Abstract
Learning style is a way of receiving, understanding, and processing information from each student in the learning process. In its development, learning styles are broadly (generally) divided into visual, auditory, and kinesthetic learning styles. One of the efforts that can be made to find out the learning style of each student is by non-cognitive diagnostic assessment, especially in the framework of the independent curriculum learning becomes one of the main and most important things. Non-cognitive diagnostic assessment is very helpful for educators in mapping learning needs and goals according to the learning styles of their students. SMPN 3 Lembang did the same thing by conducting non-cognitive diagnostic tests on 318 students as samples in the study. This research uses a qualitative approach with descriptive methods, while the data collection tools are taken from the results of the non-cognitive diagnostic test of learning styles of students in grades 7D-7K at SMPN 3 Lembang in the 2023/2024 academic year. The results of the study concluded that the learning style of students in grades 7D-7K at SMPN 3 Lembang was most dominant in the visual learning style with a percentage of 46% (148 students), in second place was the kinesthetic learning style of 40% (126 students), and the auditory learning style was 14% (44 students). It is expected that educators can use learning styles that can stimulate students' visual learning styles such as the use of demonstration teaching methods, practicum, observation of the surrounding environment, and others.
Abstrak: Gaya belajar merupakan cara menerima, memahami, dan mengolah informasi dari setiap siswa dalam proses pembelajaran. Pada perkembangannya, gaya belajar secara garis besar (umum) terbagi menjadi gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik. Salah satu upaya yang dapat dilakukan agar dapat mengetahui gaya belajar setiap siswa ialah dengan asesmen diagnostik non-kognitif, terlebih dalam kerangka kurikulum merdeka belajar menjadi satu hal yang utama dan penting. Asesmen diagnostik non-kognitif sangat membantu pendidik dalam memetakan kebutuhan dan tujuan pembelajaran sesuai dengan gaya belajar para siswanya. Tidak terkecuali di SMPN 3 Lembang melakukan hal yang sama yaitu dengan melalukan tes diagnostik non-kognitif terhadap 318 siswa sebagai sampel dalam penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, adapun alat pengumpulan data diambil dari hasil tes diagnostik non-kognitif gaya belajar belajar siswa kelas 7D-7K di SMPN 3 Lembang Tahun pelajaran 2023/2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya belajar siswa kelas 7D-7K di SMPN 3 Lembang paling dominan ialah gaya belajar visual dengan prosentase sebesar 46% (148 siswa), diposisi kedua yaitu gaya belajar kinestetik sebesar 40% (126 siswa), dan gaya belajar auditori sebesar 14% (44 siswa). Diharapkan pendidik dapat menggunakan gaya belajar yang dapat menstimulus gaya belajar visual siswa seperti penggunaan metode mengajar demonstrasi, praktikum, observasi lingkungan sekitar dan lainnya.
Introduction
Manusia sebagai mahluk ciptaan Allah memiliki tugas agung dan mulia yaitu sebagai perwakilan-Nya di muka bumi yaitu khalifah yang mana ia memiliki pengertian sangat luas. Tugas dan tanggungjawab utamanya ialah memakmurkan bumi Allah. Oleh karenanya, dalam menjalankan tugas dan peranannya sebagai pemakmur muka bumi, Dia juga telah dititipkan oleh-Nya berupa akal yang menghasilkan pikiran dan nafsu dimana cenderung kepada kesenangan (Putri and Nurhuda, 2023). Dengan akal, manusia banyak menggali ilmu dan pengetahuan di alam bumi mulai dari ilmu-ilmu sosial hingga ilmu-ilmu kealaman. Maka dari itu julukan lain dari manusia ialah sebagai mahluk pembelajar (Nurhuda, 2023b). Manusia dalam kacamata pendidikan sangatlah luas dan perlu adanya kajian yang komperhensif untuk mendefinisikannya. Misalnya saja Saputra (2015) menjelaskan bahwa manusia sebagai siswa merupakan mahluk yang memiliki posisi dalam proses pertumbuh dan berkembang berdasarkan fitrahnya masing-masing, dimana ia perlu pembimbingan diri agar dapat menuju titik maksimal dari kemampuan fitrahnya. Pandangan lain menguraikan bahwa manusia sebagai siswa merupakan individu yang memerlukan ilmu pengetahuan serta sikap dan tingkah laku sebagai bagian dari entitas masyarakat yang tengah mengaktualisasikan perkembangan diri melalui kegiatan belajar (M. Ramli, 2015).
