(2) Joko Kuncoro
*corresponding author
AbstractPemaafan diri merupakan sebuah kesatuan proses untuk memotivasi diri agar mampu untuk menerima rangsangan yang menyakitkan dengan melakukan perubahan perilaku. Memaafkan diri diperlukan untuk dapat melepaskan emosi negatif terhadap kesalahan yang pernah dilakukan. Pemaafan diri dapat terjadi karena adanya dorongan dari dalam diri agar tidak terus terjebak dalam kesalahan yang pernah diperbuat. Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam mengenai pemaafan diri pada mantan homoseksual (lesbian), meneliti tahapan-tahapan pemaafan diri yang telah dilalui oleh subjek, dan faktor-faktor yang mendorong subjek untuk berubah menjadi mantan lesbian. Penelitian ini menggunakan mentode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara mendalam dengan wawancara semi terstruktur serta dokumentasi. Subjek dalam penelitian ini sebanyak tiga responden yang diperoleh melalui metode purposive sampling. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa 3 subjek telah melalui tahapan-tahapan pemaafan diri yaitu uncovering phase, decision phase, work phase, dan outcame phase, namun pada subjek 2 belum sepenuhnya berada pada uncovering phase hal ini dapat dilihat dari subjek yang masih merasa bahwa yang terjadi dimasa lalu subjek tidak sepenuhnya salah, serta subjek belum dapat terlepas dari masa lalu subjek serta belum menerima sepenuhnya bahwa subjek telah berubah menyukai laki-laki, namun subjek memiliki keinginan untuk berubah dan tidak ingin kembali menjadi lesbian. Faktor yang mempengaruhi ketiga subjek untuk berubah menjadi mantan lesbian adalah faktor internal dari dalam diri subjek serta adanya faktor eksternal yaitu keluarga. Selain itu terdapat hambatan yang dirasakan subjek ketika proses berubah dan memaafkan, yaitu ada dalam diri subjek sendiri seperti menahan diri dan emosi yang subjek rasakan. Keywordshomosexual; Lesbian; Self-forgiveness; Kualitatif
|
DOIhttps://doi.org/10.47679/jopp.311022021 |
Article metricsRead: 1563 | Download: 1004 |
Cite |
Full Text Download
|
References
Bono, G., McCullough, M. E., & Root, L. M. (2008). Forgiveness, feeling connected to others, and well-being: Two longitudinal studies. Personality and Social Psychology Bulletin, 34(2), 182–195. https://doi.org/10.1177/0146167207310025
Creswell, J. (2007). Creswell, J . W . ( 2007 ). Qualitative inquiry and research design : Choosing among five approaches ( 2 Edition ). Thousand Oaks : Sage . Qualitative Inquiry.
Damayanti, R. (2015). Laporan kajian pandangan tokoh agama dan tokoh masyarakat terhadap lesbian, gay, biseksual, dan trangender (LGBT). Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Depok: Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia.
Empati, J., Juwita, V. R., & Kustanti, E. R. (2018). Hubungan Antara Pemaafan Dengan Kesejahteraan Psikologis Pada Korban Perundungan. Empati, 7(1), 274–282.
Hall, J. H., & Fincham, F. D. (2005). Self-forgiveness: The stepchild of forgiveness research. Journal of Social and Clinical Psychology, 24(5), 621-637. doi:10.1521/jscp.2005.24.5.621
Hasbiansyah, O. (2008). Pendekatan Fenomenologi: Pengantar Praktik Penelitian dalam Ilmu Sosial dan Komunikasi. Mediator: Jurnal Komunikasi, 9(1), 163–180. https://doi.org/10.29313/mediator.v9i1.1146
Lexy J. Moleong, D. M. A. (2019). Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). PT. Remaja Rosda Karya. https://doi.org/10.1016/j.carbpol.2013.02.055
Manafe, R. P. (2014). Hubungan rasa bersalah dan pemaafan diri pada narapidana.
Oetary, R. (2018). Hubungan antara pemaafan dengan psychological well-being pada mahasiswa fakultas psikologi universitas muhammadiyah surakarta. In Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Rengganis, S. (2019). Maaf : Sebuah kisah tetang bagaimana memaaafkan mampu membuat hidup lebih bahagia dan penuh makna. Yogjakarta: Psikologi Corner.
Setiyo, T., & Kusumaningsih, L. S. (2018). Konflik religiusitas pada homoseksual: Studi fenomenologi Gay yang bekerja sebagai massage escort. Proyeksi, 13(2), 197-207.
Terreri, C. J., Dayke, V., & Elias, M. J. (2007). How forgiveness, purpose, and religiosity are related to the mental health and well-being of youth: A review of the literature. Mental Health, Religion, and Culture, 10(4), 395-415. doi:10.1080/13674670600841793
Thompson, L., Synyder, C., Hoffman, L., Michael, S., Rasmussen, H., Billings, L., & Roberts, D. (2005). Dispositional forgiveness of self,others, and situation. Journal of Personality, 73(2), 313-359. doi:10.1111/j.1467-6494.2005.00311.x
Throckmorton, W. (2002). Initial Empirical and Clinical Findings Concerning the Change Process for Ex-Gays. Professional Psychology: Research and Practice, 33(3), 242–248. https://doi.org/10.1037/0735-7028.33.3.242
Van Dyke, C. J., & Elias, M. J. (2007). How forgiveness, purpose, and religiosity are related to the mental health and well-being of youth: A review of the literature. Mental Health, Religion and Culture, 10(4), 395–415. https://doi.org/10.1080/13674670600841793
Veriyanto, M., & Karyono, K. (2013). Pemaafan Pada Manta Pecandu Narkoba Di Balai Rehabilitasi. Empati: Jurnal Karya Ilmiah S1 Undip.
Refbacks
Copyright (c) 2021 Annisa Hidayati

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

All publications by the Utan Kayu Publishing [e-ISSN: 2715-4807, p-ISSN: 2715-4785] is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.












Download