Abstract
Kelekatan memberikan peran terhadap perkembangan emosi anak di kemudian hari karena kelekatan bukan sekedar pengalaman personal yang terjadi pada seorang anak, tetapi dipengaruhi oleh pikiran dan emosi dalam menyikapi pengalaman tersebut. Karenanya, penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui hubungan antara kesibukan orang tua dengan pembentukan kelekatan aman pada anak usia remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode kuantitatif dengan melakukan teknik penyebaran kuesioner terhadap orang tua sebanyak 83 responden yang meliputi para ibu pekerja, ibu rumah tangga, dan kegiatan sosial serta memiliki anak remaja dengan rentang umur sekitar 12-21 tahun. Pengambilan analisis data dilakukan dengan bantuan sistem komputerisasi pada program Jamovi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa korelasi dari dua variabel yakni pembentukan kelekatan pada anak usia remaja dengan kesibukan orang tua tidak menunjukkan adanya hubungan linear. Artinya, tidak adanya hubungan antara pembentukan kelekatan pada anak usia remaja dengan kesibukkan orang tua. Hasil penelitian ini didukung oleh uji korelasi yang menunjukkan nilai korelasi (r) negatif sebesar -0.039, yang menunjukkan tidak adanya korelasi yang antara kedua variabel tersebut.
Abstract: Attachment plays a role in children's future mental and emotional growth because attachment is not simply a personal experience that occurs to a young person but is also influenced by the kid's ideas and emotions as they respond to the experience. As a result, the purpose of this study is to investigate whether or not parents' level of engagement is related to the development of a healthy attachment in adolescent and teenage children. This study employed a quantitative method approach, distributing questionnaires to 83 respondents who were housewives, working mothers, and those who were involved in social activities where they had children ranging in age from about 12 to 21 years old. Data analysis was done using a computerized system, namely Jamovi. The findings demonstrated no linear link between the two variables' correlation: attachment formation between adolescents and busy working parents. The findings of this research are backed by a correlation test which reveals a negative correlation value (r) of -0.039. This number indicates no association between the two variables, consistent with the study's findings.
Introduction
Seorang anak tidak akan pernah lepas dari kelekatan orang tua. Fenomena yang terjadi saat ini adalah banyaknya kasus kriminal yang dilakukan pada anak seperti melakukan bunuh diri yanng disebabkan beberapa alasan, karena dimarahi orang tua, rindu ibu yang sudah meninggal dan akibat perceraian orang tua. Berdasarkan apa yang telah kami amati bahwasanya pentingnya kelekatan antara anak dan orang tua. Sehingga tujuan dari penelitian kami ini untuk mengetahui hubungan antara kesibukan orang tua dengan pembentukan kelekatan aman pada anak (Daulay et al., 2023).
Kelekatan memberikan peran terhadap perkembangan emosi anak di kemudian hari karena kelekatan bukan sekedar pengalaman personal yang terjadi pada bayi, tetapi dipengaruhi oleh pikiran dan emosi dalam menyikapi pengalaman tersebut. Banyak penelitian yang mempelajari arti penting tentang kelekatan (attachment) dalam perkembangan individu (Khaeruddin & Ridfah, 2020). Menurut Rahmatunnisa (2019), peran keluarga tidak hanya menyangkut pemenuhan dari segala kebutuhan yang bersifat biologis saja, akan tetapi juga kebutuhan psikologis dan sosiologis yang wujudnya adalah terjalinnya kelekatan yang aman anak dengan orang tua.
Pilar terpenting untuk mengembangkan mental-emosional dan mental intelektual anak adalah pengalaman sehari- hari yang menyenangkan bersama orang tua, cara orang tua menanamkan nilai-nilai pada anak, dan bagaimana orang tua menampilkan diri sebagai contoh kepada anak (Rianawati, 2014). Perilaku yang berdasarkan pada nilai-nilai moral akan membantu anak untuk mengembangkan kemampuan sosialnya, sehingga anak dapat beradaptasi dengan aturan-aturan dan norma yang berlaku di masyarakat, membangun perilaku untuk menjadi individu yang mandiri, membangun rasa percaya terhadap orang lain, menerima dan dapat percaya diri terhadap perbedaan, mengekspresikan emosi secara tepat dan positif, juga dapat menunjukan sikap sopan dan santun (Maulida et al., 2017).