Manusia juga diistilahkan sebagai mutarabby yang bermakna objek didik dalam pengertian diciptakan, dipelihara, diperbaiki melalui proses pendidikan bersama-sama dengan murabbi/pendidik (Kamaliah, 2021). Hal senada diungkapkan pula oleh Baharuddin (2020) bahwa nama lain siswa merupakan al-Insan, al-Basyar atau Bani Adam yang berada dalam pertumbuhkembangan menuju kondisi sempurna (Insan al-Kamil). Secara spesifik, Darmiah (2021) mengidentifikasi sifat-sifat dari seorang siswa antara lain ialah pembelajar yang belajar dengan mengorientasikan diri beribadah hanya kepada Allah, mencondongkan diri pada aspek ukhrawi, bersikap rendah hati, dan mempelajari ilmu-ilmu yang salih (science umum dan agama). Selain itu, ia harus terus melakukan aktivitas kegiatan belajar semata-mata hanya tertuju pada Allah melalui serangkaian proses pendidikan dalam tumbuh kembangnya agar menjadi manusia paripurna (sempurna) (Nurhuda, 2022b).
Dalam tataran dunia pendidikan di Indonesia, salah satu jenjang yang sangat mencolok dan sering kali menimbulkan perhatian adalah jenjang menengah yaitu SMP, dimana menurut Santrock dalam Sugiman et al. (2016) menjabarkan bahwa tumbuh kembang siswa pada tahap SMP adalah memasuki masa remaja yaitu peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa. Pada masa ini pula tidak hanya perkembangan fisik saja, namun meliputi emosi, sosial, sikap dan moral. Oleh karenanya sangat dimungkinkan terjadi permasalahan yang mencuat pada tahap perkembangan pada usia SMP ini. Dikarenakan pada tahap siswa berada di jenjang SMP yang sangat signifikan berubah maka tak jarang di usia tersebut pula emosi menjadi labil dan cenderung tidak terkendali (Hastutiningtyas et al., 2021).
Secara lebih mendetail, Meriyati (2015) menjelaskan sekaligus menjabarkan karakteristik dari anak usia jenjang SMP (10-14 tahun) ialah sebagai berikut: Pada usia ini terjadinya ketidakseimbangan antara proporsi tinggi dan berat badan; Mulai nampaknya ciri-ciri seks sekunder; Adanya dominasi ambivalensi yaitu keinginan menyendiri dengan keinginan bergaul juga kebebasan dari pengekangan dengan kecukupan bimbingan orangtua; Mempertanyakan secara skeptic tentang eksistensi serta sifat kemurah adilan Tuhan; Ketidakstabilan reaksi dan ekspresi emosi; Gemar membandingkan kaidah-kaidah, nilai-nilai atau norma dengan kenyataan yang terjadi di kehidupan orang dewasa; Munculnya pengembangan standar dan harapan terhadap perilaku diri sendiri sesuai dengan dunia sosial; Kecondongan minat dan pilihan karir sudah lebih nyata.
Siswa sebagai pembelajar tentu tiap-tiap individu memiliki ciri khas masing-masing sehingga tidak bisa disamaratakan semuanya harus sama karena pada hakikatnya mereka sudah lebih jauh berbeda satu sama lain. Begitu pula dalam proses pembelajaran tiap-tiap individu memiliki gaya belajarnya sendiri-sendiri. Diketahui bahwa gaya belajar adalah proses individu dalam menyerap, mengatur, dan mengolah informasi yang diterima (Suci et al., 2020). Gaya belajar seorang siswa sangat menentukan keberhasilan mereka dalam proses pembelajaran, paham akan potensi diri setiap individu anak dengan memberikan keleluasaan kepada mereka untuk belajar sesuai kecendungan masing-masing (Mufidah, 2017).
