This article is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License (CC BY-SA 4.0), which permits others to share, adapt, and redistribute the material in any medium or format, even for commercial purposes, provided appropriate credit is given to the original author(s) and the source, a link to the license is provided, and any changes made are indicated. If you remix, transform, or build upon the material, you must distribute your contributions under the same license as the original. To view a copy of this license, visit https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/.

Fulltext

Keywords

  • Demam Berdarah Dengue
  • Dokter Keluarga
  • Penatalaksanaan Holistik
  • Dengue Hemorrhagic Fever
  • Family Physician
  • Holistic Management

Author Information

Sharlene Sabrina Azzahra

Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, Indonesia.

Article History

Submitted: 25 March 2022
Accepted: 22 April 2022
Published: 25 April 2022

How to Cite This

Azzahra, S. S. (2022). Penatalaksanaan Holistik Pasien Laki-laki Berusia 49 Tahun dengan Demam Berdarah Dengue Melalui Pendekatan Kedokteran Keluarga. Majalah Kesehatan Indonesia, 3(1), 27–34. https://doi.org/10.47679/makein.202255

Crossmark and Dimension

Verify authenticity via CrossMark

sinta2-image

template

Before Submission

custom_header

P-ISSN: 2745-6498
E-ISSN: 2745-8008

Keywords

Visitors Statistics

Journal Visitors

Free counters!

Web Analytics