Pada kenyataannya saat ini, peran orang tua sebagai pembimbing pertama dan utama mulai terabaikan. Hubungan kedekatan antara orang tua dan anak adanya kecenderungan mulai berkurang, tidak heran jika banyak anak yang lari dari keluarga untuk mencari jati dirinya, yang pada akhirnya tidak menutup kemungkinan anak mencoba untuk melakukan hal-hal negatif yang dapat membahayakan masa depan mereka, dan juga merugikan orang lain (Nuraeni et al., 2022; Sari et al., 2018). Anak- anak yang gagal dalam mengembangkan kemampuan sosialnya, akan mengalami banyak masalah dalam kehidupan sosialnya, yang dapat mengakibatkan mereka akan tersisih secara sosial, bahkan perilaku anak cenderung berlawanan dengan norma-norma yang berlaku, yang jika tidak ditangani dengan serius, bisa mengakibatkan menjadi pelaku kriminal(Bagaskoro, 2020) .
Anak-anak yang memiliki kelekatan yang baik pada orang tuanya akan memiliki pandangan yang baik terhadap orang lain dan memandang dirinya sendiri serta anak-anak ini memiliki kepercayaan diri yang lebih untuk meraih keberhasilan hidupnya. Dampak positif yang dapat dirasakan oleh orang tuanya adalah mempunyai interaksi yang baik dengan orang tuanya, dapat menumbuhkan rasa percaya diri, membuat anak mudah beradaptasi, mampu mengembangkan diri pada lingkungannya, serta dapat menumbuhkan kemampuan kognitif pada anak. Adapun dampak negatifnya adalah anak mudah mengalami kecemasan untuk berpisah, cenderung bergantung pada orang tua, menuntut perhatian, serta cemas ketika bereksplorasi dalam lingkungan (Maulida et al., 2017).
Dari sini dapat dipahami bahwa secure attachment merupakan interaksi yang terbentuk antara dua orang. Dimana orang tua menjadi panutan yang penyayang serta tanggap terhadap kebutuhan anak sehingga anak dapat mengembangkan rasa percaya tidak hanya pada ibu dan lingkungan. Hal ini akan membuat anak berani dan mudah mengeksplorasi lingkungan sekitarnya sekalipun saat ibunya tidak ada, karena anak sudah memiliki rasa percaya akan kasih sayang dan dorongan ibunya untuknya. Setidaknya terdapat tiga aspek yang mempengaruhi tingkatan kelekatan yaitu kepercayaan (trust) komunikasi, dan pengasingan (alienation) (Junitasyar & Satwika, 2022).
Kepercayaan adalah perasaan aman dan keyakinan yang dimiliki seseorang terhadap orang lain untuk membantu dan memenuhi kebutuhannya. Kepercayaan berasal dari munculnya hubungan yang kuat. Yang mana dalam kepercayaan, hal yang bisa dilakukan oleh orang tua ialah orang tua tetap mengontrol aktivitas anak dalam pergaulan baik di lingkungan sekolah atau sekitar, sehingga orang tua selalu melibatkan anak dalam pengambilan keputusan, menyelesaikan konflik dengan baik, menghargai serta menghormatinya (Junitasyar & Satwika, 2022).. Komunikasi merupakan salah satu elemen penting yang dapat digunakan untuk mengurangi rasa ketidakpastian, mempertahankan ataupun memperkuat ego seseorang, dan menjadi cara untuk bertindak lebih efektif (Sari et al., 2018).
Komunikasi yang terjalin dengan lancar merupakan salah satu aspek yang dapat membantu memfasilitasi terciptanya ikatan emosional yang kuat pada saat anak bayi dengan orang tuanya. Saat masa remaja, anak mencari kedekatan serta kenyaman dari orang tua dalam bentuk nasehat ketika mereka merasa membutuhkan. Komunikasi yang baik antara orang tua dan anak dapat membuatnya menjadi seorang yang terbuka dan siap menceritakan apapun yang sedang ia alami. Tetapi dalam membuat komunikasi yang baik, peran orang tua sangat diperlukan untuk dapat membimbing anak agar terbuka padanya (Juwariyah et al., 2019).