Lebih jauh, gaya belajar sangat berdampak kepada hasil belajar hal demikian dikarenakan adanya aktivitas pemahaman, upaya mengingat, berpikir serta pemecahan masalah dengan stimulus dan informasi yang diterima olehnya (Zannurain et al., 2023). Gaya belajar sebagai bagian yang tak dapat dipisahkan dalam proses pembelajaran terbagi menjadi tiga jenis secara garis besar antara lain yaitu gaya belajar visual, gaya belajar auditori, dan gaya belajar kinestetik (Wiedarti, 2018).
Tiap-tiap individu siswa memiliki gaya belajar masing-masing, sehingga sangat penting bagi pendidik untuk mengenali dan memahaminya (Nurhuda and Putri, 2023). Upaya yang dapat dilakukan untuk mengetahui gaya belajar setiap siswa ialah dengan asesmen diagnostik. Dalam kerangka kurikulum merdeka belajar asesmen diagnostik adalah ciri khasnya, maka dari itu penting untuk mengetahui sejauh mana kecenderungan siswa dalam melakukan proses pembelajaran. Asesmen diagnostikpun terbagi menjadi dua kategori diagnostik kognitif dan diagnostik non-kognitif. Adapun diagnostik non-kognitif adalah identifikasi pola pikir, sikap kepribadian, keterampilan sosial, intuisi, dan perilaku yang mempengaruhi komunikasi sosial seseorang dengan orang lain (Borghans dalam Cahyadi et al., 2022).
Pada prinsipnya diagnosis merupakan pemilihan keputusan mengenai individu atau kelompok siswa agar tercapai tujuan pembelajaran, selain itu diagnosa bersifat menyeluruh dan seimbang dengan memerhatikan faktor-faktor kendala belajar siswa, dan juga diagnosis serta upaya bimbingan berjalan bersama dalam proses belajar agar mereka dapat menguasai apa yang sedang dipelajari (Ardiansyah et al., 2023). Lebih luas lagi, asesmen diagnostik non-kognitif dilakukan untuk mengetahui tingkat kemantapan psikologis dan sosial emosi siswa, mengetahui aktivitas mereka belajar di rumah, mengetahui kondisi keluarga siswa, latar belakang pergaulan, gaya belajarm serta minat mereka (Budiono & Hatip, 2023).
Berdasarkan pemaparan di atas dapat dipahami bahwa gaya belajar sangat berpengaruh terhadap tercapainya tujuan belajar siswa sesuai dengan potensinya masing-masing dan juga dasar bagi pendidik untuk mendesain pembelajaran sesuai dengan gaya belajar masing-masing individu siswa. Diketahui bahwa penelitian berkenaan dengan asesmen diagnostik non-kognitif gaya belajar siswa hanya baru beberapa saja antara lain yaitu yang dilakukan di SMPN 4 Padang Panjang pada Kelas VII.I dimana hasil dari asesmen terhadap gaya belajar bahwa siswa yang memiliki gaya belajar visual sebesar 33,9%, auditori 32,2%, dan kinestetik sebesar 32,9% (Ermiyanto et al., 2023). Dan penelitian lainnya yang telah melakukan asesmen diagnostik non-kognitif gaya belajar ialah di SMPN 1 Batusangkar dimana berdasarkan pengolahan asesmen gaya belajar pada siswa kelas VII diketahui gaya belajar kinestik sebesar 41%, gaya belajar visual 34%, dan auditori sebanyak 25% (Syam et al., 2023). Sedangkan motif utama dan terbesar dari artikel yang peneliti lakukan ini ialah topik/kajian serupa dengan dua penelitian sebelumnya akan tetapi pembedanya ialah variabel tempat dan juga waktu pelaksanaan dari asesmen diagnostik non-kognitif gaya belajar yang dilakukan yaitu di SMPN 3 Lembang pada tahun ajaran 2023/2024.