Keterasingan dalam psikologi sosial digunakan untuk menggambarkan individu yang merasa asing dengan dirinya sendiri serta menghindari lingkungannya, sehingga menyebabkan individu berperilaku seperti bermusuhan dengan orang lain atau masyarakat sekitarnya (Marandika, 2018). Ketika individu memiliki perasaan keterasingan atau individu merasa bahwa tokoh lekat tidak ada, maka individu akan merasa kurang aman (Rohmah et al., 2020). Perasaan asing yang muncul pada anak dapat terjadi bila orang tua kurang tanggap atau responsif dan tidak percaya terhadap apa yang dilakukan oleh anaknya (Sari et al., 2018).
Methods
Penelitian ini merupakan penelitian berjenis kuantitatif dengan uji korelasi hubungan antara variabel terikat dengan variabel bebas. Penelitian ini menggunakan teknik penyebaran kuesioner terhadap orang tua sebagai responden penelitian yang meliputi para ibu pekerja, ibu rumah tangga, dan ibu yang aktif dalam kegiatan sosial serta memiliki anak remaja dengan rentang umur sekitar 12-21 tahun. Jumlah total sampel pada penelitian ini sebanyak 83 responden.
Metode pengumpulan data dengan menggunakan dua alat ukur pada setiap variabelnya. Pada variabel kesibukan orang tua, metode pengumpulan data adalah dengan menggunakan skala MPED (Martin and Park Environmental Demands) sebagaimana yang disusun oleh Martin dan Park (2003). Bentuk skala yang digunakan adalah skala likert 5 point (1 = Tidak sibuk sama sekali, 2 = Jarang sibuk, 3 = Agak sibuk, 4 = Sangat sibuk, dan 5 = Sangat sangat sibuk) dengan skor kesibukan rata-rata dihitung, dimana skor yang lebih tinggi sesuai dengan tingkat kesibukan yang dirasakan pada hari-hari biasa.Jumlah item pada skala ini adalah 7 item dengan reliabilitas ? Cronbach = 0,88 (Martin & Park, 2003).
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan pada variabel kelekatan pada anak usia remaja adalah dengan menggunakan skala kelekatan aman berdasarkan teori Armsden dan Greenberg (2009). Bentuk skala yang digunakan adalah Skala likert 5 point (1= tidak pernah, 2= jarang, 3= kadang, 4= sering dan 5= selalu) dengan skor semakin tinggi total skor yang diperoleh maka responden memiliki pola kelekatan aman dengan orang tua semakin rencah skor yang diperoleh, maka responden memiliki pola kelekatan tidak aman dengan orang tua. Jumlah item pada skala ini adalah 30 item dengan reliabilitas ? Cronbach = 0,934. Kemudian, analisis data dilakukan dengan menggunakan bantuan sistem komputerisasi pada program Jamovi.
Results and Discussion
Berdasarkan pengumpulan data yang kami lakukan melalui penyebaran kuesioner pada orang tua yang memiliki kesibukan baik pekerjaan, ibu rumah tangga, dan kegiatan sosial serta memiliki anak remaja dengan kisaran umur 12- 21 tahun, diperoleh responden sebanyak 83. Sebanyak 52 responden atau 62.7% adalah perempuan dan 31 responden atau 37.3% adalah laki-laki. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada gambar tabel 1 di bawah.