Oleh karenanya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran secara umum gaya belajar dari siswa kelas 7 di SMPN 3 Lembang pada tahun pelajaran 2023/2024. Adapun tujuan secara khusus dari penelitian ini dapat membantu memberikan masukan kepada para guru-guru ataupun stakeholder lainnya yang langsung berkecimpung dalam dunia pendidikan sebagai dasar mempersiapkan pembelajaran berdasarkan gaya belajar siswa yang berbeda-beda.
Methods
Penelitian yang dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif lapangan dengan pendekatan studi kasus. Desain kualitatif tersebut dipilih karena peneliti melihat sekaligus mengungkap kedaan maupun objek secara konteks yang mendalam terhadap masalah yang sedang diteliti dengan output berupa pernyataan, gambar, maupun peristiwa (Ibrahim et al., 2018). Sementara pendekatan ini dipilih karena menarik minat peneliti mengenai gaya belajar siswa yang berbeda-beda sehingga diperlukan penggalian data untuk memahaminya secara detail. Setting penelitian bertempat di SMPN 3 Lembang, Bandung Barat dan waktunya mulai tanggal 17 Juli 2023-31 Juli 2023 untuk pengumpulan datanya. Adapun metode penyajian yang dipergunakan dalam penelitian ini ialah deskriptif yaitu data yang diperoleh berupa perkataan, gambar, perilaku agar lebih kaya ketimbang hanya berupa angka saja (Sidiq & Choiri, 2019). Sedangkan alat pengumpulan data antara lain yaitu data primer berupa observasi secara langsung, wawancara dan dokumentasi hasil asesmen diagnostik non-kognitif gaya belajar siswa kelas 7 tahun pelajaran 2023/2024 yang bersumber dari guru BK. Data tersebut diperoleh setelah Tim Guru BK menyebarkan angket berupa google form kepada 318 siswa yang berisi aspek-aspek gaya belajar disertai dengan indikator-indikator yang mesti di jawab.
Seperti aspek gaya belajar visual yang mana indikatornya terdiri dari Mengingat gambar, Lebih suka membaca, Memerlukan gambaran, Mengingat apa yang dilihat dan Menjaga jarak dengan orang lain. Sementara indikator aspek gaya belajar Auditori adalah Berbicara berirama, Belajar mendengarkan, Berdialog, Berdiri dekat dengan orang lain dan Berpikir secara kronologis. Sedangkan indikator gaya belajar Kinestetik terdiri dari Belajar praktik, Menunjuk tulisan, Menanggapi secara fisik, Banyak bergerak dan Suka sentuhan. Kemudian data sekundernya didapat dari literatur-literatur yang relevan serta sumber dari internet seperti buku, jurnal, ebook ataupun selainnya (Nurhuda, 2022a). Setelah semua data yang dibutuhkan terkumpul dilakukan analisis secara interaktif hingga jenuh dengan cara mereduksi, mendisplay dan memvalidasi secara triangulasi tiap hasil yang sudah diperoleh baik itu dengan sumber ataupun triangulasi metode yakni dengan menyamakan persepsi antara hasil angket, hasil wawancara, dan juga hasil observasi. Setelah ditemukan satu titik temu yang hasilnya sama secara terus menerus maka barulah dilakukan penarikan kesimpulan dengan penuh rasa tanggung jawab.
Results and Discussion
Profil SMPN 3 Lembang dan Karakteristik Siswa Kelas 7 Tahun Pelajaran 2023/2024
Penelitian dilakukan di SMP Negeri 3 Lembang yang mana secara letak geografis seperti gambar di bawah sekolah tersebut berlokasi di Jalan Raya Lembang No.29, Jayagiri, Kec. Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat 40391 dengan patokan belakang restaurant Nasi Liwet Asep Stoberi.