| Jenis Kelamin | Counts | % of Total | Cumulative % |
| Perempuan | 52 | 62.7 % | 62.7 % |
| Laki-laki | 31 | 37.3 % | 100.0 % |
| Usia | Counts | % of Total | Cumulative % |
| 33 | 1 | 1.2 % | 1.2 % |
| 35 | 1 | 1.2 % | 2.4 % |
| 36 | 1 | 1.2 % | 3.6 % |
| 38 | 1 | 1.2 % | 4.8 % |
| 39 | 2 | 2.4 % | 7.2 % |
| 40 | 2 | 2.4 % | 9.6 % |
| 41 | 3 | 3.6 % | 13.3 % |
| 42 | 6 | 7.2 % | 20.5 % |
| 43 | 6 | 7.2 % | 27.7 % |
| 44 | 2 | 2.4 % | 30.1 % |
| 45 | 4 | 4.8 % | 34.9 % |
| 46 | 8 | 9.6 % | 44.6 % |
| 47 | 6 | 7.2 % | 51.8 % |
| 48 | 4 | 4.8 % | 56.6 % |
| 49 | 3 | 3.6 % | 60.2 % |
| 50 | 5 | 6.0 % | 66.3 % |
| 51 | 4 | 4.8 % | 71.1 % |
| 52 | 5 | 6.0 % | 77.1 % |
| 53 | 6 | 7.2 % | 84.3 % |
| 54 | 4 | 4.8 % | 89.2 % |
| 55 | 3 | 3.6 % | 92.8 % |
| 56 | 3 | 3.6 % | 96.4 % |
| 58 | 1 | 1.2 % | 97.6 % |
| 60 | 1 | 1.2 % | 98.8 % |
| 62 | 1 | 1.2 % | 100.0 % |
Berdasarkan pada data tabel 2 terkait frekuensi usia diatas, diperoleh hasil data responden yang didominasi oleh usia 46 tahun sebanyak 8 orang responden dengan persentase sebesar 9,6%. Selanjutnya, pada usia 42, 43, 47, dan 53 tahun sebanyak 6 orang responden atau 7,2%. Lalu pada usia 50 dan 52 tahun sebanyak 5 orang responden atau 6,0%. Kemudian, pada usia 45, 48, 51, dan 54 tahun sebanyak 4 orang respon atau 4,8%. Pada usia 41, 49, 55, dan 56 tahun sebanyak 3 orang responden atau 3,6%. Pada usia 39, 40, dan 44 tahun sebanyak 2 orang responden atau 2,4%. Dan yang terakhir ada pada usia 33, 35, 36, 38, 58, 60 dan 62 tahun sebanyak 1 orang responden di tiap masing-masing usianya, dengan persentase 1,2%. Hal ini menunjukkan bahwa Responden terbanyak ada pada usia 46 tahun dan responden yang berjumlah sedikit ada pada usia 33, 35, 36, 38, 58, 60 dan 62 tahun.
Tabel 3 menunjukkan hasil data responden berdasarkan pekerjaan yaitu sebanyak 22 responden atau 26.5% memiliki kesibukan sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT), 39 responden atau 47.0% memiliki kesibukan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan 22 responden atau 26.5% memiliki kesibukan sebagai pekerja swasta. Karakteristik responden berdasarkan jenis pekerjaan dapat dilihat pada gambar diatas.
Selanjutnya, melalui semua hasil data yang kami peroleh di atas, kami melakukan uji asumsi dengan menguji normalitas data penelitian ini dengan menggunakan uji shapiro wilk P yang dilakukan dalam program komputerisasi Jamovi. Kesimpulan dari hasil uji normalitas yang telah dilakukan adalah sebagai berikut :
- Jika nilai signifikansi >0,05, maka dapat disimpulkan bahwasanya data terdistribusi secara normal.
- Jika nilai signifikansi <0,05, maka dapat disimpulkan bahwasanya data tidak terdistribusi secara normal
| Pekerjaan | Counts | % of Total | Cumulative % |
| IRT | 22 | 26.5 % | 26.5 % |
| PNS | 39 | 47.0 % | 73.5 % |
| Swasta | 22 | 26.5 % | 100.0 % |
| Usia | Jenis Kelamin | Pekerjaan | Kelekatan | Kesibukan | |
| N | 83 | 83 | . | 83 | 83 |
| Missing | 100 | 100 | . | 100 | 100 |
| Mean | 47.6 | 2.37 | . | 84.9 | 21.6 |
| Median | 47 | 2 | . | 86.0 | 21.0 |
| Standard deviation | 5.79 | 0.487 | . | 6.48 | 4.93 |
| Minimum | 33 | 2 | . | 68.0 | 9.00 |
| Maximum | 62 | 3 | . | 95.0 | 33.0 |
| Skewness | -0.0490 | 0.533 | . | -0.577 | -0.0611 |
| Std. error skewness | 0.264 | 0.264 | . | 0.264 | 0.264 |
| Kurtosis | -0.230 | -1.76 | . | -0.167 | -0.347 |
| Std. error kurtosis | 0.523 | 0.523 | . | 0.523 | 0.523 |
| Shapiro-Wilk W | 0.992 | 0.613 | . | 0.961 | 0.988 |
| Shapiro-Wilk p | 0.868 | < .001 | . | 0.014 | 0.670 |
| Kelekatan | Kesibukan | ||
| Kelekatan | Spearman's rho | — | |
| p-value | — | ||
| Kesibukan | Spearman's rho | -0.039 | — |
| p-value | 0.724 | — | |
Berdasarkan pada Gambar 4, hasil dari uji normalitas variabel kelekatan diperoleh nilai sebesar p=0,014 p<0,05 dan variabel kesibukan diperoleh nilai sebesar p=0,670 p>0,05. Hasil tersebut menunjukan bahwasanya satu dari kedua variabel tersebut tidak memiliki signifikansi lebih dari 0,05 atau dapat dikatakan variabel berdistribusi secara tidak normal.