Figure 1. Lokasi SMP Negeri 3 Lembang
Pada tahun pelajaran 2023/2024 komposisi guru yang berada di SMPN 3 Lembang sebanyak 64 Guru baik berstatus PNS, PPPK, dan Honorer. Adapun jumlah siswa kelas 7 ialah sebanyak 430, kelas 8 sebanyak 425, dan kelas 9 sebanyak 370 sehingga total siswa yang bersekolah di SMPN 3 Lembang sejumlah 1.226 siswa. Adapun peneliti mendapat data tersebut dikarenakan juga sebagai guru PAI di SMPN 3 Lembang yang mengajar kelas 7 dimulai dari 7D sampai dengan 7K dengan total siswa sebanyak 318 orang sekaligus sebagai sampel dalam penelitian ini. Kemudian, penelitian dilaksanakan dimulai pada tanggal 17 Juli s.d. 31 Juli 2023 oleh tim Guru Bimbingan Konseling (BK) SMPN 3 Lembang.
Siswa yang menjadi sampel penelitian sebagaimana disebutkan di atas yaitu sebanyak 318 orang siswa yang mana apabila melihat dari lokasi SMPN 3 Lembang dimana letaknya strategis dikarenakan berdekatan dengan objek-objek wisata sehingga para siswa kelas 7 di tahun pelajaran 2023/2024 merupakan anggota yang berasal dari wilayah sekitar SMPN 3 Lembang antara lain dari Lembang itu sendiri, Cisarua, Parongpong, Ciburial, Sespim, Ciumbuleuit, Setiabudhi Bandung, Jayagiri, Cibogo, dan lain-lain yang masih berada dalam lingkup kawasan Lembang.
Figure 2. Dokumentasi Kegiatan Upacara Bendera Rutin Hari Senin
Macam-Macam Gaya Belajar Siswa Kelas 7 di SMPN 3 Lembang
Gaya belajar siswa kelas 7 di SMPN 3 Lembang di atas, secara rinci dijelaskan oleh Widayanti (2013) ialah sebagai berikut:
Visual
- Mengingat dengan gambar
- Lebih suka membaca daripada dibacakan
- Memerlukan gambaran dan tujuan yang menyeluruh
- Mengingat apa yang dilihat
- Menjaga jarak dengan orang lain agar dapat melihat dengan jelas
Auditori
- Berbicara dengan pola berirama
- Belajar dengan cara mendengarkan
- Berdialog secara internal dan eksternal
- Berdiri dekat dengan orang lain agar terdengar jelas
- Berpikir secara kronologis
Kinestetik
- Belajar dengan praktik
- Menunjuk tulisan saat membaca
- Menanggapi secara fisik
- Banyak bergerak
- Suka sentuhan dan merasakan informasi
Meninjau teori sebelumnya diketahui bahwa gaya belajar secara umum dari siswa kelas 7 di SMPN 3 Lembang Tahun Pelajaran 2023/2024 ialah sebagai berikut:
Figure 3. Klasifikasi Umum Gaya Belajar Siswa Kelas 7 di SMPN 3 Lembang
Hasil Asesmen Non-Kognitif Aspek Gaya Belajar Siswa Kelas 7 SMPN 3 Lembang
Adapun berdasarkan hasil asesmen tes diagnostik non-kognitif yang dilakukan oleh tim Guru BK SMPN 3 Lembang terhadap 318 siswa (Kelas 7D s.d. 7K) sebagai sampel penelitian hasilnya ialah sebagai berikut:
Figure 4. Hasil Asesmen Diagnostik Non-Kognitif Gaya Belajar Siswa Kelas 7 di SMPN 3 Lembang
Adapun gambaran secara prosentase dengan menggunakan rumusan prosentase (%) dapat dilihat sebagai berikut:
Figure 5. Prosentase Hasil Asesmen Diagnostik Non-Kognitif Gaya Belajar Siswa Kelas 7 di SMPN 3 Lembang
Berdasarkan hasil asesmen diagnostik non-kognitif gaya belajar siswa kelas 7 di SMPN 3 Lembang tahun pelajaran 2023/2024 diketahui bahwa dominasi gaya belajar yang paling banyak ialah jenis gaya belajar visual. Hal demikian diperkuat pula oleh penelitian yang dilakukan oleh Bire et al. (2014) dimana gaya belajar visual siswa memberikan dampak positif terhadap prestasi belajar sebesar 26,4%. Kemudian hal senada ditunjukkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Himmah & Nugrahaeni (2023) dimana hasil penelitiannya menunjukkan gaya belajar yang paling dominan ialah visual dengan prosentase 47%, auditori 31%, dan kinestetik 21%.