Teknik uji korelasi yang kami gunakan menggunakan uji korelasi spearman dikarenakan data terdistribusi secara tidak normal yang dapat dilihat pada Gambar 5. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwasanya tidak terdapat korelasi antara variabel pembentukan kelekatan pada anak usia remaja dengan variabel kesibukan orang tua yang ditunjukkan dengan nilai p 0.724 > dari 0.05 dan nilai r = -0,039.
Tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara variabel pembentukan kelekatan pada anak usia remaja dengan variabel kesibukan orang tua. Hipotesis penelitian ini adalah terdapat hubungan positif antara kelekatan aman pada anak remaja dengan kesibukan orang tua yakni semakin sibuk orang tua maka akan semakin rendah kelekatan aman pada anak remaja mereka. Hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan hipotesis yaitu tidak terdapat hubungan antara variabel pembentukan kelekatan pada anak usia remaja dengan variabel kesibukan orang tua. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwasanya hipotesis ditolak.
Orang tua yang memiliki kesibukan dan tetap dapat memiliki kelekatan aman pada anak, mereka masih bisa memelihara hubungan emosional yang kuat dengan anak remaja mereka melalui beberapa cara. Walaupun mungkin waktu bersama terbatas, kualitas interaksi menjadi kunci penting dalam membangun ikatan yang erat. Komunikasi terbuka, saling memahami perasaan, dan memberikan dukungan pada minat serta prestasi anak adalah elemen penting lainnya (Maulida et al., 2017). Orang tua juga dapat mencurahkan perhatian dan dukungan emosional melalui pesan atau panggilan, meskipun tidak selalu dapat hadir secara fisik. Penting untuk menghormati batas-batas remaja dan memberi mereka ruang untuk berkembang sebagai individu yang mandiri. Jika muncul rasa bersalah karena keterbatasan waktu, orang tua perlu menghadapinya dengan efektif agar tidak menghalangi pembangunan kelekatan yang aman dengan anak remaja. Meskipun setiap keluarga memiliki tantangan unik, dengan kesadaran dan upaya, orang tua yang sibuk tetap dapat memperkuat hubungan emosional yang positif dengan anak remaja mereka (Sari et al., 2018).
Conclusion and Recommendation
Kelekatan yang terjadi antara orang tua dan anak dapat memberikan berbagai manfaat pada anak. Adanya kelekatan yang terbentuk antara orang tua dan anak dapat menjadi fasilitas dalam kecakapan dan kesejahteraan sosial pada anak seperti harga diri, penyesuaian emosi, dan kesehatan fisik. Adanya kelekatan pada orang tua dan anak juga dapat membantu anak dalam menghadapi adaptasi pada lingkungan yang baru. Hal ini karena orang tua memiliki peranan yang sangat penting dalam mengasuh, membimbing, dan menjadi pengaruh terbesar pada perilaku perkembangan anak. Walau demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa tidak adanya hubungan linear antara pembentukan kelekatan pada anak usia remaja dengan kesibukkan orang tua. Hal ini didukung oleh uji korelasi yang menunjukkan nilai korelasi (r) negatif sebesar -0.039, yang menunjukkan tidak adanya korelasi yang antara kedua variabel tersebut yaitu kelekatan pada anak usia remaja dan kesibukan orang tua.
References
Publisher’s Note
Utan Kayu Publishing maintains a neutral stance regarding territorial claims depicted in published maps and does not endorse or reject the institutional affiliations stated by the authors.