Gaya belajar visual lebih mendominasi gaya belajar lainnya bukan tanpa sebab, mengapa? Karena anak merupakan peniru yang ulung sehingga dalam pandangan peneliti bahwa sudah menjadi fitrahnya bila siswa melihat hal-hal yang baik, hal tersebut juga pernah dicontohkan oleh Rosululloh saat beliau di utus oleh Allah kepada kaum qurois kala itu sebagai pendidik (Nurhuda, 2023a). Sementara itu tokoh terkenal Ki Hajar Dewantara, menjelaskan beberapa kata yang terkenal sudah menjadi semboyan pendidikan Indonesia yakni Ing Ngarso Sung Tulada dimana seorang pendidik haruslah menjadi contoh teladan bagi para muridnya. Selain indonesia memiliki semboyan pendidikan tersebut, ia juga memiliki asas dan koridor hukum yaitu pancasila dan UUD 1945 terkait pendidikan dan segala sistem yang berkaitan dengan nya termasuk di dalamnya pendidik (Nurhuda, 2023c). Karena seluruh tindak tanduk pendidik dimulai dari ujung rambut hingga kaki akan dilihat oleh anak-anak didik yang berikutnya ditiru oleh mereka di kehidupan sehari-hari. Adapun sebenaranya secara sains kesehatan apa-apa yang terlihat akan terekam, teringat, dan membekas dalam memori dimana pada episode berikutnya hal-hal baik tersebut akan dibawa sebagai bekal menuju tahap pendewasaan.
Conclusion and Recommendation
Gaya belajar merupakan petunjuk awal sekaligus gambaran kebutuhan belajar siswa yang perlu dipahami oleh pendidik dalam membimbing proses tumbuhkembang anak didik sesuai dengan minat, bakat, dan potensi diri tiap individu siswa masing-masing. Berdasarkan hasil asesmen diagnostik non-kognitif gaya belajar siswa kelas 7D sampai dengan kelas 7K yang telah dilakukan di SMPN 3 Lembang pada tahun pelajaran 2023/2024 oleh tim dari Guru Bimbingan Konseling (BK) dapat diketahui secara umum bahwa para siswa memiliki gaya belajar visual yang sangat dominan sebesar 46%, lalu kinestetik 40%, dan sisanya auditori yang hanya 14%. Oleh karenanya sangat disarankan bagi para pendidik ataupun pihak lainnya yang memang berkecimpung di dalam dunia pendidikan untuk mempergunakan model, metode, dan media pembelajaran yang dapat merangsang visual dari siswa agar mereka senang belajar. Apalagi dengan dimulai dengan banyak diterapkannya kurikulum merdeka belajar pada lembag-lembaga pendidikan di Indonesia memberikan keluasaan kepada pendidik untuk bersama-sama belajar dengan siswa. Misalnya saja penggunaan metode demonstrasi, presentsai, unjuk bakat, observasi alam/lingkungan sekitar, dan lain sebagainya.
References
Publisher’s Note
Utan Kayu Publishing maintains a neutral stance regarding territorial claims depicted in published maps and does not endorse or reject the institutional affiliations stated by the authors.
